
INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) meluncurkan inovasi ITB Smart-Nursery Backpack atau Ransel Cerdas untuk Persemaian Rotan Lestari di Hutan Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
Inovasi ini hadir untuk menekan tingginya angka kegagalan pembibitan rotan pada fase perkecambahan dan pertumbuhan awal.
Tingkat keberhasilan hidup bibit rotan di habitat alami selama ini terbilang sangat rendah, yakni tidak melebihi 5 persen.
Tingginya angka kegagalan tersebut umumnya dipicu oleh biji yang sulit berkecambah, serangan hama, serta tingginya tekanan lingkungan pada bibit muda.
Ketua Tim Pelaksana ITB, Acep Purqon, menjelaskan bahwa Ransel Cerdas dirancang sebagai unit persemaian portabel berbasis konsep Forest-to-Home. Teknologi ini memungkinkan masyarakat merawat bibit rotan langsung dari rumah sebelum memindahkannya kembali ke kawasan hutan.
“Kami merancang Ransel Cerdas agar dapat dikendalikan secara otomatis melalui aplikasi smartphone. Dengan begitu, petani dapat mengawal proses perkecambahan dan perawatan bibit pada fase kritis tiga bulan pertama secara optimal,” ujar Acep dalam siaran pers yang Media Indonesia terima, Sabtu (25/7).
Ransel Cerdas berkapasitas 50 hingga 100 bibit ini diproduksi menggunakan teknologi 3D printing di Furniture & Living Lab FSRD ITB. Unit portabel tersebut telah dilengkapi berbagai fitur canggih, seperti sistem penyiraman otomatis, sensor kelembapan udara dan tanah, lampu ultraviolet (UV), serta pelindung fisik dari serangan hama.
Program berbasis kolaborasi lintas fakultas ITB (FMIPA, FSRD, dan SITH) ini melibatkan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nupabomba, Pemerintah Desa, komunitas petani, serta PT Bamba Rattan Furniture sebagai mitra industri.
Dosen FSRD ITB, Deny Willy Junaidy, menambahkan bahwa keterlibatan sektor industri sangat krusial untuk menjamin keberlanjutan alih pengetahuan dari hulu ke hilir.
“Kehadiran PT Bamba Rattan Furniture memastikan proses transfer ilmu berjalan utuh, mulai dari komunitas petani di hulu hingga mitra usaha di hilir,” jelas Deny.
Melalui penerapan model persemaian ini, ITB berharap regenerasi tanaman rotan di Sulawesi Tengah dapat meningkat pesat. Selain menjaga kelestarian hutan, program ini diharapkan turut memperkuat perekonomian masyarakat lokal lewat keterlibatan aktif dalam rantai pembibitan. (H-2)
