
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menyatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) mulai mendorong peningkatan biaya dana (cost of fund) perusahaan. Meski demikian, penyesuaian suku bunga kredit kepada konsumen akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan daya beli masyarakat.
Sejak Mei lalu, BI mengerek suku bunga acuan sebanyak 100 basis poin, dari 4,75% yang bertahan sejak September 2025 hingga April 2026 menjadi 5,75% pada Juni 2026. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026, BI kemudian memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%.
Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), I Dewa Made Susila, mengatakan biaya dana perseroan telah mengalami kenaikan sehingga secara bisnis perlu diteruskan kepada nasabah melalui penyesuaian suku bunga kredit.
“Kalau dari biaya dana, biaya dana Adira sudah mulai meningkat sehingga seharusnya kami melakukan pass through kepada nasabah,” ujar Dewa Made dalam konferensi pers paparan kinerja Semester I 2026 Danamon Group, Kamis.
Namun demikian, menurut dia, keputusan menaikkan lending rate tidak hanya didasarkan pada kenaikan biaya dana. Perseroan juga mempertimbangkan kondisi daya beli konsumen dan tingkat persaingan di industri pembiayaan.
Daya beli, jelasnya, menjadi pertimbangan utama Adira dalam menentukan suku bunga kredit karena segmen perseroan didominasi konsumen menengah hingga menengah bawah.
Sementara itu, terkait tingkat persaingan, ia mengatakan di beberapa segmen memang masih banyak pemain yang belum menaikkan suku bunga.
“Tapi saya percaya bahwa kenaikan suku bunga eventually akan terjadi over time, karena memang semua multifinance company menghadapi hal yang sama, yaitu kenaikan biaya dana,” ujarnya.
Di sisi lain, Adira Finance masih melihat penjualan kendaraan pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan data internal perusahaan, penjualan sepeda motor baru secara ritel meningkat sekitar 10% dibandingkan semester pertama 2025, sedangkan penjualan mobil baru secara ritel tumbuh sekitar 11%.
Meski demikian, Dewa memperkirakan prospek industri otomotif pada semester II 2026 akan lebih menantang dibandingkan enam bulan pertama tahun ini.
Menurut dia, kenaikan biaya dana berpotensi meningkatkan cicilan konsumen. Selain itu, kenaikan biaya produksi dan pelemahan nilai tukar rupiah juga diperkirakan mendorong kenaikan harga kendaraan.
“Jadi kelihatannya situasinya lebih challenging dibandingkan dengan semester pertama,” ujarnya.
