
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengapresiasi peluncuran aplikasi Bungo Pintar yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bungo. Inovasi tersebut, menurut Wamen Fajar, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong transformasi pembelajaran digital di daerah.
Hal itu disampaikan Fajar saat menghadiri peluncuran Bungo Pintar di Kantor Bappeda Kabupaten Muara Bungo, Jambi, Jumat (7/8/2026).
“Kami memberikan apresiasi dan dukungan atas inisiatif Bapak Bupati menghadirkan aplikasi Bungo Pintar. Kami berharap aplikasi ini membantu peserta didik mengakses materi ajar yang berkualitas sekaligus memudahkan Dinas Pendidikan memantau layanan pendidikan,” kata Wamen Fajar.
Semakin banyaknya sumber belajar digital yang dikembangkan di daerah, lanjut Fajar, akan memperkaya akses peserta didik dan guru terhadap materi pembelajaran yang lebih variatif. Wamen Fajar mengatakan transformasi digital juga didukung melalui penyaluran 374 Papan Interaktif Digital (PID) di Kabupaten Bungo. Secara keseluruhan, Provinsi Jambi telah menerima 4.533 unit PID, dan jumlahnya masih berpeluang bertambah.
“Kita di Kemendikdasmen ingin membangun ekosistem pembelajaran yang baik. Sekolahnya kita benahi, perangkat pembelajarannya kita bantu, sehingga proses belajar-mengajar semakin berpihak kepada peserta didik,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Inovator Bungo Pintar sekaligus Kepala SD Negeri 13 Sumber Mulya, Baskoro Pandu Aji, mengatakan aplikasi tersebut dibangun untuk menghubungkan peserta didik, guru, sekolah, orang tua, dan Dinas Pendidikan dalam satu ekosistem digital.
“Dengan ekosistem ini, Dinas Pendidikan memiliki data riil yang dapat menjadi dasar dalam menyusun kebijakan. Pada tahap awal, Bungo Pintar ditujukan untuk jenjang TK, SD, dan SMP, namun ke depan tidak menutup kemungkinan dikembangkan hingga SMA,” kata Baskoro.
Tinjau Pelaksanaan Sekolah PJJ
Di sela kunjungannya di Sekolah Mitra Pendidikan Jarak Jauh di SMAN 1 Muara Bungo, Jambi (7/8), Wamen Fajar berdialog dengan para siswa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ); Ali Imron, Renaldi, dan Yuanita. Ketiga siswa PJJ ini berasal dari keluarga kurang mampu dan tidak bisa membiayai sekolahnya. Yuanita misalnya, ijazahnya masih ditahan karena terdapat tunggakan/hutang biaya sekolah, sehingga bertekad untuk menempuh PJJ.
Saat berdialog dengan Wamen Fajar, salah seorang peserta didik PJJ mengaku bersyukur dapat kembali mengenyam pendidikan melalui program tersebut.
“Saya berharap menjadi lebih baik dan mendapatkan ijazah. Saya berterima kasih kepada Bapak Menteri Pendidikan dan kepala sekolah karena telah memberikan saya kesempatan ikut sekolah ini,” ujar siswa tersebut.
Menanggapi hal itu, Wamen Fajar menegaskan bahwa lulusan PJJ memperoleh ijazah formal yang setara dengan SMA reguler sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ia juga mengapresiasi semangat salah seorang peserta didik yang tetap bersekolah sambil bekerja sebagai pencuci motor. Menurutnya, PJJ menjadi solusi bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan akses pendidikan karena kondisi ekonomi maupun faktor lainnya.
Selain itu, Fajar mengunjungi SD Negeri 107 Sungai Buluh yang menerima bantuan revitalisasi sekolah pada tahun lalu. Menurutnya, perbaikan fasilitas sekolah berdampak pada meningkatnya minat masyarakat menyekolahkan anak di sekolah tersebut.
“Dulu peserta didik baru sekitar 10 orang, sekarang mencapai 24 orang. Ini menunjukkan perbaikan fasilitas sekolah berkorelasi dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat,” pungkas Fajar. (RO/Z-2)
