
INDONESIA tengah berada di ambang transisi demografi yang signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, populasi lansia di tanah air telah menyentuh angka 12%dan diproyeksikan melonjak hingga lebih dari 20% pada 2045. Namun, di balik angka tersebut, tersimpan fakta mengkhawatirkan mengenai ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi masa tua.
Temuan ini terungkap dalam riset terbaru bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” yang diluncurkan DBS Foundation. Peluncuran ini dihadiri oleh Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI, Woro Srihastuti Sulistyaningrum; Artist & Founder Cinta Laura Foundation, Cinta Laura Kiehl; serta Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika.
Riset ini menyoroti transisi demografi Indonesia yang mulai memasuki fase ageing society, di mana 10 persen populasi telah berusia di atas 60 tahun. Data menunjukkan bahwa pada 2025, populasi lansia di Indonesia telah menyentuh angka 12 persen dan diprediksi melonjak hingga lebih dari 20 persen pada 2045 mendatang.
Tantangan Demografi dan Ekonomi
MI/HO—Peluncuran riset terbaru bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”
Perubahan struktur penduduk ini membawa konsekuensi besar terhadap beban ketergantungan. Menurunnya tingkat fertilitas dan meningkatnya harapan hidup mempersempit jendela bonus demografi Indonesia. Berikut adalah data kunci terkait pergeseran demografi dan kesiapan masyarakat yang dirangkum dari temuan riset:
| Indikator | Data / Proyeksi |
|---|---|
| Populasi Usia Produktif (2025) | 69% |
| Total Fertility Rate (TFR) 2024 | 2,13 (Proyeksi 1,97 di 2045) |
| Lansia Masih Bekerja | 55,32% (84,75% di sektor informal) |
| Ketergantungan Finansial Lansia | 82,96% bergantung pada keluarga bekerja |
| Kepemilikan Dana Pensiun | Hanya 5,37% |
Kesiapan Lintas Generasi
Mona Monika menekankan bahwa persiapan menghadapi populasi menua harus dimulai sejak usia produktif. DBS Foundation berkomitmen mendukung masyarakat rentan agar lebih tangguh secara sosial dan finansial melalui akses pendidikan, kesehatan, dan literasi keuangan.
Senada dengan hal tersebut, Cinta Laura Kiehl menyoroti pentingnya kemandirian melalui pendidikan. “Kemandirian di masa depan dibangun dari keinginan untuk terus belajar. Cinta Laura Foundation mendukung mahasiswa mengembangkan kapasitas diri agar siap membangun masa depan yang mereka inginkan,” ujar Cinta.
Dari sisi kebijakan, Woro Srihastuti Sulistyaningrum menjelaskan bahwa pemerintah menerapkan pendekatan life-course. Artinya, perhatian diberikan pada setiap fase kehidupan, mulai dari masa awal, pendidikan, hingga usia lanjut, guna membangun fondasi SDM yang berkualitas.
Ancaman Ketidaksiapan Finansial dan Sosial
Ketidaksiapan ini bukan sekadar masalah angka, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan kesejahteraan lintas generasi. Riset menunjukkan bahwa banyak orang belum memiliki perencanaan matang terkait aspek finansial, kesehatan, maupun kemandirian di masa tua. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan bagi generasi produktif di masa depan yang harus menanggung beban populasi lansia yang tidak mandiri.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menekankan bahwa tantangan utama bukan terletak pada jumlah lansia, melainkan pada bagaimana membangun kesiapan sejak dini. Tujuannya agar setiap individu dapat menua dengan sehat, produktif, dan sejahtera tanpa menjadi beban bagi pihak lain.
Peran Strategis Persiapan Sejak Usia Produktif
Dalam diskusi peluncuran riset tersebut, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menjelaskan bahwa isu populasi menua memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Melalui DBS Foundation, ditekankan pentingnya persiapan yang dimulai sejak usia produktif, terutama bagi masyarakat rentan.
Persiapan ini mencakup beberapa pilar utama, di antaranya:
- Peningkatan literasi dan inklusi keuangan untuk memastikan ketersediaan dana pensiun.
- Akses pendidikan dan ketenagakerjaan yang berkelanjutan.
- Jaminan kesehatan yang memadai untuk menjaga produktivitas di masa tua.
Senada dengan hal tersebut, Artist dan Founder of Cinta Laura Foundation, Cinta Laura Kiehl, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengajak generasi muda untuk mulai peduli pada isu ini. Menurutnya, kesadaran akan pentingnya kemandirian finansial dan kesehatan harus dibentuk jauh sebelum seseorang memasuki usia senja.
Catatan Penting: Data BPS 2025 menunjukkan bahwa kebutuhan dukungan terhadap populasi lansia akan terus meningkat. Tanpa persiapan yang matang dari sekarang, Indonesia berisiko menghadapi tantangan sosial-ekonomi yang berat saat memasuki puncak populasi menua di tahun 2045.
Sebagai langkah konkret, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator dalam kampanye “Pensiun Gak Susah”. Alat ini membantu individu memproyeksikan kebutuhan finansial masa tua berdasarkan gaya hidup, inflasi, dan target usia pensiun.
Riset ini menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, sektor swasta, maupun individu, untuk segera mengambil langkah nyata dalam memperkuat ketahanan sosial dan finansial demi masa depan yang lebih stabil. (Z-1)
