
NILAI tukar Rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026) terpantau bergerak melemah. Berdasarkan data perdagangan pukul 09.54 WIB, Rupiah turun 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.783 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan sebelumnya sebesar Rp17.758 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan ini didorong oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan bagi mata uang domestik menjelang agenda penting Bank Indonesia (BI).
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Rabu (23/9) ini,” ujar Lukman di Jakarta, Senin (21/9).
Dampak Kebijakan The Fed
Tekanan terhadap pasar uang global, termasuk Indonesia, meningkat setelah Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada Rabu (16/9/2026). Langkah ini tercatat sebagai kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023.
Proyeksi ekonomi terbaru dari para pejabat The Fed menunjukkan sinyal hawkish yang lebih kuat. Sebagian besar pejabat memperkirakan suku bunga kebijakan akan terus naik hingga mencapai kisaran 4 persen dan 4,25 persen pada akhir tahun 2026. Saat ini, The Fed masih menyisakan dua pertemuan lagi yang dijadwalkan pada akhir Oktober dan awal Desember 2026.
| Instrumen/Indikator | Posisi/Level |
|---|---|
| Kurs Rupiah (Pembukaan 21/9) | Rp17.783 per Dolar AS |
| Yield Obligasi AS 10 Tahun | 5% |
| Yield Obligasi AS 2 Tahun | 4,756% (Tertinggi sejak 2024) |
| Suku Bunga The Fed Saat Ini | 3,75% – 4,0% |
Menanti Keputusan Bank Indonesia
Di sisi domestik, pasar kini menantikan hasil RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026. Meskipun tekanan eksternal menguat, BI diperkirakan akan tetap menahan suku bunga acuan pada pertemuan Rabu (23/9) mendatang.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang masih bertahan di level 5 persen, serta tenor 2 tahun yang menyentuh 4,756 persen, diprediksi akan terus membatasi ruang penguatan Rupiah dalam jangka pendek. Untuk perdagangan hari ini, Rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dalam rentang Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS. (Ant/H-4)
