
TOKOH politik senior Prancis sekaligus pemimpin fraksi parlemen Partai Reli Nasional, Marine Le Pen, menyatakan bahwa negaranya saat ini tengah berada dalam situasi keuangan yang sangat pelik. Akibat kondisi tersebut, Prancis dinilai sudah tidak memiliki kapasitas finansial lagi untuk mengalokasikan bantuan dana bagi Ukraina.
“Kami (Prancis) tidak bisa lagi membantu Ukraina secara finansial. Kami tidak memiliki dana untuk itu. Bukan rahasia lagi bahwa Prancis saat ini berada dalam situasi keuangan yang sangat sulit,” ujar Le Pen dalam acara Politico Playbook Paris, Kamis (24/9) waktu setempat.
Pernyataan tersebut mencuat di tengah perdebatan domestik mengenai arah kebijakan luar negeri dan alokasi anggaran luar negeri Prancis. Pekan sebelumnya, Le Pen sempat melontarkan kritik tajam terhadap Moskow dengan menuding Rusia telah mengambil langkah yang merugikan kepentingan ekonomi Prancis.
Tuduhan itu dilayangkan menyusul keputusan pemerintah Rusia yang menempatkan aset ritel perusahaan Prancis Auchan, produsen makanan asal Swiss Nestle, serta grup logistik Prancis FM Logistic, termasuk kompleks pergudangan mereka, di bawah pengelolaan sementara pemerintah Rusia.
Kritik terbuka yang disampaikan oleh Marine Le Pen tersebut langsung memicu reaksi keras dari para pejabat tinggi Kremlin. Pada Senin (21/9/2026), Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, secara terbuka menanggapi pernyataan Le Pen.
Medvedev menilai bahwa Partai Reli Nasional yang dipimpin oleh Le Pen kini telah bergeser dan menjadi bagian dari partai-partai di Eropa pada umumnya yang bersikap russophobic atau menunjukkan fobia terhadap Rusia, di tengah dinamika hubungan geopolitik antara Moskow dan negara-negara Barat. (Ant/ Sputnik/RIA Novosti/P-4)
