Friday, October 2

Backlog Hunian 9 Juta Keluarga Jadi Tantangan Industri Properti


Kontribusi LippoLand terhadap kebutuhan yang lebih luas juga diwujudkan melalui penghibahan lahan seluas sekitar 30 hektare di kawasan Lippo Cikarang kepada negara.(Dok. LippoLand)

KEBUTUHAN hunian di Indonesia masih menjadi tantangan besar bagi industri properti. Dengan backlog kepemilikan rumah yang mencapai sekitar 9 juta keluarga, penyediaan hunian tidak hanya membutuhkan peran pengembang, tetapi juga dukungan perbankan, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem perumahan.

Kondisi tersebut turut mendorong pengembang untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan serta kemampuan masyarakat. Memasuki usia ke-39 di industri properti Indonesia, LippoLand menyatakan memperluas perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler, dengan memanfaatkan pengalaman yang dimiliki untuk menghadirkan solusi hunian di berbagai segmen.

CEO LippoLand David Iman Santosa mengatakan, perjalanan perusahaan selama hampir empat dekade membuat LippoLand tidak hanya melihat perkembangan industri properti dari sisi pembangunan kawasan, tetapi juga berupaya memahami kebutuhan masyarakat.

“Selama 39 tahun, LippoLand tumbuh bersama Indonesia. Karena itu, kami tidak hanya ingin melihat bagaimana industri properti berkembang, tetapi juga bagaimana kami dapat tetap relevan dan memberikan kontribusi terhadap kebutuhan masyarakat, termasuk dalam persoalan perumahan,” kata David dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Jumat (2/10).

LippoLand sendiri memulai perjalanan pada 1987 melalui pembangunan Lippo City dan kemudian Lippo Village. Selama hampir empat dekade, perusahaan mengembangkan berbagai kawasan dan produk properti untuk beragam segmen masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan hunian dengan harga mulai sekitar Rp100 juta dan skema cicilan sekitar Rp600 ribu per bulan. LippoLand menyebut telah menjual sekitar 5.000 unit pada segmen hunian tersebut.

Namun, David menilai kebutuhan nasional masih jauh lebih besar sehingga penyediaan hunian tidak dapat ditangani oleh satu pihak.

“Angka backlog sekitar 9 juta keluarga menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Kami menyadari bahwa LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian. Dibutuhkan partisipasi yang lebih luas dari seluruh pengembang, perbankan, pemerintah, dan seluruh ekosistem perumahan,” terangnya.

Kontribusi LippoLand terhadap kebutuhan yang lebih luas juga diwujudkan melalui penghibahan lahan seluas sekitar 30 hektare di kawasan Lippo Cikarang kepada negara.

Selain menjangkau konsumen melalui produk hunian, LippoLand juga melibatkan berbagai mitra dalam ekosistem properti, mulai dari perbankan, konsultan, tenaga penjual, perencana, kontraktor hingga penyedia layanan kota.

David mengatakan, keberadaan para mitra tersebut menjadi bagian dari proses pembangunan kawasan dan penciptaan nilai bagi masyarakat.

“LippoLand tumbuh bersama banyak partner. Ada perbankan yang membantu menyediakan pembiayaan, konsultan dan tenaga penjual yang membantu kami memahami serta melayani konsumen, para perencana dan kontraktor yang menerjemahkan konsep menjadi kawasan dan bangunan, hingga penyedia pelayanan kota yang memastikan kawasan dapat terus hidup dan berkembang,” ujarnya.

Di sisi internal, perusahaan juga menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari keberlanjutan bisnis.

Menurut David, keberlangsungan perusahaan tidak hanya bergantung pada aset dan produk, tetapi juga kualitas manusia yang menjalankannya.

“Ke dalam, kami juga ingin membangun insan LippoLand menjadi manusia yang holistik, dengan value, akhlak, dan integritas yang tidak hanya tercermin dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupannya. Karena pada akhirnya, perusahaan dibangun oleh manusia,” sebutnya.

Memasuki babak berikutnya, pengalaman selama 39 tahun juga digunakan untuk membaca perubahan aspirasi konsumen. Salah satu segmen yang dinilai memiliki potensi besar adalah hunian menengah dengan kisaran harga Rp1 miliar hingga di bawah Rp2 miliar. 

David menyebut rentang tersebut menjadi salah satu sweet spot di pasar properti yang diisi oleh banyak pengembang.

“Di market Rp1 miliar sampai di bawah Rp2 miliar, hampir semua pengembang bermain. Karena itu, kami harus kreatif dan menggunakan kembali seluruh pengalaman 39 tahun kami dalam menyediakan hunian. Tujuannya bukan hanya membuat produk, tetapi menghasilkan produk yang excellent di market, dengan price point yang tepat dan pilihan pembiayaan yang luas melalui partner perbankan kami,” jelas David.

Salah satu produk yang disiapkan LippoLand adalah Brentwood Villas, premium designer homes yang akan diperkenalkan di tujuh lokasi di Indonesia.

Produk tersebut dirancang sebagai hunian premium untuk keluarga multigenerasi dengan memadukan desain, fungsi, kualitas dan nilai jangka panjang. Brentwood Villas menawarkan konfigurasi dua maupun tiga lantai sehingga dua hingga tiga generasi dapat tinggal dalam satu rumah dengan ruang dan fungsi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk konfigurasi tiga lantai, setiap level memiliki fungsi berbeda. Heritage Level di lantai pertama disiapkan sebagai ruang bagi kakek dan nenek sekaligus dilengkapi Service Quarter.

Sementara Entertainment Level di lantai kedua menjadi pusat interaksi keluarga melalui Great Room yang menyatukan living room, dining room, dan kitchen dalam ruang yang mengalir dari bagian depan hingga belakang rumah. Adapun Sanctuary Level di lantai ketiga dirancang sebagai ruang beristirahat dan belajar.

CMO LippoLand, Jopy Rusli mengatakan konsep Brentwood Villas dikembangkan dengan melihat perubahan aspirasi konsumen terhadap hunian.

“Rumah saat ini tidak lagi hanya dinilai dari luas atau lokasinya. Konsumen semakin mempertimbangkan bagaimana sebuah rumah mendukung kehidupan sehari-hari. Brentwood Villas kami hadirkan untuk menjawab perubahan tersebut melalui kombinasi desain, functionality, quality, dan enduring value,” papar Jopy.

Dalam pengembangannya, LippoLand menggandeng Alex Bayu dari Genius Loci sebagai home designer dan Stephen Flynn dari Sheils Flynn Asia sebagai landscape designer.

LippoLand akan memperkenalkan Brentwood Villas di tujuh lokasi di Indonesia. Tiap lokasi memiliki karakter pasar dan komunitas yang berbeda, namun tetap membawa filosofi desain dan standar kualitas yang sama.

“Brentwood Villas bukan sekadar produk baru. Ini merupakan bagian dari bagaimana LippoLand memasuki babak berikutnya: semakin memahami konsumen, semakin cermat menerjemahkan aspirasi mereka ke dalam desain, serta terus meningkatkan kualitas pengalaman hunian yang kami hadirkan,” tandas Jopy. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *