
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan terdapat tujuh korporasi yang saat ini berada dalam daftar tunggu atau pipeline pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Data ini merupakan pembaruan aktivitas korporasi di lantai bursa domestik hingga awal Oktober 2026.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menjelaskan bahwa ketujuh calon emiten tersebut memiliki skala aset yang bervariasi merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017.
“Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Saidu melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin (5/10).
Klasifikasi Aset dan Sektor Calon Emiten
Berdasarkan nilai asetnya, ketujuh perusahaan tersebut terbagi ke dalam tiga kategori utama:
- Skala Besar: Dua perusahaan dengan aset di atas Rp250 miliar.
- Skala Menengah: Tiga perusahaan dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
- Skala Kecil: Dua perusahaan dengan total aset di bawah Rp50 miliar.
Dari sisi sektoral, industri kesehatan mendominasi antrean dengan total empat perusahaan. Sisanya terdiri dari dua perusahaan sektor energi dan satu perusahaan dari sektor industri.
Realisasi IPO dan Target Jangka Panjang
Hingga 2 Oktober 2026, BEI mencatat sebanyak tujuh emiten telah berhasil merampungkan proses IPO. Dari aksi korporasi tersebut, total dana yang terhimpun mencapai Rp2,16 triliun. Kehadiran emiten baru ini menambah jumlah total perusahaan tercatat (listed companies) di Indonesia menjadi 963 entitas.
Otoritas bursa optimistis tren pertumbuhan ini akan terus berlanjut. BEI menetapkan target ambisius untuk mencapai 1.100 perusahaan tercatat pada tahun 2030 mendatang.
Dinamika EBUS dan Rights Issue
Selain pasar saham, instrumen pendapatan tetap juga menunjukkan pertumbuhan positif. Per 2 Oktober 2026, telah diterbitkan 135 emisi dari 62 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dengan total penghimpunan dana sebesar Rp132,98 triliun.
Saidu menambahkan bahwa saat ini masih terdapat 24 emisi dari 17 penerbit EBUS yang berada dalam antrean untuk melantai di bursa.
Di sisi lain, aktivitas penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (rights issue) juga terpantau aktif. Sebanyak 15 perusahaan telah menuntaskan rights issue dengan total nilai Rp16,23 triliun. Saat ini, BEI masih mengantongi satu perusahaan dari sektor properti yang bersiap melakukan aksi korporasi serupa. (Ant/E-4)
