Tuesday, October 6

Pansus CSR DPRD DKI Uji Dampak TJSL Sarana Jaya ke Warga


Panitia Khusus (Pansus) CSR DPRD DKI Jakarta saat melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Nuansa Pondok Kelapa, Jakarta Timur Rabu (30/09). Dalam kunjungan tersebut, rombongan Pansus meninjau langsung Urban Farming Nuansa Pondok Kelapa, PAUD Satu Nusa, Tam(dok.istimewa)

PROGRAM Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perumda Pembangunan Sarana Jaya tidak cukup berhenti pada pembangunan fasilitas. Dampak dan keberlanjutan program bagi masyarakat menjadi hal yang turut diuji Panitia Khusus (Pansus) CSR DPRD DKI Jakarta.

Ketua Pansus CSR DPRD DKI Jakarta Ghozi Zulazmi mengapresiasi empat program TJSL Sarana Jaya, yakni Urban Farming Nuansa Pondok Kelapa, PAUD Satu Nusa, Taman Baca Samawa, dan Bank Sampah Samawa.

“Kami sangat apresiasi implementasi CSR-nya Sarana Jaya. Ternyata dilihat dari paparan dan realita itu bisa terlampaui. Kami berharap di BUMD atau di perusahaan lain pun demikian,” ujar Ghozi melalui keterangannya, Selasa (6/10).

Namun, keberadaan fasilitas tersebut pada akhirnya harus diukur dari seberapa jauh masyarakat terlibat dan memperoleh manfaat. 

Urban farming tidak sekadar menjadi lahan penghijauan, PAUD bukan hanya bangunan pendidikan, taman baca harus benar-benar hidup, sementara bank sampah harus mampu mendorong perubahan perilaku sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga.

Empat program itu setidaknya menunjukkan upaya menggeser pola CSR dari sekadar pemberian bantuan menuju pemberdayaan.  Pendidikan, literasi, lingkungan, dan ketahanan pangan ditempatkan dalam satu kawasan sehingga manfaat program tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sementara, Direktur Utama Perumda Pembangunan Sarana Jaya Bernard Yohanes mengatakan pihaknya akan mengevaluasi dan memperbaiki program berdasarkan masukan Pansus.

“Kami berterima kasih atas perhatian dan masukan yang diberikan. Tentunya ke depan akan terus kami perbaiki, baik terkait Urban Farming, PAUD, Taman Baca, maupun Bank Sampah. Kami berkomitmen agar keberadaan Sarana Jaya tidak hanya berdampak pada pembangunan fisik kota, tetapi juga memberikan nilai tambah sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi masyarakat Jakarta,” ujar Bernard.

Bagi Sarana Jaya, tantangan berikutnya bukan hanya menambah fasilitas TJSL, melainkan memastikan program tetap berjalan setelah seremoni dan pembangunan selesai. Keberlanjutan pengelolaan, keterlibatan warga, serta manfaat sosial dan ekonomi menjadi ukuran penting keberhasilan program.

Sebagai BUMD DKI yang bergerak di sektor infrastruktur dan properti, Sarana Jaya dituntut tidak hanya menghasilkan pembangunan fisik. Program TJSL juga harus mampu meninggalkan dampak yang terukur bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. (Far/P-3)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *