Tuesday, October 6

Polisi Anti-Teror Inggris Tangkap Pemuda 22 Tahun Terkait Ancaman Pangkalan Udara RAF Fairford


Kepolisian anti-teror Inggris menangkap pemuda 22 tahun terkait ancaman di pangkalan udara RAF Fairford. AS sempat tarik jet bom lantaran potensi ancaman.(PA Media)

KEPOLISIAN Anti-Terorisme Inggris menangkap seorang warga negara Inggris berusia 22 tahun atas dugaan persiapan tindakan terorisme. Penangkapan yang berlangsung di Westminster, London, pada hari Selasa tersebut berkaitan erat dengan insiden mencurigakan di sekitar pangkalan udara RAF Fairford, Gloucestershire.

Penangkapan ini merupakan yang ketujuh dalam rangkaian penyelidikan insiden pada 27 September lalu. Hingga saat ini, belum ada pihak yang dijatuhi dakwaan resmi oleh otoritas setempat.

Koordinator Nasional Senior untuk Kepolisian Anti-Terorisme, Vicki Evans, mengonfirmasi bahwa proses hukum masih terus berjalan.

“Ini tetap merupakan penyelidikan yang aktif,” ujar Evans. Ia menambahkan bahwa pihak kepolisian terus “menelusuri berbagai lini penyelidikan.”

Kronologi Rentetan Penangkapan

Penyelidikan bermula ketika polisi menerima laporan terkait tiga “kendaraan mencurigakan” yang melintas menuju pangkalan RAF Fairford pada dini hari tanggal 27 September. Saat itu, status insiden besar (major incident) sempat diberlakukan dan puluhan rumah di sekitar lokasi dievakuasi.

Lima pria berusia antara 23 hingga 25 tahun ditangkap di dekat pangkalan pada hari yang sama. Awalnya mereka ditahan atas dugaan pelanggaran bahan peledak sebelum akhirnya disangkakan atas dugaan persiapan tindakan terorisme. Namun, kelimanya kemudian dibebaskan dengan jaminan polisi, sebuah langkah yang disebut polisi sebagai “keputusan penyelidikan yang didasarkan pada pengalaman dan strategi.”

Pria keenam, seorang warga negara ganda Iran-Inggris berusia 25 tahun, ditangkap di Westminster pada 1 Oktober dan kemudian dibebaskan dengan jaminan. Penangkapan pemuda berusia 22 tahun pada hari Selasa menjadi langkah terbaru polisi dalam mengusut kasus ini.

Ancaman Keamanan dan Penarikan Pesawat Bom AS

Pangkalan RAF Fairford yang terletak di dekat Desa Whelford telah digunakan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) selama puluhan tahun. Belakangan ini, AS menerbangkan pesawat pengebom B-1 dan B-52 dari pangkalan tersebut ke Timteng setelah Inggris menyetujui izin penggunaan Fairford untuk serangan defensif terhadap Iran.

Namun, AS memutuskan menarik keluar seluruh pesawat pengebomnya dari pangkalan tersebut dan mengembalikannya ke Amerika. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi pemindahan armada militer tersebut dipicu adanya ancaman keamanan. Saat ditanya wartawan di luar Gedung Putih apakah penarikan disebabkan oleh ancaman spesifik, Trump membenarkannya.

“Ya, saya pikir kita bisa mengatakan demikian. Mereka tidak terbang begitu saja secara tidak sengaja,” kata Trump.

“Ada beberapa ancaman. Daripada memancing musuh, kita akan menangkap musuh dan mengalahkan musuh. Tapi mengapa kita harus membiarkan mereka di sana? Jadi kami memindahkan mereka sedikit. Tidak terlalu jauh,” lanjut Trump.

Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan langkah pemindahan dilakukan “atas dasar kehati-hatian yang tinggi.” Keputusan penarikan ini berembus di tengah laporan media AS yang menyebut adanya indikasi intelijen terkait rencana serangan pesawat nirawak (drone) oleh Iran.

Juru bicara Komando Eropa AS menyatakan enggan membahas masalah intelijen secara spesifik, namun menegaskan bahwa pihak AS berada dalam “tingkat kesiapan tertinggi” serta akan mengambil “tindakan yang tepat untuk melindungi personel, platform, dan pangkalan operasi.”

Sementara itu, pihak Kantor Perdana Menteri Inggris (No 10) sebelumnya menegaskan bahwa pangkalan RAF Fairford tetap aman dan memuji kesiapsiagaan kepolisian serta pasukan pertahanan dan keamanan Inggris dalam menjaga area tersebut. (BBC/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *