Wednesday, October 7

Polisi Periksa 12 Saksi dalam Dugaan Penganiayaan Siswa SMA Negeri 2 Binjai


Aidil Syahputra menunjukkan laporan polisi dugaan penganiayaan.(Dok.Istimewa)


POLRES Binjai, Sumatra Utara, menyelidiki laporan dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa SMA Negeri 2 Binjai yang diduga dilakukan guru olahraga sekolah tersebut, Yudhi Setiawan. Penyidik telah memeriksa 12 saksi dan meminta keterangan dari Yudhi sebagai pihak terlapor.

Kasat Reskrim Polres Binjai AKP Hotdiatur Purba mengatakan penyidik masih mendalami laporan tersebut berdasarkan keterangan para saksi dan fakta yang diperoleh selama proses penyelidikan. “Untuk laporan tersebut sudah kami periksa 12 orang saksi,” kata Hotdiatur, Rabu (7/10).

Menurut dia, penyidik masih melakukan pendalaman untuk mengetahui rangkaian peristiwa dan memastikan fakta dalam laporan tersebut. Polisi belum menyampaikan kesimpulan akhir terkait perkara itu.

Yudhi yang merupakan guru olahraga sekaligus Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan SMA Negeri 2 Binjai dilaporkan ke Polres Binjai atas dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.

Namun, Yudhi membantah tuduhan tersebut. Dia mengatakan sedang sakit dan tidak masuk sekolah selama sekitar dua pekan ketika dugaan penganiayaan tersebut disebut terjadi.

Yudhi juga mempertanyakan tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Dia menyebut kemungkinan mengambil langkah hukum terhadap pihak yang menudingnya, meskipun belum mengambil keputusan karena mempertimbangkan institusi sekolah.

“Bisa saja saya tuntut balik, namanya kan pencemaran nama baik,” kata Yudhi.

Dia juga mengatakan belum menerima pemanggilan resmi terkait laporan tersebut. “Kebetulan keluarga saya polisi semua. Seharusnya kalau ada surat (laporan) polisi, saya dipanggil,” ujarnya.

LAPORAN DUGAAN PENGANIAYAAN

Laporan dugaan penganiayaan muncul setelah kondisi korban memburuk sepulang sekolah pada September. Ayah korban, Aidil Syahputra, mengatakan anaknya pulang dari sekolah pada Rabu (16/9) dalam kondisi berbeda dari biasanya.

Ketika ditanya mengenai kejadian di sekolah, korban tidak memberikan penjelasan. Pada malam harinya, korban mengalami demam dan tidak masuk sekolah keesokan harinya.

Korban kembali bersekolah pada Jumat (18/9). Namun, menurut Aidil, kondisi anaknya kembali berubah setelah pulang sekolah. Sehari kemudian, korban mengalami gangguan komunikasi serta mengeluhkan pusing dan sakit pada bagian perut.

Aidil kemudian membawa anaknya ke rumah sakit. Dokter sempat mendiagnosis korban mengalami gangguan lambung. Keluarga mulai mencurigai adanya persoalan lain setelah kondisi korban semakin memburuk dan mengalami gangguan ingatan.

Menurut Aidil, keluarga kemudian merekam percakapan saat meminta penjelasan dari korban mengenai apa yang terjadi. “Dia mengakui bahwasanya dia dipukul. Namun dia tidak cerita siapa yang memukul dan kapan waktunya,” kata Aidil.

Keluarga selanjutnya membawa korban kembali ke rumah sakit dan meminta pemeriksaan MRI. Aidil mengatakan hasil pemeriksaan menunjukkan adanya benturan pada kepala, pembengkakan pada rusuk kiri dan dada kiri, serta memar pada kaki dan bagian belakang pinggang.

Korban juga mengeluhkan sakit pada ulu hati hingga kesulitan bernapas. Menurut Aidil, pemeriksaan medis juga menunjukkan adanya pembengkakan pada usus.

Kondisi korban dilaporkan semakin memburuk saat menjalani perawatan pada Senin (21/9). Aidil mengatakan anaknya ketika itu sudah mengalami kesulitan berbicara.

“Kemudian karena banyak tetangga dan kerabat yang datang untuk menjenguk, ditanyakan siapa yang melakukan pemukulan itu dan di situ terbongkar semua,” ujar Aidil.

Aidil mengatakan dugaan penganiayaan tersebut juga berdampak pada kondisi psikologis anaknya. Sementara itu, polisi masih mendalami laporan dengan memeriksa saksi-saksi dan pihak terlapor untuk mengungkap fakta serta rangkaian kejadian yang dilaporkan. (E-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *