Wednesday, October 7

Mengembangkan Keilmuan Integratif pada Jenjang Pendidikan Tinggi di Era VUCA


(Dok. Pribadi)

MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan kepada para rektor di Indonesia agar tidak membuka banyak program studi (prodi). Para rektor diminta menggabungkan prodi yang memiliki rumpun keilmuan serupa agar administrasi perguruan tinggi (PT) lebih sederhana. Statement Brian disampaikan pada pembukaan gelaran Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) XII di Bali yang diikuti oleh 12 perguruan tinggi negeri (PTN) eks IKIP se-Indonesia pada 2-3 Oktober 2026. Penulis mengikuti gelaran Konaspi sebagai representasi dari salah satu PTN.

Menindaklanjut arahan Mendiktisaintek diperlukan langkah konkret yang disertai regulasi dan kebijakan serta sinkronisasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk lembaga akreditasi.

Secara kuantitas, jumlah prodi semakin naik dari waktu ke waktu. Menurut data Buku Statistik Pendidikan Tinggi yang dirilis Kemendiktisaintek 2025, jumlah prodi hingga 2025 sebanyak 34.711 dari 4.303 PT, dengan 328.241 dosen. Pada 2024 jumlah prodi sebanyak 33.741, dan dalam waktu setahun hingga 2025 meningkat 970 atau 2,87%. Sementara di sisi lain, jumlah pengangguran lulusan perguruan tinggi semakin naik. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Mei 2026 ada 1.033.182 lulusan perguruan tinggi yang menganggur mulai D-IV hingga S-3. Persentase pengangguran sarjana terhadap total pengangguran nasional meningkat dari 7,98% (Agustus 2022) menjadi 14,31% (Mei 2026).

Ini artinya penambahan jumlah prodi tidak berbanding lurus dengan keterserapan lulusan pada dunia kerja. Dengan kata lain, penambahan prodi baru justru membebani, yakni jumlah pengangguran semakin tinggi. Padahal, saat ini eranya ‘Kampus Berdampak’ yang mestinya juga berdampak pada semakin meningkatnya keterserapan lulusan pada dunia kerja, bukan meningkat dalam jumlah pengangguran.

 

PERSPEKTIF KEILMUAN 

Selain terkait dunia kerja sebagai salah satu muara keterserapan lulusan PT, yang juga sangat penting ditekankan ialah pengembangan keilmuan secara integratif. Pengembangan keilmuan pada jenjang pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari implementasi fungsi Tridarma PT, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di era yang sangat kompleks saat ini, yang diperlukan ialah pengembangan keilmuan secara integratif, bukan parsial, apalagi memperbanyak prodi, yang dari sisi administratif membebani, khususnya ketika akreditasi di samping tanggung jawab moral PT terhadap lulusan. Sehingga, di sinilah diperlukan penggabungan prodi untuk efisiensi biaya, waktu, dan tenaga, di samping untuk mengoptimalkan sivitas akademika dalam menjalankan fungsi Tridarma PT.

Penggabungan prodi di samping pertimbangan efisiensi, juga untuk membangun keilmuan secara efektif dan kontributif. Hadirnya institusi pendidikan tinggi tidak sekadar berkaitan dengan dunia kerja, tetapi juga berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan umat manusia secara keseluruhan. Kontribusi inilah yang menjadi ‘identitas utama’ institusi PT karena PT memiliki tanggung jawab akademik mentransformasikan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan sosial humaniora.

Dalam konteks keilmuan, pengembangan khazanah keilmuan tersebut penting diwadahi dalam suatu ‘rumah besar keilmuan’ yang menjadi payung dari berbagai disiplin keilmuan untuk didialogkan, didiskusikan, dan dikembangkan bersama secara integratif dan komprehensif.

Berbagai perspektif keilmuan dari latar belakang berbeda yang masih dalam satu rumpun keilmuan akan memberikan penguatan dan pengayaan bagi sivitas akademika (dosen dan mahasiswa) sehingga realitas perkembangan zaman mampu dihadapi dengan kesiapan skill dan kompetensi yang integratif, tidak lagi parsial berbasis prodi yang terlalu administratif.

Pernyataan Mendiktisaintek Brian pada tataran implementasi juga perlu dilakukan sinkronisasi dengan lembaga-lembaga akreditasi untuk membuka cakrawala keilmuan yang lebih luas, tidak dibatasi secara administratif pada prodi. Membangun ‘rumah besar keilmuan’ di PT tetap mempertimbangkan bidang keilmuan, misalnya dalam satu rumpun keilmuan yang memiliki kedekatan substansi kajian, didesain dalam suatu kurikulum integratif (integrated curriculum) yang dinaungi dalam satu prodi sebagai tindak lanjut penggabungan prodi. Simplifikasi ini diyakini akan memberikan dampak positif, di antaranya mengurangi beban administrasi.

Model kurikulum terpadu atau integrated curriculum model (ICM) yang dikembangkan oleh Robin J Fogarty, seorang ahli kurikulum, penulis, dan pakar pendidikan asal Amerika Serikat dalam buku yang berjudul How To Integrate the Curricula dapat dijadikan sebagai kerangka teoretis dan perspektif. Model ini dikembangkan secara terpadu dengan pendekatan secara lintas disiplin ilmu untuk saling melengkapi pengetahuan. Model ini mempunyai keuntungan, di antaranya kemudahan belajar yang mengarah pada keterkaitan di antara berbagai disiplin ilmu, di samping dapat membangun pemahaman lintas disiplin yang lebih komprehensif. Perspektif ini sangat relevan dikembangkan untuk melakukan restrukturisasi prodi di era saat ini dan ke depan.

 

ANGIN SEGAR 

Gagasan Mendiktisaintek Brian menjadi angin segar bagi pimpinan perguruan tinggi untuk melakukan restrukturisasi atau proses penataan dan pembangunan ulang struktur organisasi (termasuk prodi), keuangan, dan manajemen agar lebih efektif dan efisien, sehingga fokus perguruan tinggi dan dosen untuk pengembangan keilmuan yang menjadi mandat dari Tridarma PT berlangsung secara optimal karena waktu yang tersedia lebih memadai.

Disadari atau tidak, ketika akreditasi secara rutin lima tahun sekali tiba, beberapa tahun sebelumnya, pimpinan, mulai dari prodi, fakultas, hingga universitas (atau sejenis) disibukkan dengan persoalan administratif, yang kadang ‘merampas’ tugas Tridarma yang menjadi ’core business’ atau aktivitas utama dan fondasi terpenting perguruan tinggi. Dapat dibayangkan pada PT yang memiliki ratusan prodi, betapa lelahnya insan akademik, khususunya pimpinan dan dosen. Dampak langsung yang dirasakan ialah aktivitas kuliah ‘terganggu’ karena dosen disibukkan persiapan administrasi akreditasi, mahasiswa pun kena getahnya. Di sisi lain, waktu pimpinan dan dosen juga habis karena beban administrasi yang terlalu berat sehingga tugas utama Tridarma menjadi terbengkalai.

Wacana penggabungan prodi perlu dimaknai secara positif dengan tetap mempertimbangkan rasio dosen dan mahasiswa secara proporsional. Di era VUCA yang ditandai dengan volatility atau perubahan sangat cepat dan sulit diprediksi, uncertainty atau ketidakpastian, complexity atau faktor saling terkait, dan ambiguity atau situasi yang tidak menentu/tidak jelas membutuhkan kesiapan institusi PT yang responsif dan adaptif, salah satunya dengan cara melakukan simplifikasi atau penyederhanaan dalam arti efisiensi dan efektivitas prodi agar menjadi lebih optimal.

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *