
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) berencana membentuk badan usaha milik negara (BUMN) baru yang khusus bergerak di bidang tekstil. Rencana ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memperkuat industri yang selama ini dikenal sebagai penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, pembentukan BUMN tekstil merupakan keinginan langsung Presiden Prabowo Subianto yang ingin mengarahkan perekonomian nasional menuju industrial-based economy.
Berbicara dalam acara “Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (8/10), Dony menjelaskan alasan pemerintah ingin kembali memperkuat industri tekstil.
“Karena kita menyadari tekstil ini membuka lapangan pekerjaan yang banyak,” ujarnya.
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memang memiliki karakteristik padat karya sehingga berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja. Namun, data menunjukkan kontribusi industri ini terhadap perekonomian nasional cenderung menyusut dalam satu dekade terakhir.
Sumber: Diolah dari BPS
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi industri tekstil dan pakaian jadi terhadap produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar 1,32% pada 2014, setara sekitar Rp102,26 triliun.
Porsinya kemudian berfluktuasi, sebelum turun di bawah 1% pada 2023. Pada 2025, kontribusi industri ini tercatat hanya 0,97% terhadap PDB, meskipun nilai nominalnya meningkat menjadi sekitar Rp231,1 triliun.
Angka nominal yang meningkat tersebut tidak serta-merta menunjukkan penguatan posisi industri dalam perekonomian. Jika kontribusinya terhadap PDB tetap sebesar 1,32% seperti pada 2014, nilai kontribusi industri tekstil dan pakaian jadi pada 2025 diperkirakan dapat mencapai Rp314,44 triliun.
Tekanan juga terlihat pada penyerapan tenaga kerja, terutama di subsektor tekstil. Pada 2017, kontribusi tenaga kerja subsektor tekstil tercatat sebesar 1,13% dari total tenaga kerja Indonesia. Angka itu terus menurun hingga menjadi 0,69% pada 2025.
Sumber: Diolah dari BPS
Sementara itu, kontribusi tenaga kerja subsektor pakaian jadi relatif lebih stabil. Setelah mencapai 2,08% pada 2019, porsinya turun menjadi 1,81% pada 2020 dan berada di kisaran 1,93%–2,01% selama 2023–2025.
Kinerja Emiten di BEI Belum Merata
Tekanan industri TPT juga tercermin dalam laporan keuangan emiten-emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari sejumlah emiten yang ditelaah untuk periode semester I-2026, kinerja perusahaan menunjukkan gambaran yang beragam.
Beberapa emiten berhasil meningkatkan penjualan dan laba bersih. Namun, sebagian lainnya masih mengalami penurunan pendapatan, tekanan margin, kerugian, hingga persoalan keuangan yang membatasi aktivitas operasional.
Kinerja emiten-emiten tersebut menunjukkan bahwa pemulihan industri TPT belum berlangsung secara merata. Pertumbuhan penjualan masih ditemukan pada sejumlah perusahaan, tetapi dampaknya terhadap laba bergantung pada kemampuan mengendalikan biaya produksi, beban operasional, beban keuangan, dan risiko nilai tukar.
Pada beberapa emiten, kenaikan laba bersih bahkan lebih banyak ditopang oleh keuntungan selisih kurs atau pendapatan nonoperasional. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan laba belum tentu mencerminkan peningkatan daya saing produksi secara berkelanjutan.
Di sisi lain, persoalan modal kerja, utang, dan keterbatasan kapasitas produksi masih membayangi sebagian perusahaan.
Berikut rangkuman kinerja beberapa emiten TPT:
Segmen Hulu & Bahan Baku
Emiten bahan baku sintesis dan petrokimia mencatatkan pemulihan signifikan berkat efisiensi radikal serta penghentian segmen bisnis yang merugi.
-
PT Polychem Indonesia Tbk (ADMG): Membukukan laba bersih USD5,66 juta pada H1-2026, berbalik dari rugi USD8,28 ribu pada H1-2025. Penjualan naik 34,71% YoY menjadi USD91,01 juta. Pemulihan ini dipicu keputusan strategis menghentikan permanen divisi polyester sejak November 2025 dan berfokus pada produk ethylene glycol.
-
PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR): Berbalik mencetak laba bersih USD3,56 juta dari sebelumnya rugi USD9,60 juta. Pendapatan tumbuh 13,03% YoY menjadi USD414,42 juta, ditopang pemulihan segmen pemintalan benang (spun yarns) yang menyumbang laba segmen USD7,73 juta dan segmen mineral sebesar USD7,76 juta.
-
PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY): Meraih laba bersih USD2,51 juta (berbalik dari rugi USD9,61 juta), didorong forex gain USD4,62 juta dan kenaikan penjualan tipis 2,67% YoY menjadi USD22,48 juta. Meski demikian, POLY masih dibayangi risiko kelangsungan usaha (going concern) akibat defisiensi modal sebesar USD1,019 miliar dan utang jangka pendek USD1,037 miliar pasca-penutupan pabrik Karawang.
Garmen & Konveksi
Di sisi hilir, produsen garmen dan pakaian jadi menghadapi tantangan berat berupa penurunan permintaan ekspor serta lonjakan biaya bahan baku dan tenaga kerja.
-
PT Pan Brothers Tbk (PBRX): Penjualan bersih naik 12,14% YoY menjadi USD134,69 juta. Namun, PBRX menanggung rugi bersih USD5,19 juta pada H1-2026, berbanding terbalik dari laba USD93,07 juta pada H1-2025—yang kala itu ditopang pendapatan restrukturisasi sebesar USD102,25 juta. Beban keuangan sebesar USD4,90 juta dan defisit arus kas operasional USD6,75 juta memperketat likuiditas perseroan (DER 2,82 kali).
-
PT Eratex Djaja Tbk (ERTX): Laba bersih terkoreksi 7,64% YoY menjadi USD1,33 juta seiring penurunan penjualan 14,16% YoY ke posisi USD53,67 juta akibat lemahnya permintaan garmen ekspor. Kendati demikian, ERTX menaikkan cadangan kas sebesar 126,19% menjadi USD8,65 juta.
-
PT Golden Flower Tbk (POLU): Penjualan naik 12,05% YoY menjadi Rp86,94 miliar berkat pasar ekspor blus wanita. Namun, lonjakan bahan baku dan upah menekan laba kotor hingga 48,45%. POLU berhasil membukukan laba bersih Rp4,35 miliar berkat keuntungan selisih kurs neto Rp5,54 miliar.
-
PT Ricky Putra Globalindo Tbk (RICY): Penjualan merosot 38,25% YoY menjadi Rp203,32 miliar. Namun, efisiensi HPP yang turun 46,46% berhasil memangkas rugi bersih sebesar 63,68% menjadi Rp40,31 miliar (dari sebelumnya rugi Rp110,98 miliar).
Manufaktur Tekstil Integrasi & Kain
Emiten tekstil menengah dan diversifikasi mencatatkan kinerja bervariasi, di mana pos non-operasional menjadi juru selamat profitabilitas.
-
PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX): Mencetak lonjakan laba bersih hingga Rp60,11 miliar (berbalik dari rugi Rp15,34 miliar), meskipun beban pokok melampaui penjualan hingga rugi bruto Rp1,98 miliar. Pemulihan laba didorong oleh lonjakan keuntungan selisih kurs neto sebesar Rp99,92 miliar.
-
PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL): Mencatatkan lonjakan laba bersih 81,31% YoY menjadi Rp9,24 miliar. Penjualan tumbuh 16,58% YoY menjadi Rp330,01 miliar, didukung efisiensi beban usaha yang turun 1,40% serta arus kas operasi solid sebesar Rp43,35 miliar.
-
PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI): Penjualan tumbuh 7,31% YoY menjadi Rp229,43 miliar. Namun, kenaikan beban administrasi, beban keuangan (Rp8,50 miliar), dan beban lain-lain menggerus laba bersih hingga 85,80% menjadi Rp1,37 miliar.
-
PT Argo Pantes Tbk (ARGO): Berbalik menanggung rugi bersih Rp33,55 miliar dari laba Rp11,53 miliar pada H1-2025. Pendapatan terkoreksi 4,97% YoY menjadi Rp52,86 miliar, sementara pembengkakan rugi selisih kurs hingga Rp41,07 miliar menggerus ekuitas perseroan.
