
PT Pertamina (Persero) bekerja sama dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) untuk mengembangkan ekosistem hidrogen sebagai energi bersih transportasi publik. Kerja sama tersebut pun memanfaatkan energi rendah karbon di Jakarta.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan, kolaborasi yang terbentuk menjadi langkah awal bagi kedua perusahaan untuk mendorong pemanfaatan energi rendah karbon di sektor transportasi. Langkah tersebut pun sebagai upaya mengurangi emisi, dan meningkatkan kualitas udara di Jakarta.
“Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, kami ingin menjajaki pengembangan ekosistem hidrogen yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi bersih di sektor transportasi, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan energi dan pengurangan emisi,” kata Oki dalam keterangan resminya pada Selasa (13/10).
Inisiatif tersebut, kata Oki, juga sejalan dengan pengembangan proyek waste to hydrogen (W2H) Pertamina. Dalam program itu, gas metana dari sampah diolah untuk menghasilkan biometana dan hidrogen rendah karbon.
Dalam rencana pengembangan, kata Oki, 2 bus berbasis hidrogen akan ditempatkan pada koridor Jakarta. Bus tersebut berasal dari hibah pemerintah Korea Selatan kepada Indonesia.
Sinergi lintas sektor itu, kata Oki, menjadi kunci untuk memperkuat pemanfaatan energi bersih di Indonesia. Bersama Transjakarta, Pertamina berharap pengembangan hidrogen dapat menjadi salah satu alternatif energi bagi transportasi publik, sekaligus membuka peluang penerapan teknologi rendah karbon di masa mendatang.
“Kami berharap penjajakan ini menjadi pijakan awal bagi tumbuhnya ekosistem hidrogen di Indonesia,” tutur Oki.
