Friday, October 16

Tiongkok Melunak Hadapi Uni Eropa, Sepakati Kuota Impor Kendaraan Hibrida


Truk BYD Shark, di ajang Paris Motor Show tahun ini.(WSJ/Tim Franco)

BEIJING mulai menunjukkan sikap melunak dalam menghadapi tekanan perdagangan dari Uni Eropa. Setelah bertahun-tahun membanjiri pasar Eropa dengan produk ekspor yang menekan profitabilitas dan lapangan kerja lokal, Tiongkok kini memilih untuk mundur selangkah guna mengulur waktu dalam negosiasi yang lebih luas.

Langkah terbaru menunjukkan Tiongkok menyetujui rencana Uni Eropa untuk membatasi impor kendaraan hibrida. Pejabat blok tersebut menyatakan bahwa kesepakatan ini akan memangkas volume impor hingga lebih dari setengahnya.

Keputusan itu diharapkan memberikan perlindungan bagi produsen otomotif Eropa seperti Volkswagen dan Stellantis. Ini sekaligus meredakan ketegangan yang sempat memuncak setelah Prancis dan Jerman mulai menunjukkan sikap kompak melawan dominasi produk Tiongkok.

Ketergantungan pada Pasar Eropa

Meskipun mesin ekspor Tiongkok terlihat tak terbendung dengan rekor surplus perdagangan mencapai US$1,2 triliun (sekitar Rp18.700 triliun) tahun lalu, Beijing berada dalam posisi rentan. Ketergantungan yang tinggi pada ekspor untuk menopang ekonomi domestik yang sedang lesu membuat Tiongkok tidak boleh kehilangan akses ke pasar Eropa yang luas dan menguntungkan.

Tekanan semakin meningkat seiring dengan kecenderungan proteksionisme di Amerika Serikat. Elvire Fabry, direktur program keamanan ekonomi di Jacques Delors Institute, mencatat bahwa penutupan pasar AS secara otomatis meningkatkan nilai strategis pasar Eropa bagi Beijing. Hal ini menciptakan jendela peluang bagi Eropa untuk menegosiasikan posisi yang lebih adil.

Pergeseran Strategi Uni Eropa

Selama bertahun-tahun, perusahaan industri besar di Eropa menjadi pendukung utama perdagangan dengan Tiongkok. Namun, situasi berubah ketika perusahaan-perusahaan tersebut mulai kesulitan meraup untung di Tiongkok dan pangsa pasar mereka di rumah sendiri tergerus oleh kompetisi yang dianggap tidak adil.

Tomas Baert, penasihat perdagangan untuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, menegaskan ada pergeseran paradigma. “Penyeimbangan kembali bukan lagi soal menjual lebih banyak ke Tiongkok, melainkan memastikan Tiongkok menjual lebih sedikit kepada kita,” ujarnya.

Berdasarkan rencana terbaru, Uni Eropa akan membatasi impor kendaraan hibrida sebanyak 350.000 unit per tahun. Kuota ini diperkirakan mulai berlaku dalam beberapa bulan ke depan dengan kenaikan bertahap sebesar 6% setiap tahun selama tiga tahun berikutnya.

Data Perdagangan UE-Tiongkok:

  • Defisit perdagangan Eropa dengan Tiongkok meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, mencapai sekitar US$1 miliar (Rp15,6 triliun) per hari tahun lalu.
  • Volume ekspor Tiongkok ke Uni Eropa melonjak 25,3% pada September dibandingkan tahun sebelumnya.
  • Kapasitas berlebih (overcapacity) Tiongkok kini merambah ke sektor bernilai tinggi seperti otomotif dan farmasi.

Instrumen Hukum Baru dan Tantangan Persatuan

Eropa tidak hanya mengandalkan negosiasi. Prancis dan Jerman mengusulkan instrumen hukum baru yang mirip dengan Section 301 milik AS dengan memberikan wewenang luas untuk mengenakan tarif guna memulihkan keseimbangan perdagangan. Selain itu, Uni Eropa sedang menyiapkan instrumen diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan input pada satu negara tertentu.

Namun, tantangan terbesar bagi Eropa adalah mempertahankan persatuan. Pemilihan umum Eropa yang akan datang dan potensi ketidakstabilan politik di negara-negara anggota seperti Prancis dapat melemahkan posisi tawar blok tersebut. Analis dari Rhodium Group, Noah Barkin, memperingatkan bahwa persatuan Eropa akan benar-benar diuji jika Tiongkok memutuskan untuk melakukan aksi balasan yang keras secara ekonomi.

Konsesi pada kendaraan hibrida mungkin meredakan tekanan dalam jangka pendek. Namun Uni Eropa diperkirakan akan tetap mengejar langkah-langkah lebih tegas di sektor lain, termasuk bahan kimia, yang juga terdampak oleh banjir produk murah dari Tiongkok. (The Wall Street Journal/I-2)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *