
UKRAINA kini berada dalam kondisi pertahanan udara yang sangat kritis. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa negara tersebut hampir kehabisan rudal pencegat Patriot, yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan dalam menghalau serangan rudal balistik Rusia. Situasi ini membuat populasi sipil semakin rentan di tengah intensifikasi serangan udara Moskow.
Seorang pejabat Ukraina mengungkapkan kepada The Washington Post bahwa per 7 Oktober, hanya tersisa 10 rudal Patriot yang kemudian habis digunakan dalam serangkaian serangan. Saat ini, hanya tersisa beberapa unit saja di gudang persenjataan mereka. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di Kyiv mengenai komitmen pemerintahan Donald Trump dalam melanjutkan dukungan militer.
Krisis Stok Global dan Prioritas AS
Sistem pertahanan Patriot merupakan salah satu senjata yang paling dicari di dunia, tetapi stoknya saat ini sangat menipis akibat penggunaan intensif di Ukraina dan Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan telah menembakkan lebih dari 1.000 rudal Patriot dan THAAD hanya dalam bulan pertama perang dengan Iran untuk melindungi pasukannya.
Biaya operasional sistem ini pun sangat tinggi. Satu baterai Patriot berharga sekitar US$1 miliar (sekitar Rp15,5 triliun), sementara setiap rudal pencegatnya dapat menelan biaya lebih dari US$4 juta (sekitar Rp62 miliar). Tekanan pada stok global membuat AS harus menarik sistem Patriot dari wilayah Pasifik untuk memperkuat pertahanan di Timur Tengah dan menunda penjualan ke sekutu lain.
Fakta Produksi: Meskipun pemerintahan Trump memprioritaskan percepatan pembelian dan pembangunan pencegat baru, waktu produksi untuk satu rudal Patriot baru bisa memakan waktu hingga 36 bulan.
Ketidakpastian Politik dan Gangguan Starshield
Presiden Donald Trump menunjukkan sikap yang berubah-ubah terkait pengiriman bantuan ke Ukraina. Meski sempat mempertimbangkan untuk mengizinkan Ukraina memproduksi pencegat sendiri, Trump juga berulang kali mengancam akan menghentikan bantuan jika negosiasi perdamaian tidak menunjukkan kemajuan. Baru-baru ini, Trump bahkan melonggarkan sanksi terhadap penjualan bahan bakar diesel Rusia, langkah yang memicu kecaman lintas partai di AS.
Selain krisis rudal, Ukraina juga menghadapi kendala teknologi. Pejabat Ukraina melaporkan bahwa sistem komunikasi satelit Starshield milik SpaceX dibatasi tanpa peringatan pada Rabu (14/10). Elon Musk tidak membantah pembatasan tersebut, tetapi menyatakan bahwa hal itu hanya bisa terjadi atas permintaan pemerintah AS.
Dilema Bantuan PURL
Selama ini, bantuan senjata mengalir melalui program Prioritized Ukraine Requirements List (PURL), yaitu negara-negara Eropa membayar Washington untuk senjata yang dikirim ke Kyiv. Namun, muncul laporan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan untuk mengalihkan sebagian bantuan tersebut ke Timur Tengah guna mengatasi kekurangan stok AS dalam konflik dengan Iran.
Meskipun pejabat senior NATO menyatakan bahwa aliran amunisi pertahanan udara masih berjalan, pejabat Ukraina mengeluhkan ketidakteraturan pasokan sejak Mei lalu. “Saat ini tidak ada yang bisa memberikan kepastian atau jaminan bahwa pengiriman benar-benar akan tiba,” ujar pejabat tersebut.
Di tengah krisis ini, beberapa politisi Republik di Kongres, termasuk Senator Roger Wicker dan Kevin Cramer, mendesak AS untuk tetap berdiri teguh bersama Ukraina. Kunjungan mereka ke Kyiv pada Kamis (15/10) menegaskan ada tekanan internal di AS agar dukungan terhadap sekutu tidak terputus di saat yang paling krusial. (The Washington Post/I-2)
