Wednesday, September 23

NASA Siapkan LINK, Robot Penyelamat Teleskop Swift dari Kejatuhan


Neil Gehrels Swift Observatory(NASA)

NASA kini sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Neil Gehrels Swift Observatory. Teleskop ruang angkasa yang telah beroperasi selama dua dekade tersebut terancam jatuh kembali ke Bumi akibat tarikan atmosfer yang diperburuk oleh lonjakan aktivitas Matahari.

Tanpa intervensi teknis, teleskop ini diprediksi akan terbakar saat memasuki kembali atmosfer Bumi pada pertengahan tahun 2026. Untuk mencegah skenario tersebut, NASA telah menyiapkan misi penyelamatan senilai US$30 juta atau sekitar Rp520 miliar dengan mengerahkan robot penyelamat yang dirancang khusus.

Penyebab Teleskop Swift Kehilangan Ketinggian

Masalah ini berakar pada fenomena fisika yang menghubungkan aktivitas Matahari dengan nasib satelit di orbit rendah (LEO). Matahari memiliki siklus 11 tahunan, dan saat mencapai puncaknya—seperti yang terjadi pada Oktober 2024—radiasi serta partikel yang dipancarkan memanaskan atmosfer atas Bumi.

Pemanasan ini menyebabkan atmosfer mengembang ke ketinggian yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan kepadatan udara di jalur orbit Swift. Akibatnya, teleskop menghadapi hambatan atmosfer (atmospheric drag) yang bertindak seperti rem tidak terlihat, mengurangi kecepatan orbitnya secara bertahap.

Data NASA pada November 2025 menunjukkan probabilitas sebesar 50 persen bahwa teleskop ini akan jatuh pada Juni 2026. Peluang tersebut meningkat drastis hingga 90 persen sebelum memasuki tahun 2027 jika tidak segera dilakukan tindakan koreksi orbit.

Pentingnya Misi Neil Gehrels Swift Observatory

NASA memiliki alasan kuat untuk mempertahankan Swift. Diluncurkan pada November 2004, observatorium ini merupakan instrumen esensial untuk mendeteksi semburan sinar gamma—pelepasan energi paling dahsyat di alam semesta.

Kemampuan unik Swift untuk mengubah posisi dan membidik ke arah mana pun di langit dalam waktu kurang dari satu menit membuatnya tak tergantikan dalam mengamati fenomena transien. Mengingat biaya pembangunan penggantinya bisa mencapai ratusan juta dolar, investasi Rp520 miliar untuk penyelamatan ini dinilai sangat efisien secara anggaran.

Robot LINK: Mekanisme Penyelamatan di Ruang Angkasa

Penyelamatan teknis ini akan dilakukan oleh pesawat ruang angkasa robotik bernama LINK yang dikembangkan oleh perusahaan Katalyst. Karena Swift tidak dirancang dengan sistem “dok” atau pengait standar, LINK harus melakukan pendekatan otonom yang sangat presisi.







Tahapan Misi Deskripsi Teknis
Peluncuran Menggunakan roket Pegasus XL milik Northrop Grumman yang dilepaskan dari pesawat terbang.
Penambatan LINK menjepit struktur eksternal Swift tanpa merusak komponen sensitif.
Re-boosting LINK menyalakan pendorong untuk mengangkat Swift ke orbit yang lebih stabil.

“Swift masih menghasilkan data ilmiah yang berharga, dan kami memiliki cara untuk melestarikannya sambil menetapkan model tentang bagaimana kami beroperasi di luar angkasa,” ungkap Ghonhee Lee, CEO Katalyst.

Jika misi ini berhasil, penggunaan robot LINK akan menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi cara manusia merawat dan memperpanjang usia operasional satelit di masa depan, sekaligus mengurangi risiko sampah antariksa yang jatuh ke Bumi. (CMG/E-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *