Friday, September 25

Transformasi ke Tambang dan Energi, Emiten Ini Siapkan Rights Issue dan RTO


Salah satu proyek pembangunan pembangkit listrik.(Dok. PT Techno9 Indonesia Tbk)

PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE IJ) bersiap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 7 Mei 2026 secara daring, guna meminta restu pemegang saham atas serangkaian aksi korporasi yang berpotensi mengubah struktur permodalan dan arah bisnis perseroan secara signifikan.

Agenda utama RUPSLB mencakup persetujuan Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue, perubahan Anggaran Dasar terkait peningkatan modal ditempatkan dan disetor penuh, perubahan susunan Direksi dan Dewan Komisaris, serta pemberian kuasa kepada Direksi untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut. Langkah ini dilakukan setelah masuknya Poh Group sebagai pemegang saham pengendali. 

Perseroan juga tengah menyelesaikan intensi reverse takeover (RTO) melalui injeksi bisnis pertambangan dan energi milik Poh Group ke dalam Techno9.

Direktur PT Techno9 Indonesia Tbk, Irwan Dharma Kusuma, menyampaikan bahwa transformasi ini merupakan strategi jangka panjang untuk memperluas ekspansi ke sektor pertambangan, energi, hingga hilirisasi bernilai tambah, dengan tetap mempertahankan layanan IT bernilai tinggi.

“Kami melihat peluang besar bagi Techno9 di berbagai lini, mulai dari sektor pertambangan, energi, hingga produk hilirisasi bernilai tambah. Meskipun kami merambah sektor baru, kami tetap akan mempertahankan penggunaan teknologi bernilai tinggi (higher value IT services) dan menjajaki peluang lainnya,” ujar Irwan.

Potensi dilusi dan perubahan struktur modal

Dari sisi pasar modal, rencana rights issue menjadi poin krusial bagi investor publik. Melalui PMHMETD, perseroan akan menerbitkan saham baru yang berpotensi meningkatkan jumlah saham beredar secara signifikan. Bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya, terdapat risiko terdilusi secara kepemilikan.

Perseroan menyatakan bahwa rights issue ini akan digunakan untuk mengintegrasikan aset-aset pertambangan di Mongolia ke dalam struktur perusahaan. Menurut manajemen, proses akuisisi tersebut tidak memerlukan pengeluaran kas. 

“Tidak terdapat biaya tunai untuk mengakuisisi aset tambang Mongolia; aset tersebut akan dimasukkan ke dalam perseroan melalui proses PMHMETD,” jelas Irwan.

Skema ini pada dasarnya merupakan injeksi aset non-tunai ke dalam perseroan melalui mekanisme penambahan modal. Bagi investor, langkah tersebut berarti perubahan profil aset dan model bisnis secara fundamental, dari sebelumnya berfokus pada layanan teknologi informasi menjadi entitas dengan eksposur langsung ke sektor pertambangan dan energi.

Jika RTO dan rights issue terealisasi, struktur pemegang saham dan komposisi aset perseroan diperkirakan akan berubah signifikan. Secara teori, peningkatan aset dan potensi pendapatan baru dapat memperbaiki valuasi jangka panjang, namun di sisi lain investor juga perlu mencermati risiko integrasi bisnis, volatilitas sektor komoditas, serta dampak dilusi terhadap laba per saham (EPS).

Perubahan arah bisnis

Sebagai informasi, PT Techno9 Indonesia Tbk tercatat di bursa sejak IPO pada 2022 dengan kegiatan usaha utama sebagai penyedia layanan teknologi informasi. Transformasi ini menandai pergeseran strategis menuju sektor pertambangan dan energi, termasuk pengembangan teknologi proprietary seperti waste to energy dan biomassa.

RUPSLB pada 7 Mei 2026 akan menjadi momentum penting bagi investor dalam menentukan arah baru perseroan. Persetujuan atas PMHMETD dan perubahan Anggaran Dasar akan membuka jalan bagi pelaksanaan rights issue sekaligus finalisasi integrasi aset yang menjadi bagian dari strategi transformasi tersebut.

Bagi pemegang saham publik, keputusan untuk mengeksekusi atau tidak mengeksekusi HMETD akan menjadi faktor kunci dalam menjaga proporsi kepemilikan di tengah perubahan struktur modal yang direncanakan. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *