
PERAN perempuan dalam ekonomi kreatif kian menonjol, bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem dan pembentuk arah industri. Di tengah transformasi sektor ritel dan perubahan perilaku konsumen, kebutuhan akan ruang yang inklusif dan kolaboratif semakin relevan untuk mendorong pertumbuhan industri kreatif yang berkelanjutan.
Salah satu inisiatif yang mengangkat isu tersebut digelar di Lippo Mall Nusantara melalui program Srikandi Vol. 2: She Shapes, She Builds, She Becomes yang berlangsung 20 April–17 Mei 2026. Program ini menjadi bagian dari rangkaian yang dihadirkan dalam semangat peringatan Hari Kartini, dengan menghadirkan ruang temu antara pelaku industri, pemerintah, dan komunitas kreatif serta menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam ekosistem ekonomi kreatif.
Sorotan terhadap isu tersebut mengemuka dalam sesi diskusi yang menghadirkan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan. Keduanya menekankan pentingnya akses dan kesempatan setara bagi perempuan agar dapat berkontribusi optimal dalam pertumbuhan industri kreatif nasional.
Veronica Tan menyatakan, perempuan saat ini pada dasarnya telah memiliki kapasitas yang mumpuni. “Yang dibutuhkan bukan lagi sekadar pemberdayaan, melainkan ruang dan kesempatan yang setara untuk menampilkan potensi diri. Dengan akses yang sama, perempuan dapat bergerak dan tumbuh bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan peran perempuan dalam ekonomi kreatif tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pengelolaan ruang kreatif, menurutnya, dapat dilakukan secara profesional sekaligus tetap membuka akses luas bagi perempuan untuk berkarya.
“Kolaborasi menjadi kunci utama, baik antara pemerintah, pengelola, maupun masyarakat,” katanya.
Senada, Irene Umar menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang memberi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif, khususnya perempuan.
“Event bertema Srikandi merupakan inisiatif yang sangat luar biasa. Apresiasi kami sampaikan kepada pihak penyelenggara yang telah menghadirkan ruang bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi perempuan untuk berkumpul, saling terhubung, dan melangkah bersama, sehingga dapat terus berkarya dan bersinar,” ujarnya.
Pendekatan berbasis pengalaman yang dihadirkan turut memperlihatkan bagaimana ruang ritel dapat menjadi medium ekspresi dan distribusi karya. Program seperti Flora Nusantara menghadirkan pameran serta bazaar tanaman hias yang mendorong gaya hidup berkelanjutan, sementara Art Exhibition menampilkan karya tekstil seniman perempuan yang mengangkat nilai tradisi dalam pendekatan kontemporer.
Aspek keberlanjutan juga tecermin melalui Ecoprint Fashion Showcase yang terdiri dari Ecoprint Fashion Week dan Pop-Up Bazaar. Teknik pewarnaan ramah lingkungan yang ditampilkan menunjukkan bagaimana inovasi fesyen dapat berjalan seiring dengan kesadaran ekologis, sekaligus membuka peluang pasar bagi brand yang dipimpin perempuan.
Mall Direktur Lippo Mall Nusantara, Hiu Mulyawati, menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan ruang yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga produktif.
“Melalui Srikandi Vol. 2, kami ingin menghadirkan ruang yang membuka peluang bagi perempuan untuk terus berkarya, berkembang, dan membentuk karakter yang kuat. Kami percaya perempuan memiliki peran penting dalam membentuk industri kreatif yang lebih dinamis, sekaligus menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, penguatan peran perempuan dalam ekonomi kreatif tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi juga memerlukan dukungan ruang, jejaring, dan kolaborasi lintas sektor. Model sinergi semacam ini menjadi cerminan bagaimana ruang publik dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (put/E-1)
