
HARGA minyak mentah dunia meroket tajam sepanjang kuartal pertama tahun 2026 sebagai dampak langsung dari pecahnya perang dengan Iran. Minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur global, melonjak dari kisaran US$60 per barel di awal tahun menjadi lebih dari US$100 per barel pada akhir Maret.
Namun, lonjakan harga komoditas ini tidak serta-merta memberikan keuntungan instan bagi raksasa energi global. ExxonMobil (NYSE: XOM) justru melaporkan penurunan laba bersih yang cukup signifikan pada periode yang sama akibat gangguan operasional dan faktor teknis keuangan.
Rincian Kinerja Keuangan Kuartal I
ExxonMobil membukukan laba yang disesuaikan sebesar US$4,9 miliar (Rp83 triliun) atau US$1,16 per saham untuk kuartal pertama. Angka ini turun drastis dibandingkan perolehan US$7,3 miliar pada kuartal keempat tahun lalu dan US$7,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meskipun laba menurun, hasil ini sebenarnya masih melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memprediksi angka US$0,98 per saham. Penurunan kinerja ini dipicu oleh dua faktor utama:
- Gangguan Pasokan: Penutupan Selat Hormuz dan serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk Persia menyebabkan penurunan volume produksi di Qatar dan Uni Emirat Arab. Selain itu, badai musim dingin Fern mengganggu operasional di Kazakhstan dan Amerika Serikat.
- Efek Waktu Derivatif: Masalah estimasi waktu pada posisi derivatif memberikan dampak negatif sebesar US$3,9 miliar. Tanpa kendala teknis ini dan gangguan di Timur Tengah, laba Exxon diprediksi bisa mencapai US$8,8 miliar.
Produksi Global dan Strategi Transformasi
Total produksi global Exxon rata-rata mencapai 4,6 juta barel setara minyak per hari (BOE/d), turun dari hampir 5 juta BOE/d pada kuartal sebelumnya. Namun, perusahaan berhasil mengimbangi sebagian kerugian tersebut melalui rekor produksi baru di Guyana dan Permian Basin.
Catatan CEO: Darren Woods, CEO ExxonMobil, menyatakan bahwa bisnis inti perusahaan tetap memberikan hasil yang kuat berkat strategi transformasi sejak 2018. Penghematan biaya struktural kumulatif telah mencapai US$15,6 miliar sejak 2019.
Proyeksi Jangka Panjang hingga 2030
Exxon tetap optimistis terhadap masa depan di tengah volatilitas pasar. Perusahaan menargetkan pertumbuhan laba sebesar US$25 miliar dan pertumbuhan arus kas sebesar US$35 miliar pada 2030 dengan asumsi harga dan margin tetap berada pada level tahun 2024.
Meskipun perang dengan Iran diperkirakan masih akan membayangi hasil keuangan pada kuartal kedua, fundamental bisnis Exxon dinilai tetap kokoh. Bagi investor jangka panjang, saham XOM dianggap sebagai aset yang tahan banting (all-weather stock) karena kemampuannya menavigasi siklus naik-turun industri minyak yang tak terelakkan. (The Motley Fool/I-2)
| Indikator (Q1 2026) | Nilai |
|---|---|
| Laba yang Disesuaikan | US$4,9 Miliar |
| Laba per Saham (EPS) | US$1,16 |
| Produksi Harian | 4,6 Juta BOE/d |
| Harga Minyak Brent (Maret) | > US$100 / barel |
