
LIRIH kalimat talbiyah, “Labbaika Allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik,” terus mengalir dari bibir Tsamrotul Fuadah, seorang jemaah haji 2026 asal Indonesia. Di atas kursi roda yang melintas menuju Masjidil Haram, Mekah, Arab Saudi, suara guru sekolah dasar asal Tangerang Selatan itu bergetar. Ada rasa syukur yang membuncah di tengah keterbatasan fisik yang nyaris memupus asanya ke Tanah Suci.
Perjalanan ibadah Fuadah tahun ini merupakan sebuah anomali sekaligus mukjizat kecil baginya. Hanya sehari sebelum keberangkatan, Rabu (22/4), ia terjatuh dari tangga seusai acara pelepasan jemaah haji di Tangerang Selatan. Menurut dokter di RSUD Kota Tangerang, otot kakinya robek. Meski tanpa patah tulang, pelindung khusus kini harus mendekap kaki kirinya.
“Saya kira ini adalah panggilan Allah. Jika saat itu dokter menyatakan saya tidak memenuhi syarat istitaah, dengan legowo saya akan menerima. Tapi Allah berkata lain,” tutur Fuadah saat ditemui di Hotel Al-Hidayah, kawasan Aziziah, Mekah, Minggu (3/5).
Penantian 15 Tahun
Bagi Fuadah, keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan penuntasan janji selama 15 tahun. Di sisinya, Muhammad Amri Lubab, 24, setia mendampingi. Amri hadir menggantikan sang ayah yang wafat 1,5 tahun lalu melalui mekanisme pelimpahan porsi haji.
Puncak emosi itu pecah saat keduanya tiba di depan Ka’bah pada, Sabtu (2/5) sore, untuk melaksanakan umrah wajib. Di bawah langit Mekah, Amri menolak menggunakan jasa pendorong kursi roda profesional. Ia memilih mendorong sendiri sang ibu, menuntaskan tujuh putaran tawaf dan lintasan sa’i dengan tangannya sendiri.
“Saya sudah bilang pakai jasa pendorong saja, tapi dia tidak mau. Dia ingin membuktikan baktinya kepada orangtua,” kenang Fuadah dengan mata berkaca-kaca.
Usai menjalani tawaf dan sa’i, Fuadah tak kuasa menahan tangis. Ia memeluk erat putra bungsunya itu, pemuda yang akan merayakan ulang tahun tepat saat puncak haji 2026 pada 25 Mei mendatang.
Kesigapan Petugas
Kelancaran ibadah Fuadah tak lepas dari peran Tim Lansia dan Disabilitas (Landis) serta Tim Kesehatan PPIH Arab Saudi. Sejak di Madinah hingga tiba di Mekah, Fuadah mendapatkan perawatan intensif.
Sugita Esadora, petugas Landis Daerah Kerja Mekah, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan pendampingan total. “Kami membantu kebutuhan harian di hotel, mulai dari mandi hingga penggantian popok. Tim kesehatan juga melakukan visitasi tiga kali sehari untuk memastikan kondisi fisiknya stabil,” jelasnya.
Solidaritas sesama jemaah pun menjadi penguat. Teman sekamar Fuadah tak henti memberikan bantuan moral dan fisik, yang membuat keterbatasannya tak lagi menjadi penghalang berarti. Kini, Fuadah tinggal menunggu puncak haji 2026 di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Baginya, kesempatan untuk bersimpuh dan menyebut asma Allah di Tanah Suci adalah kemewahan yang tak ternilai. “Alhamdulillah, dengan kondisi keterbatasan ini, saya tetap diberi kesempatan untuk memenuhi panggilan-Nya,” pungkasnya. (H-4)
