
GELOMBANG pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat terus berlanjut hingga memasuki bulan keempat tahun 2026. Perusahaan raksasa seperti Nike dan Apple, hingga distributor alkohol besar Republic National Distributing Company (RNDC), menjadi nama terbaru yang masuk dalam daftar pelacak PHK nasional.
Berdasarkan data dari Worker Adjustment and Retraining Notification (WARN) Act, Nike melaporkan pemangkasan 172 pekerja di St. Charles, Missouri, pada 23 April lalu. Langkah ini merupakan bagian dari rencana besar perusahaan untuk merumahkan total 1.400 karyawan. Di hari yang sama, Apple juga mengajukan pemberitahuan penutupan toko di Maryland yang berdampak pada 78 pekerja.
Skala PHK Nasional Tahun 2026
Hingga awal Mei 2026, korporasi di Amerika Serikat mengumumkan hampir 1.600 pemberitahuan PHK yang berdampak pada lebih dari 128.000 pekerja. Meskipun angka ini 5% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pasar tenaga kerja tetap berada dalam kondisi yang tidak menentu.
RNDC mencatat angka pemangkasan yang signifikan dengan total lebih dari 3.000 pemutusan hubungan kerja di beberapa lokasi, termasuk Texas, South Carolina, dan Virginia.
- Total Pekerja Terdampak: >128.000 orang.
- Jumlah Pengumuman: ~1.600 pengumuman.
- Tren: Turun 5% dibandingkan tahun 2025.
- Sektor Terdampak Besar: Ritel (Nike, Apple), Logistik (UPS), Teknologi (Amazon).
Faktor Pemicu: Perang Iran dan Kecerdasan Buatan (AI)
Para ahli ekonomi melihat ada tren pendinginan dalam data WARN setelah lonjakan besar pada Januari lalu. Namun, ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang Iran serta kekhawatiran yang meningkat mengenai penggantian tenaga kerja oleh kecerdasan buatan (AI) membuat pasar tenaga kerja seolah tertahan.
“Kita memiliki pasar tenaga kerja yang stagnan dari perspektif makro. Perusahaan tidak banyak merekrut orang, tetapi mereka juga tidak memilih untuk melakukan PHK massal secara besar-besaran seperti sebelumnya,” ujar Laura Ullrich, direktur riset ekonomi di Indeed Hiring Lab.
Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JP Morgan, menambahkan bahwa pasar saat ini menunjukkan ketahanan tetapi sangat sensitif terhadap guncangan (shocks). “Pasar tenaga kerja saat ini tidak sedang memanas, namun juga tidak runtuh,” jelasnya dalam laporan terbaru.
Siklus PHK yang semakin Pendek
Bryan Creely, pendiri A Life After Layoff, menyoroti perubahan pola PHK di era modern. Jika dulu pekerja mungkin menghadapi risiko kehilangan pekerjaan sekali dalam satu dekade, kini siklus tersebut menyempit menjadi setiap 18 bulan hingga dua tahun sekali.
“Banyak pekerja mulai menyadari tanda-tanda peringatan, seperti perubahan nada bicara atasan dalam rapat atau pernyataan yang tidak biasa saat pertemuan internal perusahaan,” kata Creely. Ia menyarankan para pekerja untuk tetap proaktif, memperbarui resume secara berkala, dan tidak menunggu hingga situasi memburuk.
Data resmi mengenai lapangan kerja untuk April dijadwalkan akan dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada 8 Mei mendatang. Ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kesehatan ekonomi AS di tengah berbagai tekanan geopolitik dan teknologi. (USA Today/I-2)
