
INDUSTRI penerbangan global tengah menghadapi guncangan hebat. Berdasarkan data terbaru dari firma analitik penerbangan Cirium, berbagai maskapai di seluruh dunia membatalkan lebih dari 75.000 jadwal penerbangan untuk musim panas ini hanya dalam kurun waktu 10 hari pemantauan.
Analisis Cirium yang membandingkan jadwal penerbangan antara 24 April hingga 4 Mei menunjukkan pengurangan kapasitas yang drastis, dengan lebih dari 9,3 juta kursi dihapus dari pasar untuk periode perjalanan 1 Juni hingga 30 September 2026.
Penyumbang terbesar dari pembatalan massal ini ialah Spirit Airlines. Maskapai berbiaya rendah (LCC) asal Amerika Serikat tersebut resmi berhenti beroperasi pada Sabtu lalu setelah negosiasi dana talangan (bailout) federal menemui jalan buntu. Spirit menyumbang sekitar 70% dari total kursi yang dihapus atau setara dengan 33.000 penerbangan.
Manajemen Spirit menyatakan bahwa kenaikan harga minyak yang material dan tekanan bisnis lain menjadi alasan utama penghentian operasional. Sebelumnya, maskapai ini mengajukan restrukturisasi Bab 11 (Chapter 11) pada November 2024 dan Agustus 2025.
Dampak Perang Iran terhadap Harga Avtur
Krisis ini dipicu oleh lonjakan biaya operasional yang tidak terkendali. Perang di Iran menyebabkan harga bahan bakar jet (avtur) melonjak dua kali lipat. Menurut data International Air Transport Association (IATA), harga avtur sempat melampaui US$200 atau sekitar Rp1,7 juta per barel pada April, sebelum sedikit melandai ke angka US$180 per barel.
Mengingat bahan bakar termasuk pengeluaran terbesar kedua maskapai setelah biaya tenaga kerja, lonjakan ini memaksa maskapai besar lain untuk memangkas jadwal:
- United Airlines: Mengurangi lebih dari 21.000 penerbangan setelah melaporkan kenaikan biaya bahan bakar sebesar US$340 juta pada kuartal pertama.
- Delta Air Lines: Menghapus sekitar 7.300 penerbangan.
- American Airlines: Memotong sekitar 6.400 jadwal penerbangan.
Analisis Strategis: CEO United Airlines, Scott Kirby, menyatakan lebih memilih memangkas kapasitas sekarang daripada menanggung risiko terbang dengan kerugian akibat harga minyak yang tetap tinggi dalam jangka panjang.
Situasi di Eropa dan Peluang bagi Kompetitor
Krisis ini tidak hanya melanda Amerika Serikat. Di Eropa, Lufthansa membatalkan lebih dari 5.000 penerbangan untuk periode Juni-September. Bulan lalu, maskapai bendera Jerman ini bahkan mengumumkan pembatalan total 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober mendatang.
Namun, di tengah badai pembatalan, Frontier Airlines justru mengambil langkah agresif. Data Cirium menunjukkan Frontier menambah lebih dari 14.600 penerbangan ke jadwal musim panas mereka. Pascatutupnya Spirit Airlines, Frontier mengumumkan penambahan sembilan rute baru dan penerbangan harian di 18 pasar yang sebelumnya dikuasai oleh rivalnya tersebut.
Bagi konsumen, krisis kapasitas dan lonjakan biaya bahan bakar ini dipastikan akan berdampak pada kenaikan harga tiket pesawat dan biaya bagasi dalam beberapa bulan ke depan. (Business Insider/I-2)
