Monday, September 21

Sempat Ditegur karena Antre Lift, Acha Septriasa Cerita Culture Shock di Australia


Acha Septriasa menceritakan pengalaman culture shock saat tinggal di Australia, mulai dari etika antre lift hingga gaya hidup sederhana masyarakat setempat.(MI/Vicky Gustiawan)

ACHA Septriasa membagikan pengalaman culture shock (gegar budaya) yang dialaminya saat awal menetap di Australia. Salah satu hal yang paling membekas bagi sang aktris justru datang dari kebiasaan sederhana: etika antre lift.

Acha mengaku sempat kaget dengan aturan tidak tertulis yang berlaku di sana. Menurutnya, budaya antre di Australia sangat dijaga, termasuk saat menggunakan lift.

“Culture shock yang gimana banget tuh dulu awal-awal tinggal di Australia. Oh iya, ini sih, culture shock soal lift manner,” ujar Acha, saat ditemui di kawasan Kedoya, Jakarta, Selasa (26/5/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan antre lift di Australia berbeda dengan di Indonesia. Jika di Indonesia orang yang berada paling dekat dengan pintu biasanya bisa langsung masuk, di Australia prioritas diberikan kepada orang yang memang sudah lebih dulu berada di antrean.

“Kalau di Indonesia kan orang yang paling dekat lift bisa langsung masuk. Tapi kalau di sana, siapa pun yang sudah menunggu paling depan, dia yang paling berhak masuk ke lift,” jelasnya.

Pengalaman itu bahkan sempat membuat Acha ditegur karena tanpa sadar memotong antrean. Meski posisi lift sangat dekat dengannya, tindakan tersebut tetap dianggap tidak sopan.

“Aku kira sistemnya seperti di Indonesia. Padahal lift cuma dekat banget di depan mata aku, tetap tidak etis kalau menerobos antrean. Jadinya sempat dengar komentar seperti, ‘oh itu enggak sopan’,” katanya sambil tertawa.

Tak hanya soal kebiasaan sehari-hari, tinggal di Australia juga memberi Acha perspektif baru tentang cara menikmati hidup. Ia melihat masyarakat di sana cenderung menjalani gaya hidup yang lebih sederhana tanpa terlalu menonjolkan status sosial lewat konsumsi atau kemewahan materi.

Menurut Acha, baik kalangan berada maupun kelas menengah memiliki pola menikmati waktu yang relatif serupa. Mereka terbiasa menikmati hal-hal sederhana tanpa sekat gaya hidup yang terlalu mencolok.

“Di sana itu mau orang yang established, kaya banget, middle class, kebiasaannya dalam spend time sama saja. Makannya sama, minum kopinya sama, makan rotinya sama,” ujarnya.

Bagi Acha, hal yang dianggap mewah di Australia justru bukan barang mahal, melainkan kualitas hidup yang sulit diukur secara materi, seperti udara bersih, ketenangan, rasa aman, dan waktu yang berkualitas.

“Yang valuable itu quality of life yang intangible. Hal-hal seperti udara, pemandangan, ketenangan hati, rasa aman, itu justru luxury banget di sana,” tutur Acha.

Pengalaman tinggal di Australia membuat Acha memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari rasa nyaman dan kualitas hidup yang baik. (Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *