
DI punggung bukit yang menghadap ke Laut China Selatan, sekelompok Marinir Amerika Serikat (AS) yang berada di dalam kendaraan taktis membidik sebuah drone fixed-wing yang meluncur ke arah mereka. Meriam di atas kendaraan tersebut melepaskan tembakan, meninggalkan kepulan asap tipis di udara. Setelah beberapa kali percobaan, target berhasil dilumpuhkan dan jatuh ke laut.
Latihan yang berlangsung di Filipina pada April lalu ini memberikan gambaran AS berupaya mengatasi salah satu masalah paling mendesak dalam peperangan modern: melumpuhkan drone berbiaya rendah tanpa harus menguras anggaran dengan rudal yang harganya bisa sepuluh kali lipat lebih mahal dari targetnya.
Sistem Madis: Solusi Pertahanan Udara Terintegrasi
Bagi Korps Marinir AS, kendaraan yang mereka gunakan–yang dikenal sebagai Marine Air Defense Integrated System atau Madis–adalah bagian utama dari solusi tersebut. Madis terdiri dari dua kendaraan taktis ringan (JLTV) yang merupakan penerus Humvee.
- Kendaraan Pertama: Dilengkapi dengan radar canggih untuk mendeteksi dan mengunci target terbang seperti drone.
- Kendaraan Kedua: Membawa rudal Stinger untuk ancaman yang lebih besar.
Sistem ini juga memiliki kemampuan perang elektronik seperti jamming (pengacakan sinyal). Kedua kendaraan Madis dilengkapi dengan meriam dan senapan mesin yang menggunakan jenis amunisi baru untuk operasi anti-drone.
Efisiensi Biaya di Tengah Ancaman Drone
Di Timur Tengah, AS dan negara-negara Teluk menggunakan helikopter dan pesawat dengan senapan untuk menembak jatuh drone Iran. Namun, mereka juga sangat bergantung pada rudal udara-ke-udara seperti AIM-120 yang harga per unitnya mencapai US$1 juta (sekitar Rp17,7 miliar).
Ide utama dari Madis adalah memberikan opsi bagi komandan di lapangan, baik itu menggunakan peluru, rudal, atau perang elektronik. Dengan demikian mereka dapat memilih cara terbaik untuk melindungi pasukan tanpa harus kebobolan secara finansial.
- Amunisi 30mm (5 tembakan): ± US$11.250
- Drone Interseptor Coyote: US$100.000 – US$125.000
- Rudal Stinger: US$430.000
- Rudal AIM-120: US$1.000.000
*Sebagai perbandingan, drone Shahed Iran hanya berbiaya sekitar US$30.000.
Teknologi Amunisi 30mm dengan Proximity Fuze
Salah satu fitur paling menjanjikan dari Madis adalah kemampuannya menembakkan amunisi khusus 30mm dengan proximity fuze. Teknologi ini memungkinkan peluru meledak saat berada di dekat target, sehingga penembak tidak perlu mengenai sasaran secara langsung (direct hit).
Meskipun kurang akurat dibandingkan rudal, penggunaan amunisi ini jauh lebih ekonomis. Steven Sawyers, mantan teknisi amunisi NATO, memperkirakan bahwa meskipun dibutuhkan lima peluru untuk menjatuhkan satu drone, total biayanya hanya sekitar US$11.250 atau sekitar Rp200 juta.
Tantangan Produksi Massal
Meski lebih murah, tantangan besar bagi produsen pertahanan AS adalah memproduksi amunisi ini dalam jumlah yang cukup. Dibutuhkan ratusan ribu peluru untuk menghadapi ancaman drone yang masif di masa depan.
Perusahaan seperti Northrop Grumman dan L3Harris dilaporkan tengah meningkatkan skala produksi mereka untuk memenuhi permintaan proximity fuze yang melonjak. Hal ini menjadi krusial mengingat mobilitas Madis sangat penting bagi Marinir yang bersiap menghadapi potensi konflik di lingkungan kepulauan Indo-Pasifik, termasuk di Laut China Selatan.
Dalam latihan di Filipina tersebut, para Marinir akhirnya meluncurkan satu rudal Stinger sebagai penutup. Hasilnya? Drone tersebut jatuh hanya dengan satu kali tembakan, membuktikan bahwa meski opsi murah tersedia, kekuatan rudal tetap menjadi kartu as dalam situasi kritis. (WSJ/I-2)
