Saturday, September 26

Butet Kartaredjasa Serahkan Lukisan Jalan Salib Punakawan ke Paus Leo XIV


Budayawan Butet Kartaredjasa mencetak sejarah dengan menyerahkan langsung 14 lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV di Vatikan.(Vatican Media)

BUDAYAWAN dan seniman ternama Indonesia, Butet Kartaredjasa, menorehkan momen bersejarah di Vatikan. Ia menyerahkan langsung 14 karya lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa kepada Pemimpin Gereja Katolik Dunia, Paus Leo XIV, dalam acara audiensi umum di Lapangan Santo Petrus pada Rabu, 17 Juni 2026.

Rencana penyerahan karya seni ini sebenarnya telah dirintis KBRI untuk Takhta Suci sejak masa kepausan Paus Fransiskus pada tahun 2025, menyusul kunjungan historis sang Paus ke Indonesia pada 2024. Meskipun Paus Fransiskus kemudian berpulang, upaya diplomasi budaya ini tetap dilanjutkan hingga akhirnya Paus Leo XIV berkenan menerimanya.

Proses ini berjalan kelar berkat bantuan Sekretaris Negara Kota Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, yang menyambut hangat ide Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono. “Saat kami bertemu Kardinal Parolin di kantornya, kami tunjukkan kepadanya lukisan itu. Dan, Kardinal Parolin, sangat senang melihatnya serta mengatakan akan membantunya,” kata Dubes Trias.

Pada 26 Mei 2026, Vatikan resmi memberikan kesempatan kepada Butet untuk menyerahkan karyanya secara langsung. Dubes Trias menyatakan ini merupakan peristiwa pertama seorang seniman Indonesia menyerahkan karyanya sendiri langsung kepada Paus saat audiensi umum. “Tentu, ini sangat membanggakan, bukan saja bagi pelukisnya, Butet, tetapi juga bagi kita warga negara Indonesia,” jelasnya.

Dalam karya ini, Butet mengadopsi tokoh-tokoh Punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, ke dalam 14 stasi Jalan Salib. “Lukisan yang digambarkan dengan tokoh – tokoh Punakawan: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tersebut dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan sosialisasi nilai – nilai yang lebih dekat dengan masyarakat,” jelas Butet dalam acara bincang-bincang di KBRI untuk Takhta Suci.

Ia menilai kisah sengsara Yesus memiliki nilai yang sangat dalam, namun selama ini lebih banyak dipahami oleh umat Katolik saja. “Padahal, jika diasosiasikan dengan tokoh Punakawan yang sangat bersahabat dengan masyarakat mungkin lebih gampang dipahami,” ungkapnya. Dalam lukisan tersebut, tokoh Semar yang merupakan titisan dewa digambarkan sebagai sosok Yesus.

Dari 14 stasi yang ada, lukisan nomor 9 dipilih untuk diserahkan secara simbolis kepada Paus karena dianggap membawa keberuntungan dan menampilkan keempat tokoh Punakawan secara lengkap dalam satu bingkai. Karya ini diproduksi secara terbatas, yakni hanya 200 cetakan untuk setiap setnya.

Usai menyerahkan lukisan, Butet juga berkesempatan melakukan tradisi Baciamano atau mencium tangan Paus sebagai bentuk penghormatan mendalam. Momen ini menjadi pengalaman spiritual yang luar biasa bagi Butet, yang masa kecilnya tumbuh dalam pendidikan sekolah Katolik di Jogja.

“Ini peristiwa sangat bersejarah dan sangat luar biasa untuk saya dan istri saya. KTP saya itu Kristen, tapi ke gereja terakhir itu SMP. Tapi saya tergerak karena saya tumbuh dalam tradisi katolik,” ucap Butet. Ia menambahkan bahwa momen ini terasa sangat monumental dan surealistik baginya. (Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *