
RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) KHZ Musthafa Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mencatatkan pencapaian medis signifikan dengan berhasil menyelamatkan tiga pasien stroke infark melalui terapi trombolisis. Keberhasilan ini menjadi yang pertama dilakukan oleh fasilitas kesehatan di wilayah Priangan Timur.
Direktur RSUD KHZ Musthafa, Eli Hendalia, menjelaskan bahwa layanan trombolisis ini merupakan langkah nyata dalam menangani stroke infark, yakni kondisi tersumbatnya aliran darah di otak. Rumah sakit kini dilengkapi dengan sistem peringatan dini melalui aktivasi code stroke yang bertujuan melarutkan sumbatan agar aliran darah kembali normal.
“Layanan trombolisis adalah bentuk cepat tanggap bagi pasien stroke infark. Terapi ini berfungsi memulihkan aliran darah di otak sebelum terjadi kerusakan permanen. Peluang kesembuhan pasien akan jauh lebih besar jika ditangani dalam hitungan jam sejak gejala pertama muncul,” ujar Eli Hendalia, Sabtu (20/6/2026).
Eli menambahkan, RSUD KHZ Musthafa menyediakan obat trombolitik sebagai komponen utama terapi. Keberhasilan penanganan sangat bergantung pada kecepatan respons sejak pasien tiba di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Petugas medis ditargetkan melakukan identifikasi awal dalam waktu kurang dari 10 menit.
“Pasien akan menjalani pemeriksaan CT scan, kemudian dibawa ke ruang stroke corner untuk mendapatkan terapi trombolisis sesuai indikasi medis. Kami telah membentuk sistem terintegrasi yang melibatkan dokter spesialis saraf, bedah saraf, tim IGD, perawat, laboratorium, radiologi, hingga farmasi untuk memastikan penanganan stroke akut berjalan optimal,” katanya.
Nia, 50, warga Leuwisari, mengungkapkan rasa syukurnya atas penanganan cepat yang diterima ayahnya. Sebelumnya, sang ayah mengalami gangguan stroke infark hingga kehilangan kemampuan berbicara.
“Alhamdulillah, setelah ditangani sekitar satu jam, ayah saya sudah bisa berbicara kembali. Awalnya dokter menyatakan ada penyumbatan pembuluh darah di otak, tetapi setelah terapi trombolisis, kondisinya kembali normal,” tutur Nia.
Pencapaian ini diharapkan dapat meningkatkan standar pelayanan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya, khususnya dalam penanganan kasus darurat saraf yang membutuhkan tindakan cepat dan presisi. (I-2)
