Monday, September 21

ESDM dan PLN Percepat Pemerataan Listrik Desa dan BPBL 2026


Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia (kedua dari kiri) saat melakukan penyalaan simbolis listrik di rumah salah satu penerima manfaat Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) 2026 di Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabup(MI/HO)

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) terus mengakselerasi pemerataan akses energi di seluruh pelosok negeri. Melalui sinergi Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), pemerintah berkomitmen mewujudkan keadilan sosial dengan memastikan seluruh lapisan masyarakat mendapatkan hak dasar berupa akses listrik.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ketersediaan listrik merupakan kunci utama bagi kemajuan pendidikan dan digitalisasi. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan penyalaan simbolis listrik bagi penerima manfaat BPBL di Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026).

“Bagaimana orang bisa sekolah pintar, bagaimana orang bisa akses informasi dengan cepat kalau tidak ada akses digitalisasi. Listrik adalah infrastruktur dasar yang harus dipenuhi agar anak-anak kita bisa belajar dengan baik,” ujar Bahlil.

Target dan Realisasi Program BPBL

Program BPBL dirancang khusus untuk membantu masyarakat prasejahtera yang tinggal di wilayah yang sudah memiliki jaringan listrik, namun belum mampu membayar biaya penyambungan baru. Pada tahun 2026, pemerintah mematok target yang lebih besar dibandingkan capaian tahun sebelumnya.






Cakupan Wilayah Realisasi 2025 (Rumah Tangga) Target 2026 (Rumah Tangga)
Nasional (Seluruh Indonesia) 220.845 225.000
Provinsi Jawa Tengah 19.161 24.000

Menjangkau Wilayah 3T melalui Lisdes

Selain BPBL, pemerintah juga fokus pada Program Listrik Desa (Lisdes) untuk menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Bahlil menjelaskan bahwa kehadiran negara sangat krusial di wilayah-wilayah yang secara bisnis sulit dijangkau oleh PLN karena jaraknya yang jauh dari gardu induk.

“Arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto jelas, ini bukan soal untung rugi atau mahalnya biaya, tapi soal pelayanan. Setiap warga negara punya hak yang sama untuk mendapatkan listrik,” tegasnya.

Untuk mendukung program ini, PLN telah melakukan pembangunan infrastruktur masif sepanjang tahun 2025, meliputi:

  • Jaringan Tegangan Menengah (JTM): 4.856,17 kilometer sirkuit (kms).
  • Jaringan Tegangan Rendah (JTR): 3.662,68 kilometer sirkuit (kms).
  • Gardu Distribusi: Kapasitas total 105.280 kilovolt ampere (kVA).






Program Lisdes Realisasi 2025 (Lokasi) Target 2026 (Lokasi)
Nasional 1.403 1.520
Provinsi Jawa Tengah 113 16

Dampak Nyata bagi Ekonomi Rakyat

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan kesiapan pihaknya untuk terus memperluas infrastruktur kelistrikan guna meningkatkan rasio elektrifikasi nasional. Menurutnya, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan penggerak roda ekonomi masyarakat.

Manfaat ini dirasakan langsung oleh Markamah (58), seorang penganyam bambu di Purworejo. Sebelum mendapatkan bantuan listrik, aktivitas produksinya terbatas pada siang hari. “Alhamdulillah, sekarang sudah punya listrik sendiri. Sangat bermanfaat untuk keluarga. Kalau malam, saya sekarang bisa lembur bikin besek (anyaman bambu),” ungkapnya penuh syukur. (RO/Z-1)

Program BPBL dan Lisdes merupakan bagian dari strategi nasional untuk memastikan energi yang berkeadilan dan mendukung peningkatan kualitas hidup serta produktivitas masyarakat prasejahtera di seluruh pelosok Indonesia.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *