Wednesday, September 30

Kesepian Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung


Ilustrasi(Magnific)

KESEPIAN tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan jantung dan otak secara signifikan. Sebuah laporan ilmiah dari American Heart Association (AHA) menyoroti kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Laporan ini merangkum berbagai penelitian, yang menunjukkan orang yang merasa terisolasi secara sosial atau mengalami kesepian memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan kesehatan serius dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial yang sehat dan aktif.

Kesepian Sering Diabaikan

Dalam laporan tersebut, para peneliti menegaskan isolasi sosial dan kesepian masih sering tidak dianggap sebagai faktor utama dalam kesehatan jantung dan otak. Padahal dampaknya cukup besar.

Pemiimpin kelompok penyusun laporan tersebut, Dr. Crystal Wiley Cene menjelaskan bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan kuat antara kesepian dan penurunan kesehatan secara umum.

“Ada bukti yang kuat yang mengaitkan isolasi sosial dan kesepian dengan peningkatan risiko kesehatan jantung dan otak yang lebih buruk secara umum,” ujar Cene.

Ia juga menambahkan penelitian mengenai beberapa kondisi spesifik seperti gagal jantung, demensia, dan gangguan kognitif masih terbatas dan membutuhkan kajian lebih lanjut.

Temuan dalam laporan tersebut menunjukkan hubungan paling kuat terlihat pada penyakit jantung dan stroke. Orang yang mengalami isolasi sosial atau kesepian diketahui memiliki risiko sekitar 29% lebih tinggi untuk mengalami serangan jantung atau kematian akibat penyakit jantung, serta sekitar 32% lebih tinggi untuk mengalami stroke.

Selain itu, kondisi ini juga dapat memperburuk prognosis pada pasien yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung koroner atau stroke, termasuk meningkatkan risiko kekambuhan dan kematian.

Hubungannya dengan Gangguan Kesehatan Mental

Laporan AHA juga menemukan adanya hubungan timbal balik antara kesepian dan gangguan kesehatan mental, terutama depresi. Orang yang merasa kesepian lebih rentan mengalami depresi, sementara mereka yang mengalami depresi juga lebih mungkin menjadi terisolasi secara sosial.

Namun, hubungan antara kesepian dengan demensia dan gangguan kognitif masih belum konsisten berdasarkan data yang ada.

Gaya Hidup dan Faktor Lingkungan Ikut Berperan

Kesepian tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari. Individu yang mengalami isolasi sosial cenderung kurang aktif secara fisik, mengonsumsi lebih sedikit buah dan sayur, serta lebih sering menjalani gaya hidup sedentari.

Beberapa studi juga menemukan kesepian berkaitan dengan peningkatan kebiasaan merokok, yang semakin memperburuk risiko penyakit jantung dan otak.

Selain itu, faktor lingkungan seperti kondisi tempat tinggal, akses transportasi, kualitas hubungan keluarga, hingga dampak pandemi dan bencana alam juga dapat memengaruhi tingkat keterhubungan sosial seseorang.

Para ahli menilai kesepian perlu ditangani sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit jantung dan otak. Salah satu langkah yang disarankan adalah dengan meningkatkan interaksi sosial melalui kegiatan komunitas, olahraga, dan program di pusat lansia.

Cene juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam mendeteksi kondisi ini sejak dini. “Tenaga kesehatan sebaiknya menanyakan seberapa sering pasien melakukan aktivitas sosial dan apakah mereka puas dengan hubungan sosialnya dengan keluarga dan teman,” kata Cene.

Ia menambahkan bahwa pasien yang teridentifikasi mengalami isolasi sosial atau kesepian, terutama yang memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke, sebaiknya dirujuk ke layanan atau komunitas yang dapat membantu mereka membangun kembali koneksi sosial. (American Heart Association/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *