Friday, September 25

150 Tahun Jadi Misteri, Bunga Cantik Asal Tiongkok Ini Ternyata Pemakan Daging


Ilmuwan temukan Saxifraga candelabrum sebagai tumbuhan pemakan daging.(Dok. Magnific)

SEBUAH penemuan revolusioner dalam dunia botani berhasil membuktikan hipotesis Charles Darwin yang telah berusia lebih dari 150 tahun. Para ilmuwan menemukan bahwa bunga liar mungil asal Tiongkok, Saxifraga candelabrum, ternyata merupakan tumbuhan pemakan daging atau karnivora.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini mengonfirmasi bahwa anggota keluarga Saxifragaceae memiliki kemampuan untuk memangsa dan mencerna serangga. Hal ini mematahkan keyakinan lama bahwa sifat karnivora hanya terbatas pada kelompok tumbuhan tertentu seperti kantong semar atau venus flytrap.

Dugaan Darwin yang Terbukti Benar

Pada tahun 1875, Charles Darwin melalui bukunya Insectivorous Plants sempat mencurigai beberapa spesies Saxifraga memiliki sifat karnivora karena adanya rambut lengket yang menjebak serangga. Namun, keterbatasan teknologi saat itu membuat Darwin tidak bisa membuktikan apakah tanaman tersebut benar-benar mencerna mangsanya.

Hang Sun, peneliti dari Kunming Institute of Botany, Chinese Academy of Sciences, menyatakan bahwa timnya terinspirasi oleh catatan Darwin tersebut. Melalui pengujian modern, mereka berhasil memvalidasi bahwa tanaman ini tidak sekadar menjebak, tetapi juga menyerap nutrisi dari serangga yang tertangkap.

Mekanisme Perangkap dan Pencernaan

Saxifraga candelabrum tumbuh di habitat ekstrem pada ketinggian 2.500 hingga 3.300 meter di atas permukaan laut, tepatnya di lereng berbatu Pegunungan Hengduan dan Dataran Tinggi Qinghai-Tibet. Batang dan cabangnya dipenuhi rambut merah lengket yang berfungsi sebagai perangkap alami bagi serangga kecil seperti lalat midge.

Berdasarkan data penelitian, para ilmuwan menemukan bukti kuat proses pencernaan:

  • Enzim Fosfatase: Rambut lengket tanaman memproduksi enzim pencernaan untuk memecah jaringan tubuh serangga.
  • Isotop Nitrogen: Pengujian menunjukkan nitrogen dari tubuh serangga berpindah dan diserap ke jaringan tanaman, terutama menuju bagian bunga.

Adaptasi di Lingkungan Miskin Nutrisi

Kemampuan memangsa ini merupakan strategi bertahan hidup di tanah yang sangat miskin nitrogen. Menariknya, nutrisi dari serangga dialirkan secara maksimal ke bunga untuk mendukung proses reproduksi, mengingat spesies ini hanya berbunga satu kali seumur hidup.

Selain itu, tanaman ini memiliki mekanisme seleksi yang unik. Perangkap lengketnya hanya efektif menangkap serangga kecil, sementara serangga penyerbuk yang lebih besar seperti lebah tetap bisa melepaskan diri. Strategi ini memungkinkan tanaman mendapatkan nutrisi tambahan tanpa mengganggu proses penyerbukan yang krusial bagi kelangsungan hidupnya.

Penemuan ini membuka babak baru dalam penelitian botani, mengingat kelompok Saxifragales mencakup lebih dari 2.000 spesies yang berpotensi memiliki kemampuan serupa namun belum teridentifikasi. (Z-10)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *