Friday, September 18

Perubahan Sistem Pangan Nasional Dimulai dari Kebiasaan Keluarga di Rumah


Peserta mengikuti kegiatan Family Fun Food Day yang digelar KSPL bersama Buibu Baca Buku (BBB) Book Club di Tebet Eco Park, Jakarta, Sabtu (25/7). Kegiatan ini mengajak keluarga menerapkan pola makan sehat berbasis pangan lokal dan mengurangi limbah makana(MI/Chatrine Simanjuntak)

PERUBAHAN sistem pangan nasional tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau teknologi pertanian. Bagi Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL), perubahan justru dimulai dari keputusan sederhana yang diambil setiap hari di rumah, mulai dari memilih menu, memasak, menyajikan makanan, hingga mengelola sisa makanan.

Pesan tersebut disampaikan KSPL dalam kegiatan Family Fun ‘Food’ Day yang digelar bersama Buibu Baca Buku (BBB) Book Club untuk memperingati Hari Anak Nasional. 

Melalui kegiatan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, KSPL ingin menunjukkan bahwa membangun sistem pangan yang sehat, beragam, dan berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan keterlibatan ayah dan anak.

“Kami ingin keluarga tidak hanya menghabiskan waktu bersama, tetapi juga belajar bahwa membangun sistem pangan di rumah adalah tanggung jawab semua anggota keluarga,” kata Gina Karina, Kepala Sekretariat KSPL.

Sebanyak 90 keluarga mendaftar dalam kegiatan tersebut, namun hanya 15 keluarga yang dipilih mengikuti berbagai tantangan edukatif mengenai pangan sehat, pengelolaan limbah makanan, hingga pengenalan bahan pangan lokal.

Makanan Sehari-hari Menentukan Masa Depan Anak

Menurut Gina, tantangan terbesar sistem pangan Indonesia saat ini bukan hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergantung pada makanan instan dan pangan ultra-proses.

Di banyak keluarga, makanan instan dipilih karena dianggap lebih praktis atau menjadi jalan keluar ketika anak sulit makan. Padahal, kebiasaan tersebut dapat membentuk preferensi rasa anak sejak dini.

“Kalau sejak kecil anak dibiasakan mengonsumsi makanan asli atau real food, preferensi makannya akan terbentuk lebih baik. Memang perlu usaha, tetapi kebiasaan itu bisa dibangun melalui keluarga,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa makanan bukan satu-satunya faktor yang menentukan tumbuh kembang anak. Namun, asupan bergizi menjadi salah satu fondasi penting bagi kesehatan fisik maupun perkembangan otak pada masa emas pertumbuhan.

Peran Ayah Tak Kalah Penting

Selama ini, urusan makanan keluarga sering dianggap sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu. KSPL menilai anggapan tersebut perlu diubah.

Dalam kegiatan tersebut, ayah, ibu, dan anak mendapat peran berbeda di setiap permainan. Tujuannya agar seluruh anggota keluarga memahami bahwa setiap keputusan mengenai pangan merupakan tanggung jawab bersama.

Menurut Gina, keputusan membeli makanan, menentukan menu harian, hingga membiasakan anak mengonsumsi pangan sehat dipengaruhi oleh seluruh anggota keluarga.

“Ibu memang sering menjadi pengambil keputusan saat memasak. Tetapi pilihan makan anak dan dukungan ayah juga sangat menentukan. Karena itu edukasi harus diberikan kepada seluruh keluarga,” katanya.

Kurangi Limbah Makanan dari Rumah

Selain pola makan sehat, KSPL juga menyoroti tingginya limbah makanan rumah tangga.

Melalui berbagai aktivitas, peserta dikenalkan pada cara mengelola sisa makanan, memahami pentingnya porsi makan yang sesuai, hingga memanfaatkan sampah organik agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.

Menurut Gina, rumah tangga merupakan salah satu penyumbang terbesar food waste dari sisi konsumsi. Karena itu, perubahan kebiasaan di tingkat keluarga dinilai dapat memberi dampak besar terhadap sistem pangan secara keseluruhan.

“Kalau setiap keluarga mulai mengurangi limbah makanan, dampaknya akan terasa secara luas,” ujarnya.

Literasi Jadi Pintu Masuk Perubahan

Kolaborasi dengan Buibu Baca Buku (BBB) Book Club juga menjadi bagian dari upaya memperluas literasi pangan di masyarakat.

Komunitas nirlaba tersebut selama ini berfokus memberdayakan perempuan, khususnya para ibu, melalui literasi, berpikir kritis, serta edukasi mengenai isu iklim dan ketahanan pangan.

Pendekatan itu dipilih karena keputusan terkait makanan sehari-hari, mulai dari belanja, memasak, penyimpanan, hingga pengelolaan sampah makanan, banyak bermula dari lingkungan keluarga.

Bagi KSPL, transformasi sistem pangan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Perubahan juga harus tumbuh dari masyarakat melalui kebiasaan sehari-hari.

“Transformasi sistem pangan hanya bisa terjadi jika semua pihak bergerak bersama. Pemerintah, komunitas, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Perubahan itu dimulai dari rumah dan dari meja makan keluarga,” kata Gina. (Z-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *