
DI tengah riuk industri kreatif yang bergerak cepat, sosok Melissa Sunjaya seorang seniman visual, perancang, sekaligus pendiri merek seni kriya dan tekstil lokal tulisan memilih melangkah dengan ritme yang terukur dan penuh kesadaran.
Sejak awal, Melissa mendefinisikan ulang cara memandang objek kebutuhan harian, mulai dari tas hingga lembar kain bergambar lukisan tangan (hand-drawn art). Baginya, karya-karya tersebut tidak sekadar barang konsumsi estetis, melainkan sebagai perantara untuk menyampaikan cerita, pemikiran, dan eksperimen literasi publik.
Keterikatan Melissa pada dunia seni bukan sekadar urusan estetika visual. Pengalaman hidupnya membentuk cara pandang yang sangat personal terhadap profesi, keberlanjutan lingkungan, hingga keberanian untuk mendobrak batasan-batasan konvensional yang kerap mengotakkan peran seorang perempuan dan pekerja kreatif.
Hidupkan ‘tulisan’ Lewat Objek Harian
Didirikan pada 2010, langkah Melissa merintis tulisan berangkat dari dorongan untuk menghadirkan medium komunikasi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, ketimbang terpaku pada format bacaan konvensional.
“Aku mendirikan tulisan karena ingin sekali menciptakan agen literasi melalui sesuatu yang bukan melalui buku, tetapi sesuatu dari objek sehari-hari yang kita pakai,” ungkap Melissa Sunjaya saat dijumpai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).
Kecintaannya pada dunia desain dan seni tekstil menjadi bahan bakar utama yang menjaganya tetap bertahan. Melissa mengenang bagaimana perjalanan kariernya kerap dihantam berbagai ujian berat. Namun, baginya, keberadaan impian yang jelas dan dedikasi penuh adalah kunci utama untuk melalui masa-masa sulit tersebut.
“Karena cinta aku sama bidang ini. Jadi ketika (kita) terbentur banyak tantangan, (bahkan) hampir bangkrut segala macam, tapi kalau kita mengerjakan sesuatu itu dengan passion, pastinya tuh kita punya dedikasi khusus ketika kita terbentur sesuatu yang berat,” kenangnya.
Rayakan Imperfeksi dan Etika Kriya
Kesadaran akan etika produksi dan lingkungan mendorong Melissa menerapkan metode kerja yang adil serta ramah lingkungan, salah satunya penggunaan cat berbasis air non-toksik. Menariknya, dalam proses manual yang memakan waktu riset hingga 120 jam per karya ini, ia justru merayakan setiap imperfeksi cetakan sebagai karakter otentik buatan tangan.
“Proses manual ini menghasilkan perbedaan-perbedaan kecil (yang) membuatnya memiliki karakter masing-masing. Kami tidak melihatnya sebagai kesalahan. Justru di situ proyek manusia masih berjalan,” tegas Melissa.
Bagi Melissa, keberlanjutan bisnis bukan sekadar menghasilkan produk yang unik, melainkan memastikan seluruh prosesnya memberdayakan para pekerja kriya secara layak. “Keberlanjutan bagi kami juga berarti menjaga keterampilan artisanal, memperpanjang usia objek sehari-hari, dan memastikan para pengrajin ini diberdayakan secara adil,” tambahnya.
Jujur pada Akar Sejarah Tanpa Rasa Malu
Dalam memandang dirinya sendiri, Melissa adalah sosok yang berani bersuara jujur, termasuk ketika berhadapan dengan masa lalu keluarganya yang sensitif. Keturunan dan latar belakang pribadinya mengajarkan bahwa banyak hal dalam sejarah sosial masyarakat yang sengaja disembunyikan karena dianggap memalukan oleh norma-norma lama.
Salah satu cerita yang paling membentuk cara pandangnya adalah riwayat nenek buyutnya yang dijadikan Nyai pada era kolonial, yakni sebutan bagi perempuan pribumi yang dipersunting oleh pria Belanda tanpa ikatan pernikahan resmi. Meski kisah tersebut sempat dianggap sebagai beban tersendiri oleh keluarganya, Melissa justru memilih untuk menerima dan menghormati sejarah itu apa adanya tanpa rasa malu.
“Di keluarga aku sendiri, buat mereka tuh sesuatu yang memalukan. Tapi buat aku (berani) bercerita, ‘ini Nyai aku, ini nenek aku’. Buat keluarga aku berat, tapi aku ingin bisa membicarakannya, karena aku sangat bangga pada beliau dan aku ingin mengingat beliau apa adanya, enggak aku harum-harumkan,” ujar Melissa.
Pengalaman hidup tersebut menuntunnya pada pemahaman mendalam tentang bagaimana perempuan kerap kali dipandang secara sebelah mata atau hanya dinilai berdasarkan status orang-orang di sekitarnya. Melalui keberanian mengenali akar sejarah pribadinya, Melissa ingin membebaskan cara berpikirnya dari pola pandang lama yang mengekang.
Menolak Dikotakkan
Berbekal pengalaman selama 15 tahun bekerja di luar negeri sebagai pakar strategi merek global, Melissa menyadari bahwa tantangan terbesar merek lokal sering kali bukan pada kualitas produk, melainkan pada cara bangsa ini menilai kapasitas dirinya sendiri. Masih ada krisis kepercayaan diri dan kecenderungan untuk membatasi potensi diri dalam kotak-kotak sempit.
Keberanian untuk mendobrak cara pandang yang membatasi itu juga ia terapkan pada perjalanan personalnya. Melissa menolak dengan tegas dorongan untuk melabeli dirinya ke dalam satu kotak profesi yang kaku. Ia memandang kehidupannya sebagai paduan dari berbagai peran yang dijalani dengan penuh kesadaran dan kebebasan berekspresi.
“Aku enggak akan terpenjara sama mental cage. Aku enggak mau dibilang cuma milik seni rupa, pebisnis, atau desainer. I’m a slasher. Aku ibu, pemimpin, orang gila, orang yang suka berkhayal,” tutur Melissa.
Bagi Melissa Sunjaya, berkarya adalah cara paling pribadi untuk berdialog dengan dunia luar. Ia ingin setiap karya, sketsa, dan langkah yang ia ambil menjadi ajakan bagi siapa saja untuk tidak takut mempertanyakan batasan, merawat ingatan personal, dan berani menceritakan kisahnya sendiri secara jujur kepada dunia.
