
INDUSTRI buku anak di Indonesia terus menunjukkan tren pertumbuhan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya literasi sejak usia dini. Namun, di balik peningkatan permintaan terhadap buku anak, tantangan untuk membangun budaya membaca yang berkelanjutan masih menjadi pekerjaan rumah.
Data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada pertengahan 2025 menunjukkan penjualan buku anak meningkat 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Segmen tersebut juga menjadi salah satu kategori paling diminati dalam Indonesia International Book Fair (IIBF) 2025, mencerminkan semakin besarnya perhatian orang tua terhadap penyediaan bacaan berkualitas bagi anak.
Meski demikian, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Survei GoodStats menunjukkan kurang dari 21% masyarakat membaca setiap hari.
Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyebut tingkat kegemaran membaca nasional baru berada di kisaran 20%-25%, atau sekitar satu dari lima penduduk yang memiliki kebiasaan membaca.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri penerbitan untuk terus berinovasi agar buku tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Tidak hanya menarik secara visual, buku anak kini dituntut mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus berkontribusi pada pembentukan karakter.
Di tengah perkembangan tersebut, Ziyadbooks, penerbit yang berfokus pada buku anak dan edukasi, meraih Brand Indonesia Excellence Award 2026 kategori Stationery & Books yang diselenggarakan INFOBRAND.ID bersama TRAS N CO Indonesia. Penghargaan itu dinilai menjadi pengakuan atas konsistensi perusahaan dalam menghadirkan buku edukatif bagi keluarga Indonesia.
CEO Ziyadbooks, Rubiyanta, mengatakan inovasi menjadi kunci agar buku tetap memiliki tempat di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin didominasi media digital.
“Kami percaya bahwa buku memiliki peran besar dalam membentuk cara berpikir dan karakter anak sejak dini. Karena itu, setiap produk perlu dirancang dengan memperhatikan kualitas materi dan pengalaman belajar yang menyenangkan,” ucap dia dikutip dari siaran pers yang diterima, Kamis (6/8).
Menurut Rubiyanta, penghargaan tersebut bukan sekadar apresiasi terhadap perusahaan, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus menghadirkan buku yang mengedepankan kualitas isi sekaligus nilai-nilai edukatif.
“Kami berusaha menghadirkan buku yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan. Meski bukan pekerjaan mudah, kami percaya setiap langkah kecil akan memberikan dampak besar bagi masa depan anak-anak Indonesia,” katanya.
Ia menilai kehadiran media digital tidak serta-merta menggeser peran buku cetak. Sebaliknya, buku masih memiliki fungsi penting sebagai media belajar yang mampu membangun interaksi, konsentrasi, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak dini.
Untuk memperluas akses masyarakat terhadap bacaan edukatif, Ziyadbooks terus memperkuat jaringan distribusi melalui kanal daring maupun luring. Langkah tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga sekaligus memperkuat ekosistem literasi di berbagai daerah.
Rubiyanta menambahkan, tantangan terbesar industri penerbitan ke depan bukan hanya meningkatkan penjualan buku, tetapi membangun kebiasaan membaca yang berkelanjutan di tengah anak-anak Indonesia.
“Kami berharap semakin banyak anak Indonesia yang tumbuh dengan buku sebagai sahabatnya. Karena buku dapat mengajarkan pengetahuan sekaligus nilai-nilai kehidupan yang akan membentuk karakter mereka di masa depan,” pungkasnya. (E-1)
