Wednesday, September 23

Kolaborasi Geosains Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Efisiensi Proyek Strategis


Seequent Connect Indonesia 2026 digelar di Fairmont Jakarta, Kamis (6/8). Kegiatan yang diselenggarakan Seequent, bagian dari The Bentley Subsurface Company, ini diikuti lebih dari 100 profesional dari sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastru(Dok. Seequent)

PEMAHAMAN terhadap kondisi bawah permukaan (subsurface) semakin menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan proyek di sektor pertambangan, panas bumi, energi, hingga infrastruktur. 

Informasi mengenai kondisi geologi, struktur batuan, karakteristik tanah, dan potensi risiko di bawah permukaan menjadi dasar dalam menentukan desain proyek, lokasi pengeboran, hingga langkah mitigasi risiko teknis. Tanpa data yang memadai, proyek berpotensi menghadapi pembengkakan biaya, keterlambatan pekerjaan, maupun perubahan desain di tengah pelaksanaan.

Di sisi lain, pelaku industri juga masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan berbagai informasi geosains yang sering kali tersebar di beragam sistem. Padahal, data bawah permukaan yang saling terhubung (connected subsurface information) dinilai penting agar seluruh tim proyek dapat menggunakan informasi yang sama dalam menganalisis kondisi lapangan dan mengambil keputusan secara lebih cepat serta akurat.

Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Seequent Connect Indonesia 2026 yang digelar di Fairmont Jakarta, Kamis (6/8). Kegiatan yang diselenggarakan Seequent, bagian dari The Bentley Subsurface Company, ini diikuti lebih dari 100 profesional dari sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur, serta melibatkan akademisi dan asosiasi profesi.

Forum yang didukung Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI) tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan, antara lain PT Vale, Ormat Technologies, PT Promisco, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), MGEI, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Seequent.

Berbagai sesi diskusi membahas pentingnya penyajian informasi geosains yang konsisten dan saling terhubung, pemanfaatan energi panas bumi untuk mendukung operasi pertambangan, hingga penerapan pemodelan geologi tiga dimensi (3D) dan analisis geoteknik tingkat lanjut. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku industri mengurangi ketidakpastian, mengidentifikasi risiko teknis sejak tahap awal, serta meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan proyek.

Direktur Pengembangan Bisnis Seequent, Scott Moore, mengatakan Indonesia merupakan salah satu pasar strategis perusahaan di kawasan Asia Pasifik. Menurutnya, sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur sama-sama membutuhkan pemahaman subsurface yang lebih baik agar keputusan proyek dapat diambil dengan lebih tepat.

“Indonesia merupakan salah satu pasar terpenting Seequent di kawasan Asia Pasifik. Sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur di Indonesia sama-sama bergantung pada pemahaman yang lebih baik terhadap kondisi subsurface. Seequent Connect Indonesia 2026 adalah wujud inisiatif dan investasi berkelanjutan kami dalam kemitraan lokal yang kuat, pengembangan kapasitas profesional, dan dukungan dalam pengambilan keputusan di area subsurface yang lebih strategis dan meyakinkan,” ujar Scott.

Menurutnya, kebutuhan terhadap data bawah permukaan yang akurat akan semakin meningkat seiring target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Untuk mendukung agenda tersebut, sektor mineral, panas bumi, energi, dan infrastruktur memerlukan informasi geosains yang dapat dipercaya, didukung keahlian teknis serta perangkat lunak yang mampu membantu tim proyek mengenali risiko sejak tahap awal dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Seequent menilai pemanfaatan teknologi pemodelan bawah permukaan tidak hanya meningkatkan kualitas analisis geologi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap efisiensi biaya, produktivitas, dan ketepatan pelaksanaan proyek. Pengalaman tersebut telah diterapkan pada sejumlah proyek di Indonesia.

Pada proyek tambang nikel PT Stargate di Sulawesi, penggunaan perangkat lunak Seequent mendukung penghematan biaya pengeboran hingga US$8 juta, mengurangi kebutuhan pengeboran sebesar 80 persen, serta meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga 50 persen.

Sementara itu, pada proyek Unit 3 Lumut Balai milik Pertamina Geothermal Energy, penerapan pemodelan bawah permukaan multidisiplin membantu menurunkan biaya pengeboran dari sekitar US$9 juta menjadi US$7,5 juta.

Di sektor infrastruktur, teknologi Bentley dan Seequent juga diterapkan pada proyek Jalan Trans-Papua yang dikerjakan PT Hutama Karya. Optimalisasi desain melalui pemodelan bawah permukaan menghasilkan penghematan biaya sekitar US$1 juta sekaligus mempercepat penyelesaian proyek hingga dua bulan.

Selain forum diskusi, Seequent Connect Indonesia 2026 menjadi penutup rangkaian program pembelajaran teknis selama tiga hari di Jakarta. 

Pada dua hari sebelumnya, para profesional pertambangan mengikuti lokakarya berbasis instruktur mengenai pemodelan geologi tiga dimensi dan estimasi sumber daya menggunakan Leapfrog Geo dan Leapfrog Edge. Secara paralel, peserta juga mengikuti pelatihan GeoStudio yang membahas analisis stabilitas lereng, rembesan, serta pemodelan tiga dimensi untuk mendukung proyek pertambangan maupun infrastruktur yang kompleks.

Ketua Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia (MGEI), Rosalyn Wullandhary, mengatakan penguatan kapasitas geosains membutuhkan sinergi yang lebih erat antara industri, asosiasi profesi, dan perguruan tinggi.

“Sektor geosains Indonesia akan terus berkembang melalui kolaborasi yang lebih erat antara industri, asosiasi profesi, dan akademisi. Acara seperti Seequent Connect Indonesia menjadi forum penting untuk berbagi pengalaman praktis dan mengembangkan kapasitas profesional. MGEI menghargai kemitraan yang menghubungkan pendidikan, inovasi, dan industri, guna membangun komunitas geosains Indonesia yang lebih kuat, kolaboratif, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.

Sebagai bagian dari pengembangan sumber daya manusia, Seequent juga menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui penyediaan lisensi perangkat lunak untuk pengajaran dan pengembangan kompetensi calon ahli geosains serta insinyur. Bersama MGEI, perusahaan turut mendukung pengembangan profesional, pelatihan mahasiswa, serta penyediaan akses terhadap perangkat lunak dan materi pembelajaran dalam Bahasa Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan organisasi, perguruan tinggi, dan komunitas profesi di Indonesia, Seequent berharap pemahaman mengenai kondisi bawah permukaan dapat terus ditingkatkan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas geosains nasional, mendukung pengambilan keputusan proyek yang lebih strategis, sekaligus menyiapkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan sektor pertambangan, panas bumi, energi, dan infrastruktur di masa depan. (E-1)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *