Wednesday, September 23

Trump Tolak Regulasi AI, Ingin Ubah Namanya Jadi Kecerdasan Super


Presiden AS Donald Trump. Ilustrasi Trump membahas AI atau kecerdasan buatan di Sidang Umum PBB, New York, Selasa (22/9) waktu setempat( SAUL LOEB / AFP)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan perubahan istilah artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi kecerdasan super (super intelligence) dalam komunikasi resmi pemerintah AS. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berpidato di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika para pemimpin dunia tengah memperdebatkan cara menghadapi risiko yang muncul seiring perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

AI menjadi salah satu isu utama dalam agenda PBB setelah muncul sejumlah insiden yang memicu kekhawatiran mengenai kemampuan teknologi tersebut dan potensi berkurangnya kendali manusia. 

Kekhawatiran itu juga diperkuat oleh peringatan dari kalangan internal sejumlah perusahaan teknologi, yang mendorong munculnya tuntutan agar pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap perkembangan industri AI.

Trump Tolak Regulasi AI

Dalam pidatonya, Trump kembali menyatakan penolakannya terhadap upaya memperketat regulasi AI. Ia menilai kata artificial tidak cukup menggambarkan kemampuan teknologi tersebut. Trump berharap negara-negara lain mengikuti Amerika Serikat menggunakan istilah baru yang menurutnya lebih tepat.

“Istilah Kecerdasan Super terdengar jauh lebih baik dan jauh lebih akurat,” ujarnya dilansir AFP, Rabu (23/9).

Trump juga menegaskan penolakannya terhadap upaya membangun mekanisme pengawasan AI secara global.

“Amerika Serikat sepenuhnya menolak segala upaya untuk menyusun skema globalis guna mengendalikan kecerdasan buatan,” tegasnya.

Menurut Trump, perkembangan teknologi baru selalu disertai tantangan, termasuk kecerdasan super.

“Setiap teknologi baru yang besar membawa tantangan, dan kecerdasan super pun tidak terkecuali,” tambahnya.

Trump kemudian membandingkan peringatan mengenai keselamatan AI dengan kekhawatiran terkait perubahan iklim. Ia menyoroti sejumlah prediksi ekstrem yang menurutnya pernah disampaikan mengenai dampak perubahan iklim dan kini dikaitkan pula dengan perkembangan AI.

“Orang-orang yang sama yang dulu mengatakan kita semua akan mati dalam 12 tahun akibat pemanasan global, kini mengatakan bahwa AI akan membunuh kita semua, bahwa robot akan menyerang kita, dan bahwa segalanya akan berakhir menjadi bencana besar,” lanjutnya. 

Negara Eropa Dorong Standar Keselamatan AI

Sikap Trump disampaikan ketika lebih dari 20 negara, sebagian besar berasal dari Eropa, menyerukan penerapan aturan keselamatan AI yang mengikat secara hukum.

Para pemimpin negara tersebut memperingatkan bahwa perkembangan teknologi AI tingkat lanjut berlangsung sangat cepat dan berpotensi melampaui kemampuan manusia untuk mengendalikannya.

Amerika Serikat dan Tiongkok, dua negara yang saat ini menjadi kekuatan utama dalam pengembangan AI, tidak mendukung gagasan tersebut.

Dalam pertemuan PBB, Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengatakan London akan menggunakan masa kepemimpinan Inggris di G20 pada 2027 untuk mendorong pembentukan standar AI global.

Inggris juga mengumumkan kemitraan pertahanan AI dengan Washington yang ditujukan untuk mendeteksi serangan siber terhadap infrastruktur penting.

“Kami akan berupaya menyepakati satu rangkaian prinsip dan standar global guna menjamin transparansi dan akses yang diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta memastikan pengembangan AI berjalan aman,” ujarnya.

Burnham sebelumnya telah menyampaikan rencana Inggris memanfaatkan posisi sebagai tuan rumah G20 tahun depan untuk mendorong terciptanya satu rangkaian prinsip dan standar global terkait pengembangan AI.

Macron Dorong AI tak Bergantung pada AS dan Tiongkok 

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyerukan pengembangan teknologi AI yang tidak bergantung pada kekuatan besar dunia.

Macron mengatakan negara-negara lain tidak seharusnya berada dalam posisi bergantung pada salah satu kekuatan utama dalam teknologi AI.

“Saya tidak ingin ada pihak yang menjadi bawahan salah satu kekuatan besar,” kata Macron di hadapan Majelis Umum PBB.

Ia mendorong negara-negara untuk menggabungkan kemampuan investasi guna mengembangkan teknologi AI sumber terbuka yang dapat digunakan secara bersama.

“Kita harus menyatukan kemampuan investasi untuk membangun model AI open-source (sumber terbuka) yang mutakhir, yang nantinya akan kita gunakan bersama. Kita tidak boleh bergantung pada pihak lain,” paparnya.

Perusahaan AI

Di tengah perdebatan tersebut, sejumlah perusahaan teknologi AI besar yang berbasis di Amerika Serikat juga semakin aktif menyerukan koordinasi internasional mengenai keselamatan AI.

CEO OpenAI Sam Altman dijadwalkan memberikan keterangan di hadapan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (23/9).

Pimpinan Anthropic, Dario Amodei, serta salah satu pendiri Hugging Face, Clement Delangue, juga dijadwalkan mengikuti pertemuan tersebut secara virtual.

Prancis, yang memegang presidensi Dewan Keamanan PBB bulan ini, menggagas pertemuan tersebut karena menilai dampak AI terhadap perdamaian dan keamanan internasional belum mendapatkan perhatian yang memadai dalam forum PBB. (H-4)

 



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *