Tuesday, September 29

John Herdman Berdalih Kartu Merah Thom Haye Bikin Tim Solid


Pelatih timnas Indonesia John Herdman (tengah).(MI/Khoerun Nadif Rahmat)

PERNYATAAN mengejutkan keluar dari mulut pelatih tim nasional Indonesia, John Herdman, usai Skuad Garuda ditahan imbang tanpa gol oleh Malaysia pada laga babak grup FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (28/9).

Alih-alih mengevaluasi kerugian taktis akibat kartu merah langsung yang diterima Thom Haye di menit ke-37, Herdman justru berdalih bahwa insiden tersebut merupakan berkah yang membuat mentalitas dan soliditas timnya kian kokoh.

Dalam sesi jumpa pers seusai pertandingan, juru taktik asal Inggris itu berkali-kali melempar narasi persaudaraan (brotherhood) untuk membela performa anak asuhnya yang terus dikurung lawan pada babak kedua. Menurutnya, keputusan wasit mengusir Haye lebih awal menjadi momen krusial untuk menguji daya juang para pemain di lapangan.

“Kartu merah malam ini memberi kesempatan bagi para pemain untuk menempa persaudaraan, belajar cara bertarung bersama di masa sulit untuk negara mereka. Jadi, kartu merah ini adalah hadiah sekaligus kutukan,” ujar Herdman, Senin (28/9).

Herdman, yang mengaku telah berkarier di sepak bola selama 25 tahun, enggan menyalahkan kepemimpinan wasit dan memilih berlindung di balik retorika pembentukan karakter tim. Ia mengklaim kerugian bermain dengan 10 orang justru membuktikan komitmen para pemain yang kerap dipertanyakan publik.

“Mereka datang ke sini dan bertarung karena mereka peduli. Mereka ingin menang dan mengangkat trofi yang belum pernah diraih tim mana pun sebelumnya,” tuturnya.

Namun, pembelaan manis Herdman tak sepenuhnya menutup celah kelemahan taktis Garuda. Unggul jumlah pemain sejak akhir babak pertama membuat Malaysia leluasa memegang kendali permainan dan mengepung pertahanan Indonesia dari berbagai sudut.

Skuad Garuda praktis hanya bergantung pada aksi heroik kiper Maarten Paes serta barisan belakang yang berjibaku melakukan blok di menit-menit akhir. Herdman sendiri akhirnya mengakui bahwa aspek penyerangan tim saat bermain dengan 10 orang menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.

“Mungkin kami bisa lebih menyerang dalam bentuk formasi tersebut. Peningkatan yang perlu dilakukan memang berada pada bagian penyerangan dari strategi 10 pemain kami,” ucapnya.

Hasil imbang 0-0 itu menahan posisi Indonesia di peringkat kedua klasemen sementara Grup A dengan perolehan empat poin, kalah selisih gol dari Malaysia di puncak klasemen.

Laga penentu di pertandingan ketiga melawan Bangladesh mendatang bakal menjadi ujian sesungguhnya, apakah narasi “soliditas” bentukan Herdman mampu menjelma menjadi kemenangan nyata di lapangan. (Ndf/P-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *