Wednesday, September 30

Bank Mandiri Kucurkan KUR Rp29,53 Triliun hingga Agustus 2026, Sebanyak 64,48% Mengalir ke Sektor Produksi


Bank Mandiri telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp29,53 triliun hingga 31 Agustus 2026, atau 72,03 persen dari target tahun ini sebesar Rp41 triliun. Sebanyak 64,48 persen dari penyaluran tersebut mengalir ke sektor produksi, terutama pertanian, jasa produksi, dan industri pengolahan.

Penyaluran KUR tersebut telah menjangkau 223.284 debitur UMKM di seluruh Indonesia, untuk membantu pelaku usaha mengembangkan kapasitas dan meningkatkan skala usaha.

Komitmen terhadap sektor produktif tercermin dari komposisi penyaluran KUR Bank Mandiri. Hingga Agustus 2026, sebesar 64,48 persen atau Rp19,04 triliun KUR Bank Mandiri mengalir ke sektor produksi, sementara 35,52 persen atau Rp10,48 triliun mengalir ke sektor nonproduksi.

Rinciannya, sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan penyaluran mencapai Rp9,84 triliun atau 33,32 persen, diikuti sektor jasa produksi sebesar Rp6,47 triliun atau 21,92 persen, serta industri pengolahan sebesar Rp2,28 triliun atau 7,75 persen. Sementara itu, penyaluran ke sektor perikanan mencapai Rp424 miliar dan menunjukkan tren pertumbuhan.

Komposisi tersebut menunjukkan fokus Bank Mandiri dalam memperluas pembiayaan ke aktivitas usaha yang menghasilkan barang dan jasa sekaligus memiliki keterkaitan dengan rantai pasok perekonomian, termasuk sektor pangan dari hulu hingga hilir.

Senior Vice President Micro Development and Agent Banking Bank Mandiri Bayu Trisno Arief Setiawan mengatakan, pertumbuhan UMKM memiliki peran penting dalam menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas. Karena itu, penyaluran KUR diarahkan untuk membuka akses pembiayaan yang dapat membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, memperkuat kapasitas usaha, dan berkembang bersama ekosistem di sekitarnya.

“Bank Mandiri melihat bahwa pertumbuhan pelaku usaha tidak berdiri sendiri. Ketika petani dapat meningkatkan produktivitas, maka terdapat peluang bagi sektor perdagangan, jasa, pengolahan, hingga distribusi untuk ikut berkembang. Karena itu, pembiayaan KUR kami arahkan untuk mendukung rantai aktivitas ekonomi tersebut, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi pada Senin (28/9).

Lebih lanjut, hingga 31 Agustus 2026, kualitas penyaluran KUR Bank Mandiri tetap terjaga dengan non-performing loan (NPL) di bawah 1 persen. Bank Mandiri juga terus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha yang sebelumnya belum memperoleh KUR.

Pada periode yang sama, realisasi debitur baru mencapai 157.839 debitur, atau 71,75 persen dari target tahun 2026 sebanyak 220.000 debitur. Jumlah debitur baru tersebut setara dengan sekitar 71 persen dari total 223.284 debitur penerima KUR Bank Mandiri hingga Agustus 2026.

Secara historis, sejak pertama kali menyalurkan KUR pada 2008 hingga 31 Agustus 2026, Bank Mandiri telah menyalurkan Rp332,77 triliun kepada 3,81 juta debitur. Capaian tersebut mencerminkan penyaluran KUR Bank Mandiri dalam memperluas akses pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil sekaligus mendukung inklusi keuangan.

Seiring dengan HUT ke-28 Bank Mandiri, komitmen terhadap pembiayaan UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya Perseroan untuk memperluas akses pembiayaan produktif. Melalui tema “Tumbuh Bersama Majukan Indonesia”, Bank Mandiri menempatkan pertumbuhan nasabah, UMKM, pelaku usaha, dan masyarakat sebagai bagian dari ekosistem pertumbuhan Perseroan.

“Bagi Bank Mandiri, pertumbuhan memiliki makna ketika dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk berkembang. Kami ingin hadir melalui akses pembiayaan, tetapi juga dengan membangun sinergi ekosistem agar pelaku usaha memiliki ruang untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian,” pungkas Bayu.

Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta berbagai pelaku dalam ekosistem usaha untuk memperluas akses pembiayaan produktif. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung sektor-sektor strategis, memperkuat rantai pasok, dan memperluas akses pelaku usaha terhadap pembiayaan.

 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *