Thursday, October 1

DSSA Bukukan Pendapatan US$1,77 Miliar di Semester I-2026


PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) membukukan pendapatan usaha sebesar US$1,77 miliar untuk periode 6 bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Pendapatan usaha tersebut tumbuh 34,0% dari US$1,32 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 79,6% menjadi US$174,4 juta. Per 30 Juni 2026, DSSA mencatat total aset sebesar US$6,08 miliar dan posisi ekuitas sebesar US$3,05 miliar.

“Kinerja semester I 2026 mencerminkan konsistensi strategi diversifikasi yang dijalankan Perseroan. Pertumbuhan kebutuhan data, konektivitas, dan pemanfaatan kecerdasan artifisial menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Melalui penguatan infrastruktur digital yang terintegrasi, mulai dari jaringan serat optik, pusat data, hingga solusi berbasis AI, kami berkomitmen mendorong pemerataan akses teknologi di Indonesia, sekaligus menjaga kekuatan di sektor energi sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan,” kata Presiden Direktur DSSA, L. Krisnan Cahya dalam keterangannya.

Kinerja Perseroan ditopang oleh model bisnis Perseroan yang terdiversifikasi, di mana setiap pilar saling menopang satu sama lain. Pilar energi, melalui pertambangan dan perdagangan batubara membukukan pendapatan US$1,53 miliar atau tumbuh 29,8% dan tetap menjadi sumber arus kas yang kokoh.

Pilar teknologi dan infrastruktur digital membukukan pendapatan US$182,2 juta atau tumbuh 89,3%. Arus kas dari bisnis energi memberikan ruang bagi Perseroan untuk berinvestasi pada energi terbarukan dan infrastruktur digital, sementara pertumbuhan ekonomi digital, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI), membutuhkan pasokan energi yang andal dan semakin bersih.

Di pilar energi, Perseroan terus mengembangkan energi baru dan terbarukan. Melalui PT Daya Mas Bumi Sentosa, perusahaan patungan bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia, Perseroan mengembangkan wilayah kerja panas bumi yang sebagian besar berada di luar Pulau Jawa. Sementara itu, PT Trina Mas Agra Indonesia memproduksi sel dan modul surya di dalam negeri untuk mendukung program pembangkit listrik tenaga surya pemerintah. Kedua inisiatif tersebut diarahkan untuk memperluas akses terhadap energi bersih yang andal dan merata hingga ke berbagai wilayah Indonesia.

Di pilar teknologi, MoraRepublic mempercepat ekspansi pascapenggabungan dengan memperluas jaringan fiber to the home ke 186 kota dan kabupaten. Untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani jaringan kabel, MoraRepublic menghadirkan MyRepublic Air, layanan internet rumah berbasis fixed wireless access (FWA) dengan harga terjangkau mulai Rp100 ribu per bulan, yang menyasar kota lapis kedua dan ketiga di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. Layanan ini menjadi wujud komitmen menghadirkan internet yang terjangkau bagi rakyat sekaligus mempercepat pemerataan akses digital di luar Pulau Jawa. Integrasi jaringan tulang punggung, termasuk Palapa Ring Paket Barat dan Paket Timur, dengan jaringan hingga ke rumah pelanggan menjadikan MoraRepublic penyedia konektivitas yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Di sisi komputasi, SM+ bersama Korea Investment Real Asset Management (KIRA) dan LG Sinar Mas tengah merampungkan SMX01, pusat data AI-ready di kawasan pusat bisnis Jakarta yang telah mencapai tahap topping off dan ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026. SMX01 melengkapi jaringan pusat data edge SM+ yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk mendekatkan layanan digital kepada pengguna.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *