Sunday, October 4

Asian Games 2026 Ditutup, Catat Rekor Dunia tetapi Diwarnai Masalah Penyelenggaraan


Ilustrasi(Antara)

ASIAN Games 2026 di Jepang resmi berakhir pada Minggu (4/10), setelah berlangsung selama dua pekan dengan berbagai catatan prestasi sekaligus persoalan dalam penyelenggaraannya.

Lebih dari 17 ribu atlet dan ofisial dari berbagai negara ambil bagian dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut. Sejumlah atlet muda mencuri perhatian lewat penampilan gemilang dan rekor yang mereka torehkan.

Perenang Tiongkok berusia 13 tahun, Yu Zidi, menjadi salah satu bintang utama. Ia meraih tiga medali emas, seluruhnya dengan catatan waktu yang menjadi rekor Asian Games.

Yu meraih emas nomor 200 meter gaya kupu-kupu serta nomor 200 dan 400 meter gaya ganti perorangan. Ia juga dinobatkan sebagai salah satu MVP Asian Games.

Meski tampil luar biasa, Yu menolak anggapan bahwa dirinya merupakan atlet ajaib.

“Saya tidak berpikir saya seperti yang orang-orang gambarkan sebagai anak ajaib,” kata Yu dikutip dari AFP.

Perenang Jepang, Shin Ohashi, yang baru berusia 17 tahun, juga mencuri perhatian setelah memecahkan rekor dunia nomor 200 meter gaya dada.

Dari atletik, sprinter Tailan Puripol Boonson meraih emas nomor 100 dan 200 meter. Atlet berusia 20 tahun itu juga dinobatkan sebagai MVP putra.

“Penghargaan MVP ini memberi saya banyak kepercayaan diri bahwa saya bisa meraih podium di Los Angeles,” ujar Puripol.

Namun, berbagai prestasi tersebut tidak sepenuhnya menutupi persoalan penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Direktur Jenderal Olympic Council of Asia (OCA) Husain Al-Musallam menyoroti berbagai persoalan yang muncul selama penyelenggaraan. Ia menyebut 50 rekor dunia telah tercipta sejak Asian Games dibuka pada 19 September.

“Angka adalah fakta. Atlet tidak bisa tampil jika mereka tidak tidur dengan baik, dan atlet tidak bisa tampil jika transportasi mereka tidak baik,” kata Husain.

Asian Games kali ini tidak menggunakan kampung atlet seperti penyelenggaraan sebelumnya. Demi menghemat biaya, peserta ditempatkan di unit kayu sementara, hotel, hingga kapal pesiar.

Konsep tersebut disebut penyelenggara sebagai model untuk ajang olahraga multi-cabang pada masa depan. Namun, sejumlah kontingen mengeluhkan kondisi tempat tinggal yang sempit serta tempat tidur yang terlalu pendek.

Jumlah atlet dan ofisial yang membengkak juga membuat ketersediaan tempat tidur menjadi persoalan. Seorang ofisial Olimpiade Tailan bahkan menggambarkannya seperti permainan kursi musik.

Masalah lain muncul dalam operasional pertandingan. Bus atlet terlambat atau bahkan tidak datang, sementara dua tim sempat dikirim ke venue yang salah sehingga pertandingan bola voli harus ditunda.

Penyelenggara juga salah memutar lagu kebangsaan Korea Utara saat tim hoki Korea Selatan bertanding.

Presiden Komite Olahraga dan Olimpiade Korea Selatan Ryu Seung-min memberikan penilaian keras terhadap penyelenggaraan tersebut.

“Jika saya harus memberi nilai, saya akan memberikan F,” ujarnya.

Persoalan juga terjadi dalam hal kehadiran penonton. Upacara pembukaan berlangsung dengan sejumlah kursi kosong. Bahkan, semifinal sepak bola putri antara Jepang dan Korea Selatan hanya disaksikan 998 penonton di stadion berkapasitas 50 ribu orang.

Presiden Komite Olimpiade Jepang Seiko Hashimoto mengakui terdapat berbagai persoalan selama Asian Games.

“Memang ada banyak masalah,” kata Hashimoto.

Ia menyebut cuaca buruk menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian penonton enggan datang. Meski demikian, sejumlah pertandingan tetap mendapat sambutan besar.

Sekitar 30 ribu penonton hadir ketika Korea Selatan mengalahkan Jepang 1-0 pada final sepak bola putra. Namun, seremoni kemenangan kembali diwarnai masalah setelah bendera Korea Selatan gagal dikibarkan.

Di klasemen akhir, Tiongkok menjadi juara umum dengan 169 emas. Jepang berada di posisi kedua dengan 83 emas.

Jepang juga mencatat sejarah melalui Yuki Kurihara. Atlet berusia 11 tahun itu meraih emas dalam cabang eSports dan diyakini menjadi juara Asian Games termuda dalam sejarah.

Asian Games Aichi-Nagoya 2026 juga memperkenalkan sejumlah cabang olahraga yang memiliki ambisi untuk masuk program Olimpiade, seperti padel, MMA, dan taekwondo virtual.

Setelah penutupan, Jepang akan menyerahkan tongkat estafet penyelenggaraan Asian Games kepada Doha, Qatar, yang akan menjadi tuan rumah edisi berikutnya. (AFP/Ndf/E-4)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *