Thursday, October 8

Sekolah Mengajarkan Fotosintesis, Mengapa Hutan masih Terbakar


(MI/Seno)

ANAK-ANAK kita hafal rumus fotosintesis. Mereka tahu bahwa tumbuhan menyerap karbon dioksida. Mereka tahu pohon menghasilkan oksigen. Nilai ulangan IPA mereka bisa sembilan. Bahkan sepuluh. Lalu datang musim kemarau. Di sejumlah wilayah, hutan dan lahan terbakar. Langit kehilangan birunya. Udara yang biasanya gratis mendadak menjadi mahal. Orangtua tak lagi memberikan kebebasan kepada anak untuk bermain di luar rumah. Sekolah harus mempertimbangkan keselamatan murid. Masker kembali menjadi barang langka.

Ironis. Kita mengajarkan pentingnya hutan di ruang kelas. Kita meminta anak-anak untuk menghafal teori bahwa tumbuhan hijau menyerap karbon dioksida (CO₂) dan menggunakan energi cahaya matahari untuk menghasilkan senyawa organik (glukosa), sekaligus melepaskan oksigen. Sementara itu, di luar kelas, hutan lenyap menjadi asap. Asap yang membahayakan kesehatan pernapasan. Apakah anak-anak kurang memahami teori tersebut? Belum tentu. Barangkali justru orang dewasa yang gagal menerjemahkan teori menjadi keputusan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan perkara sederhana. Ada faktor cuaca, kepentingan ekonomi, kondisi gambut, praktik pembukaan lahan, tata kelola lahan, serta lemahnya pengawasan. Menyalahkan sekolah sebagai penyebab tunggal tentu keliru. Namun, membebaskan pendidikan dari tanggung jawab juga tidak semestinya. Sebab, cara manusia memperlakukan alam tidak lahir dalam satu malam.

 

PINTAR MENGHAFAL, GAGAL MENJAGA

Di buku pelajaran, ekosistem tersusun rapi. Ada produsen, konsumen, dan pengurai. Di lembar ujian, kerusakan hutan mudah dikenali sebagai jawaban pilihan ganda. Akan tetapi, kehidupan tidak menyediakan empat pilihan jawaban. Ketika seseorang melihat pembakaran lahan, apakah ia berani menegur? Ketika perusahaan mengejar efisiensi, apakah keselamatan lingkungan termasuk dalam perhitungan perusahaan?

Di sinilah letak jarak antara mengetahui dan melakukan. Pengetahuan ekologis diperlukan, tetapi tidak secara otomatis melahirkan perilaku ekologis. Sudah seharusnya murid dapat menjelaskan pencemaran udara saat ada praktikum pemeriksaan kualitas udara di sekitar sekolah. Mereka dapat memahami fungsi lahan gambut dan juga mampu menjelaskan mengapa gambut kering sangat rentan terbakar.

Rapor pendidikan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada nilai ujian. Ukurannya juga harus terletak pada kebiasaan: menghargai air, mengelola sampah, memeriksa informasi lingkungan, dan mengambil sikap ketika melihat tindakan yang merugikan masyarakat. Pengetahuan yang tidak pernah diuji dalam kehidupan sehari-hari mudah berubah menjadi hafalan yang cepat dilupakan.

 

EKOLOGI BUKAN SEKADAR PELAJARAN

Tidak perlu terburu-buru menambahkan mata pelajaran baru. Jadwal sekolah anak-anak sekarang sudah padat. Jangankan bermain layang-layang di lapangan, bertemu kakak atau adik dalam satu rumah saja sudah susah. Saat ini, yang dibutuhkan ialah mengubah cara belajar, yakni dari sekadar mendengar menjadi menyelidiki, dari sekadar menjawab menjadi bertindak.

Mari kita bergerak bersama. Guru biologi dapat mengajak siswa menelusuri hubungan antara vegetasi, karbon, dan siklus air. Guru kimia membahas partikel berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran. Guru ekonomi dapat mengajak siswa menghitung biaya tersembunyi ketika aktivitas usaha mengabaikan lingkungan. Guru bahasa meminta siswa menulis surat terbuka berdasarkan data. Adapun guru kewarganegaraan dapat berperan dalam mendiskusikan hak atas lingkungan yang sehat serta tanggung jawab publik.

Dengan demikian, karhutla dapat menjadi skenario pembelajaran berbasis masalah. Siswa menerima kasus: kualitas udara memburuk, warga mengeluh, dan aktivitas belajar terganggu. Mereka mencari penyebab, menilai bukti, menyusun alternatif, lalu mempertanggungjawabkan usulan mereka. Mereka belajar bahwa masalah nyata jarang diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja.

Pendidikan ekologis juga harus adil. Jangan sampai seluruh beban dialihkan kepada anak-anak melalui kampanye menanam pohon, sementara keputusan besar tentang tata guna lahan luput dari pembahasan. Murid perlu memahami peran pemerintah, komunitas, pelaku usaha, serta penegakan hukum. Menjaga lingkungan adalah kerja sama, bukan sekadar lomba poster.

 

DARI RUANG KELAS KE LAHAN GAMBUT

Kampus mempunyai pekerjaan yang lebih jauh. Penelitian tidak cukup hanya berakhir sebagai laporan yang tersimpan rapi di rak perpustakaan. Penelitian tentang kelembapan gambut, pemetaan titik panas, kesehatan pernapasan, atau restorasi lahan perlu diterjemahkan menjadi informasi yang dapat digunakan oleh masyarakat dan para pengambil kebijakan.

Bayangkan kerja sama antara sekolah, perguruan tinggi, puskesmas, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat. Siswa belajar membaca data kualitas udara. Mahasiswa membantu menyusun materi komunikasi risiko. Peneliti mengembangkan pendekatan pemantauan yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Warga ikut menentukan persoalan yang paling mendesak. Bukan proyek seremonial selama satu hari, melainkan pembelajaran yang berkelanjutan.

Dari sudut kesehatan, asap karhutla juga bukan sekadar gangguan pandangan. Partikulat halus dapat mencapai bagian dalam saluran pernapasan. Paparannya berkaitan dengan respons inflamasi dan stres oksidatif serta dapat memperburuk gangguan pernapasan dan kardiovaskular. Anak-anak, warga lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit tertentu memerlukan perhatian lebih.

Maka, persoalan karhutla menyentuh hak belajar sekaligus hak atas kesehatan. Belum lagi tersandarnya hak anak untuk melakukan aktivitas belajar dan bermain di luar ruangan akibat asap. Padahal mereka tidak melakukan kesalahan. Namun, saat ini, mereka sedang menanggung biaya akibat keputusan yang mungkin sama sekali tidak mereka buat. Pelajaran biokimia, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan etika bertemu pada satu kenyataan, bahwa udara bersih bukan kemewahan.

 

ASAP TIDAK LAYAK DIWARISKAN

Pencegahan karhutla tetap memerlukan pengelolaan lahan yang benar, penegakan hukum, kesiapsiagaan, serta kebijakan yang konsisten. Pendidikan bukan pengganti semua itu. Pendidikan adalah investasi agar masyarakat mampu memahami, mengawasi, dan menuntut pelaksanaannya.

Kita tidak perlu menunggu langit menguning untuk berbicara tentang fungsi hutan bagi kehidupan. Tidak perlu menunggu sekolah terganggu untuk menjelaskan arti udara bersih. Tidak perlu menunggu korban berjatuhan untuk menghubungkan pelajaran di kelas dengan pilihan di dunia nyata.

Kelak, ketika seorang anak ditanya apa manfaat fotosintesis, tentu kita ingin ia mampu menjawab dengan benar. Akan tetapi, harapan kita semestinya lebih tinggi, yaitu tumbuh menjadi warga yang mengerti mengapa pohon harus dijaga, berani mempertanyakan praktik yang merusak, dan sanggup bekerja sama untuk mencari jalan keluar.

Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika anak mampu menuliskan rumus-rumus kehidupan. Keberhasilan itu juga terlihat ketika melalui tindakan kolektif yang nyata, yakni kita tidak mewariskan asap yang membahayakan kelangsungan kehidupan.



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *