Monday, October 12

Panduan IDAI Prinsip MPASI dan Bahaya Telur Mentah bagi Bayi


Ilustrasi(magnific)

PENGURUS Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan penjelasan resmi bagi masyarakat terkait prinsip pemberian makanan pada bayi. Fokus utama panduan ini adalah pentingnya memperhatikan usia, kebutuhan gizi, serta keamanan pangan, terutama mengenai risiko pemberian telur mentah atau setengah matang pada anak di bawah usia 6 bulan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menegaskan bahwa pemberian makanan harus menjamin pertumbuhan optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

“Pemberian makanan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan,” tegas Dr. Piprim.

Prinsip Utama Pemberian Makanan

IDAI mendukung penuh rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menempatkan ASI sebagai makanan terbaik. Bayi disarankan mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, yang kemudian dilanjutkan dengan Makanan Pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun atau lebih.

Selama masa ASI eksklusif, bayi tidak memerlukan tambahan cairan lain seperti air putih, jus, maupun kaldu. Namun, jika terdapat indikasi medis tertentu yang membuat pemberian ASI tidak memungkinkan, penggunaan susu formula diperbolehkan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan.

Kapan MPASI Dimulai?

Secara umum, MPASI dimulai saat bayi menginjak usia 6 bulan karena kebutuhan energi mereka sudah melampaui kapasitas nutrisi ASI saja. Meski demikian, dalam kondisi klinis tertentu, MPASI dapat dimulai lebih awal, yakni sejak usia 4 bulan (17 minggu), dengan catatan harus melalui penilaian dokter.

Berikut adalah indikator kesiapan bayi untuk menerima makanan padat:







Aspek Kesiapan Tanda-Tanda yang Muncul
Motorik Kasar Mampu menjaga posisi kepala dan leher tetap stabil; mampu duduk dengan bantuan.
Motorik Halus & Mulut Koordinasi gerakan mulut baik dan mampu menelan tekstur makanan tertentu.
Psikologis Menunjukkan ketertarikan pada makanan dan mampu menerima makanan dari sendok.

IDAI memperingatkan bahwa pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan sangat tidak dianjurkan karena risiko tersedak dan gangguan pemberian makan.

Bahaya Telur Mentah dan Setengah Matang

Salah satu poin krusial dalam penjelasan IDAI adalah larangan pemberian telur mentah atau setengah matang kepada bayi. Hal ini berkaitan erat dengan risiko infeksi bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan salmonelosis.

“Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius,” tulis IDAI dalam keterangannya.

Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang sempurna (putih dan kuning telur padat) adalah sumber protein berkualitas tinggi yang sangat baik untuk pertumbuhan. IDAI juga menyatakan bahwa tidak perlu menunda pemberian telur hingga usia satu tahun untuk mencegah alergi, kecuali ada pertimbangan medis khusus.

Rekomendasi untuk Orang Tua

Untuk memastikan keamanan pangan anak, IDAI memberikan beberapa panduan praktis bagi orang tua:

  • Pastikan telur dimasak hingga matang sepenuhnya.
  • Gunakan telur yang telah dipasteurisasi jika ingin membuat hidangan yang tidak dimasak sempurna.
  • Jaga kebersihan peralatan masak dan hindari kontaminasi silang.
  • Hindari penggunaan telur yang retak atau rusak.
  • Konsultasikan dengan dokter jika ragu mengenai kesiapan makan atau kecukupan ASI anak.

IDAI mengimbau seluruh pihak, mulai dari orang tua hingga tenaga kesehatan, untuk senantiasa mengikuti rekomendasi pemberian makan yang berbasis bukti ilmiah demi keselamatan generasi mendatang. (Z-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *