Monday, October 12

Koleksi Artefak Mataram Islam Dipamerkan di 9 Hotel Bintang Solo Raya


Walikota Respati Ardi membuka pameran benda museum di Paragon Hotel.(Dok Humas Pemkot Solo)

SEJARAH dan artefak peninggalan Mataram Islam kerap diidentikkan dengan kesan kaku, berdebu, dan membosankan. Guna mematahkan stigma tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mencoba menyiasati edukasi sejarah dengan cara yang lebih segar dan modern.

Memanfaatkan momentum Hari Museum Indonesia 2026, koleksi bernilai tinggi dari Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara diboyong lebih dekat ke ruang publik melalui konsep pameran hybrid dan virtual.

“Langkah inovatif ini membuat Pemkot tidak perlu menunggu pengunjung datang. Tetapi keagungan warisan leluhur kini justru menghampiri publik dan generasi muda di tempat-tempat santai mereka,” ujar Wali Kota Solo, Respati Ardi, saat membuka pameran benda saksi peradaban Mataram Islam di Paragon Hotel, Senin (12/10/2026).

Pameran ini melibatkan sembilan hotel berbintang di Solo Raya dan akan berlangsung hingga 16 Oktober mendatang. Selain Paragon Hotel, pameran juga digelar di Novotel Hotel, Sahid Jaya Hotel, Royal Heritage, The Sunan Hotel, Megaland Hotel, Lorin Solo, HARRIS Hotel & Convention Center, serta The Alana Hotel & Convention Center.

Menghidupkan Sejarah di Ruang Populer

Wali Kota Respati menegaskan bahwa edukasi sejarah perlu ditransformasikan agar relevan dengan gaya hidup masyarakat modern dan wisatawan muda. Strategi menghadirkan peninggalan bersejarah di hotel-hotel merupakan upaya untuk mencuri perhatian publik secara lebih luas.

“Kami ingin mempromosikan warisan budaya di Museum Radya Pustaka dan Museum Keris dengan cara yang lebih hidup. Ini adalah strategi untuk menarik minat wisatawan dan anak muda yang mendambakan pengalaman berkesan,” lanjut Respati.

Melalui sentuhan teknologi virtual dan displai yang terkurasi di lobi hotel, koleksi artefak legendaris tersebut dapat diakses secara interaktif. Wisatawan yang menginap tidak hanya sekadar beristirahat, tetapi juga disuguhkan narasi sejarah Kota Bengawan yang dikemas secara visual dan Instagrammable.

Inisiatif ini, menurut Respati, tidak sekadar memperluas promosi pariwisata, tetapi juga memantik rasa bangga warga lokal maupun wisatawan terhadap peradaban Mataram Islam. Bagi wali kota milenial ini, sejarah bukan lagi memori masa lalu yang berjarak, melainkan bagian dari identitas modern yang patut dilestarikan.

Melalui sinergi antara sektor kebudayaan dan pariwisata, Pemkot Solo membuktikan bahwa warisan leluhur dapat tampil inklusif, terjangkau, dan menjadi pengalaman edukatif yang menyenangkan bagi siapa saja. (H-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *