Thursday, October 15

Greenland Bantah Klaim Donald Trump Soal Eksplorasi Minyak dan Gas Besar-Besaran


Pemerintah Greenland membantah klaim Presiden AS Donald Trump soal eksplorasi minyak dan gas besar-besaran di wilayah Arktik. Simak pernyataan resminya.(Instagram @jens_frederik)

Pemerintah Greenland membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut bahwa eksplorasi minyak, gas, dan mineral secara besar-besaran akan segera dimulai di wilayah Arktik tersebut.

Deputi Menteri Pertambangan Greenland, Jørgen Hammeken-Holm, membenarkan adanya aktivitas dari perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat di wilayahnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut masih sangat jauh dari tahap eksplorasi skala besar.

“Memang ada eksplorasi skala kecil yang sedang berlangsung, tetapi ini bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk dapat beroperasi,” ujar Jørgen Hammeken-Holm.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan para peneliti yang telah berulang kali menyoroti rumitnya tantangan geografis serta besarnya biaya untuk mengesktrak sumber daya alam di Greenland. Sekitar 80 persen wilayah pulau tersebut tertutup oleh lapisan es tebal setebal satu mil, ditambah minimnya infrastruktur pendukung di area terpencil di atas Lingkar Arktik.

Kementerian Luar Negeri Denmark, negara di mana Greenland menjadi bagian wilayah otonom, turut menegaskan bahwa setiap upaya eksplorasi sumber daya alam oleh Amerika Serikat harus tunduk pada hukum dan undang-undang yang berlaku di Greenland.

Denmark menjelaskan bahwa kesepakatan trilateral antara AS, Denmark, dan Greenland yang ditandatangani bulan lalu tidak mengubah ketentuan hukum tersebut.

“Kesepakatan tersebut tidak memberikan perlakuan istimewa bagi investor asal AS dibandingkan investor dari negara-negara NATO lainnya, negara-negara Uni Eropa, maupun mitra NATO terkait akses terhadap sumber daya alam di Greenland,” bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Denmark.

Dinamika Politik dan Klaim Donald Trump

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump berulang kali melontarkan retorika mengenai kendali atas Greenland beserta sumber daya alamnya. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu dini hari, Trump menuliskan klaimnya terkait potensi energi di wilayah tersebut.

“Ada para ahli yang mengatakan bahwa jumlah minyak yang mudah diakses di sana jauh lebih besar daripada hampir semua daratan mana pun di dunia,” tulis Donald Trump.

Namun, dalam acara rapat umum di Arizona pada hari yang sama, Trump membantah anggapan bahwa dirinya berencana mengambil alih wilayah Arktik tersebut dengan kekuatan militer.

“Anda tahu, kami menerima banyak kecaman dari berita bohong di sana. Mereka berkata, ‘Betapa cara bicara yang mengerikan tentang Greenland! Ini mengerikan.’ Ingat, mereka mengira saya akan mengirim militer untuk menyerang Greenland. Saya tidak berniat melakukan itu, tetapi saya mengajukan komplain yang sangat keras kepada NATO, sangat keras,” kata Donald Trump.

Sebelumnya, AS, Denmark, dan Greenland mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan akibat retorika aneksasi tersebut. Teks kesepakatan yang dipublikasikan di situs resmi Gedung Putih diawali dengan pengakuan atas kedaulatan Denmark serta hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Greenland.

Kesepakatan tersebut melakukan sedikit perubahan pada perjanjian tahun 1951 yang mengizinkan penempatan pasukan AS di Greenland sebagai bagian dari pertahanan NATO. Naskah tersebut tidak menyebutkan eksplorasi minyak atau gas secara eksplisit, melainkan mencantumkan “kerjasama mineral” serta “kerjasama pembangunan ekonomi dan promosi bisnis.”

Selain itu, dokumen tersebut membuka jalan bagi penambahan pangkalan militer AS serta jaminan akses militer AS apabila Greenland memutuskan merdeka dari Denmark di masa depan.

Trump juga menegaskan pentingnya posisi strategis Greenland bagi pertahanan negaranya.

“Setiap serangan masa depan terhadap Amerika Serikat harus melewati Greenland, di mana Pertahanan kita secara rutin akan menjatuhkan drone, rudal, atau bentuk senjata lainnya yang bahkan belum dirancang,” tuntas Trump. (CNN/Z-2)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *