
KEINDAHAN lanskap alam menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Bali, terutama di kawasan Uluwatu yang dikenal dengan tebing-tebing tinggi menghadap Samudra Hindia. Selain menawarkan panorama pesisir, kawasan di selatan ‘Pulau Dewata’ ini juga menghadirkan pengalaman wisata yang memanfaatkan karakter geografisnya, mulai dari fasilitas rekreasi di atas tebing hingga aktivitas bersantap di dalam gua alami.
Konsep tersebut antara lain dihadirkan The edge Bali, resor eksklusif yang berdiri di atas tebing setinggi sekitar 530 kaki atau 161 meter di kawasan Uluwatu. Resor dengan delapan vila privat dan total 17 kamar tidur ini memadukan pengalaman menginap, rekreasi, kuliner, dan penyelenggaraan acara dengan lanskap alam sekitarnya.
Salah satu daya tariknya adalah Sky Pool di oneeighty°, fasilitas day club yang berada di tepi tebing dengan panorama langsung ke Samudra Hindia. Kolam renang tersebut memiliki lantai kaca yang membentang sejauh 6,5 meter dari sisi tebing, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan laut dari ketinggian.
Berbeda dengan kolam renang pada umumnya, bagian transparan Sky Pool memberikan sensasi seolah berenang di atas Samudra Hindia. Dari sisi kolam, pengunjung dapat melihat bentang laut tidak hanya di kejauhan, tetapi juga tepat di bawahnya.
Pengalaman menikmati lanskap Uluwatu juga dihadirkan melalui fasilitas spa dengan dinding kaca yang menghadap laut, serta teras vila dan ruang terbuka yang menawarkan panorama pesisir dari berbagai sudut.
Namun, daya tarik The edge Bali tidak hanya berada di atas tebing. Di bawah area resor, terdapat gua kapur alami yang dikembangkan menjadi restoran fine dining bernama The cave by Chef Ryan Clift.
Gua tersebut ditemukan ketika pembangunan resor berlangsung. Alih-alih ditutup atau diubah menjadi bangunan konvensional, ruang alami itu dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai tempat bersantap dengan konsep yang memadukan kuliner, lanskap geologis, dan teknologi visual.
Untuk mencapai restoran, pengunjung harus menuruni tangga spiral menuju bagian dalam gua. Di sana, pengalaman bersantap berlangsung di antara formasi batuan kapur dan stalaktit yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun.
Restoran ini menghadirkan menu degustasi yang terdiri atas beberapa hidangan racikan Chef Ryan Clift, koki kelahiran Inggris yang dikenal melalui restoran Tippling Club di Singapura.
Selain menikmati hidangan, pengunjung disuguhi proyeksi visual pada dinding gua yang menjadi bagian dari pengalaman bersantap. Jumlah tamu dibatasi untuk mempertahankan suasana yang lebih intim.
Di tengah rangkaian makan malam, pengunjung juga mendapat kesempatan menjelajahi bagian lain gua dengan mengenakan helm keselamatan. Mereka dapat melihat sejumlah ruang berukuran lebih kecil sebelum kembali melanjutkan santapan.
General Manager The edge Bali, Greg Hoehn, mengatakan karakter alam Uluwatu menjadi elemen penting dalam pengembangan berbagai pengalaman yang ditawarkan resor tersebut.
“Lanskap Uluwatu selalu menjadi bagian penting dalam perkembangan The edge. Alih-alih mencoba menyaingi keindahan tebing di sekitarnya, kami terus mencari cara berbeda untuk menikmatinya, baik dengan berenang di atasnya, bangun dengan pemandangannya, merayakan momen istimewa di atas tebing, maupun menikmati makan malam di bawahnya,” ujar Greg dalam keterangannya.
Selain fasilitas rekreasi dan kuliner, The edge Bali mengusung konsep akomodasi dengan jumlah vila terbatas untuk menjaga privasi pengunjung.
Delapan vila yang tersedia memiliki desain, kapasitas, dan fasilitas berbeda. Vila terkecil diperuntukkan bagi dua orang, sedangkan vila terbesar memiliki lima kamar tidur yang dilengkapi bioskop pribadi, wine cellar, dan cigar lounge.
Salah satu vila, The Shore, memiliki dua kamar tidur serta fasilitas gaming room. Vila lainnya dilengkapi kolam koi dan ruang hiburan anak. Setiap vila juga menawarkan kolam renang pribadi serta area dalam dan luar ruangan yang luas.
Dengan total 17 kamar tidur di seluruh kompleks, konsep akomodasi tersebut menyasar wisatawan yang mengutamakan privasi, baik pasangan, keluarga, maupun rombongan kecil. Layanan butler selama 24 jam turut menjadi bagian dari fasilitas yang tersedia.
Untuk menunjang aktivitas selama menginap, resor ini juga menyediakan The Club yang dilengkapi lapangan tenis, arena boling dua jalur, meja biliar, ruang karaoke privat, serta ruang pertemuan.
Pemanfaatan lanskap tebing Uluwatu juga menjadi bagian dari pengembangan wisata pernikahan atau destination wedding. The edge Bali menyediakan sejumlah area terbuka yang menghadap Samudra Hindia untuk penyelenggaraan seremoni dan perayaan.
Kapasitas acara bervariasi, mulai dari pernikahan intim dengan sekitar 10 tamu hingga perayaan yang melibatkan 200 orang. Area taman dan teras di sekitar tebing menjadi pilihan lokasi untuk berbagai konsep acara.
Ketersediaan vila privat memungkinkan pasangan dan keluarga menggabungkan perayaan pernikahan dengan pengalaman menginap selama beberapa hari. Dengan demikian, aktivitas bersama keluarga dan sahabat dapat berlangsung sebelum maupun setelah seremoni utama.
Di sisi operasional, The edge Bali juga menerapkan sejumlah inisiatif keberlanjutan, termasuk pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah makanan, penanaman sebagian bahan pangan di area resor, daur ulang minyak jelantah, serta pengurangan plastik sekali pakai.
Pengelola turut menjalin kemitraan yang diarahkan untuk mendukung komunitas lokal dan pelestarian lingkungan Bali. (E-1)
