Friday, October 16

Kemitraan Industri Dorong Pemasok Lokal Naik Kelas dan Perluas Lapangan Kerja


Aktivitas McDonald’s Indonesia telah menciptakan efek berganda bagi perekonomian lokal di berbagai daerah seiring pertumbuhan bisnis, termasuk dengan pembukaan lapangan kerja di berbagai sektor.(Dok. McDonald’s Indonesia)

KEMITRAAN jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal memiliki peran penting dalam memperkuat daya saing industri nasional. Selain memberikan kepastian permintaan, hubungan bisnis yang berkelanjutan dapat membuka akses terhadap transfer pengetahuan, peningkatan standar produksi, serta perluasan kapasitas usaha yang berdampak pada penciptaan lapangan kerja.

Guru Besar bidang Strategic Management dan Marketing dari Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika Serikat, Mochammad Mukti Ali, menilai hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pemasok lokal dapat menjadi sarana peningkatan kapabilitas usaha atau supplier upgrading.

Menurutnya, keberadaan industri restoran cepat saji atau quick service restaurant (QSR) turut menciptakan efek berganda terhadap perekonomian karena melibatkan berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, pengolahan pangan, distribusi, hingga jasa pendukung.

“Ketika pemasok memiliki hubungan jangka panjang dengan perusahaan, mereka tidak hanya mendapatkan akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dengan standar, pengetahuan, serta praktik operasional yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat memperkuat kapabilitas pemasok dan membantu mereka mengembangkan bisnis secara lebih berkelanjutan,” ujar Mukti Ali dalam keterangannya, Kamis (15/10).

Salah satu contoh kemitraan tersebut terlihat dalam pengembangan rantai pasok McDonald’s Indonesia yang selama 35 tahun menjalin kerja sama dengan ratusan pemasok dalam negeri.

Saat ini, sekitar 86% dari total belanja pemasok McDonald’s Indonesia dialokasikan kepada mitra lokal. Sementara itu, sekitar 76% bahan baku yang digunakan berasal dari pemasok dalam negeri, termasuk sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng.

Khusus bahan baku ayam, seluruh kebutuhan restoran dipasok oleh peternak lokal dengan pengiriman dalam kondisi segar setiap hari. Kemitraan tersebut menopang kebutuhan operasional lebih dari 300 restoran McDonald’s Indonesia sekaligus memberikan peluang bagi pemasok untuk meningkatkan standar produksi dan memperluas skala bisnis.

Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food, Ronni Rombe, mengatakan hubungan perusahaan dengan pemasok tidak hanya berorientasi pada transaksi pembelian, tetapi juga pengembangan kapasitas usaha dalam jangka panjang.

“Hubungan McDonald’s Indonesia dengan para mitra bukan sekadar membeli, tapi diawali niat kuat agar dapat tumbuh bersama. Membawa semangat ‘Sepenuhnya Indonesia’, kami secara konsisten membina ratusan mitra melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, hingga study visit sampai ke luar negeri,” jelas Ronni.

Menurutnya, proses pembinaan tersebut mencakup penerapan standar kualitas global, termasuk aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan. Dengan peningkatan kapabilitas tersebut, pemasok diharapkan mampu memperkuat daya saing secara mandiri, termasuk dalam melayani pelanggan di luar jaringan McDonald’s.

Salah satu pemasok yang menjalani kemitraan jangka panjang adalah PT Ciomas Adisatwa, bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (Japfa Group), yang bergerak di bidang budi daya unggas komersial. Perusahaan tersebut telah bekerja sama dengan McDonald’s Indonesia selama lebih dari tiga dekade. 

Dalam perjalanannya, standar operasional dan proses audit yang diterapkan menjadi salah satu referensi untuk meningkatkan kualitas produksi.

Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa, Rendhiq Ramadhan, mengatakan penerapan standar dari mitra bisnis turut mendorong perusahaan menjalankan perbaikan operasional secara berkelanjutan.

“Standar yang diterapkan McDonald’s Indonesia menjadi salah satu referensi eksternal untuk terus melakukan continuous improvement. Proses audit berkala mendorong kami untuk memastikan Standard Operating Procedure (SOP) dijalankan secara tepat dan konsisten,” ujar Rendhiq.

Menurutnya, peningkatan standar tersebut tidak hanya bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan McDonald’s Indonesia, tetapi juga menjadi dasar pengembangan bisnis untuk melayani pelanggan lainnya.

Dampak kemitraan juga dirasakan pemasok yang mengawali usaha dari skala kecil. Salah satunya Made Gunada, petani asal Bali yang mulai bekerja sama dengan McDonald’s Indonesia pada 1993.

Berawal dari sebidang lahan pertanian, usaha Made berkembang hingga menjangkau Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Saat ini, usaha pertaniannya memasok kebutuhan lebih dari 50% restoran McDonald’s Indonesia.

“Ketika memulai kerja sama, saya tidak menyangka sebuah perusahaan besar mau membuka pintu bagi seorang petani kecil dengan berbagai keterbatasan. Namun, sejak awal kemitraan, saya merasakan sendiri bagaimana McDonald’s Indonesia memberikan kepercayaan sekaligus pendampingan,” kata Made.

Pendampingan tersebut mencakup dukungan teknis hingga peningkatan fasilitas pertanian. Seiring perkembangan usaha, aktivitas pertanian yang dijalankannya juga melibatkan ratusan petani di berbagai wilayah.

Made mengatakan kemitraan tersebut memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat sekitar, termasuk membuka peluang pekerjaan di sektor pertanian.

“Dampak ekonomi dari kemitraan ini tidak hanya dirasakan oleh usaha kami, tetapi juga oleh masyarakat lokal yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian. Bahkan, beberapa anak petani mulai melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan pilihan untuk ditekuni,” ungkapnya.

Kontribusi rantai pasok terhadap perekonomian juga tecermin dalam studi independen Oxford Economics untuk periode April 2024 hingga Maret 2025. Studi tersebut mencatat aktivitas McDonald’s Indonesia turut mendukung sekitar 48.700 lapangan kerja di berbagai sektor ekonomi.

Dalam kajian yang sama, setiap 100 karyawan McDonald’s Indonesia disebut turut mendukung hingga 330 lapangan kerja tambahan di sektor lain, termasuk pertanian, distribusi, dan jasa pendukung.

Gambaran efek berganda tersebut antara lain terlihat di fasilitas produksi Padahanten Farm milik PT Ciomas Adisatwa di Majalengka, Jawa Barat. Peternakan itu mempekerjakan 41 pekerja tetap dan membutuhkan lebih dari 50 tenaga kerja tambahan pada periode tertentu, terutama untuk kegiatan panen dan bongkar muat.

Sementara itu, fasilitas rumah potong ayam PT Japfa Food Indonesia dapat menyerap sekitar 400 hingga 1.500 pekerja per fasilitas.

Head of Quality Assurance PT Japfa Food Indonesia, Achmad Novel, mengatakan pertumbuhan permintaan dari mitra bisnis turut mendorong kebutuhan tenaga kerja sekaligus peningkatan keterampilan pekerja.

“Kebutuhan McDonald’s Indonesia yang terus meningkat turut berkontribusi dalam mendorong kami membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar fasilitas,” ujarnya.

Selain memperoleh pekerjaan, para pekerja juga mendapatkan pemahaman mengenai standar operasional industri pangan, termasuk penerapan prinsip halalan tayyiban, keamanan pangan, serta animal health welfare atau kesejahteraan hewan.

Menurut Achmad, pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas karena berpotensi diterapkan dalam aktivitas ekonomi maupun lingkungan masyarakat.

Pengalaman sejumlah pemasok tersebut memperlihatkan bahwa hubungan bisnis jangka panjang dapat memberikan dampak melampaui transaksi pembelian bahan baku.

Melalui peningkatan standar produksi, pengembangan kapasitas usaha, serta perluasan jaringan pemasok, kemitraan industri berpotensi memperkuat daya saing pelaku usaha lokal sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi dan kesempatan kerja di berbagai daerah. (E-1)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *