
KECAKAPAN digital merupakan satu dari empat pilar literasi digital yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika lewat Road Map Literasi Digital 2020-2024. Cakap digital berkaitan dengan digital skill, yaitu kemampuan memahami perangkat lunak dan perangkat keras TIK, berikut sistem operasi digital.
Kecakapan digital menjadi penting karena menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta jiwa dari total populasi 278,7 juta jiwa penduduk Indonesia.
Seiring perkembangan teknologi, era digital sudah merambah ke seluruh sendi kehidupan sehingga kompetensi terkait sangat penting dimiliki, termasuk oleh siswa. Dengan memiliki kecakapan digital, tugas sekolah jadi lebih mudah dikerjakan, salah satunya karena akses informasi menjadi tanpa batas. Selain itu, dengan kecakapan digital membuat pengelolaan waktu yang lebih baik, kemampuan otomatisasi, dan memungkinkan pengembangan keterampilan baru.
Baca juga : Edisi ke-32 Digital Transformation Summit Hadir di Jakarta, Menyatukan Pemimpin Teknologi dan Inovasi
”Membuat tugas akan menjadi lebih mudah jika siswa juga memiliki kompetensi kecakapan digital terkait Artificial Intelligence (AI),” ujar pegiat literasi digital Indonesia Moh. Rouf Azizi dalam webinar literasi digital untuk segmen pendidikan yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Dinas Pendidikan Kepulauan Riau, Rabu (9/10).
Dalam diskusi online bertajuk ”Bikin Tugas Lebih Mudah Bila Cakap Digital”, Rouf menegaskan, AI dalam dunia pendidikan telah membawa banyak perubahan positif yang mempermudah dan memperkaya pengalaman belajar.
”Teknologi ini tidak hanya meningkatkan cara kita mengajar dan belajar, tetapi juga memperluas akses pendidikan yang lebih inklusif dan personal,” jelas Rouf dalam keterangannya.
Baca juga : AI Tak Bisa Gantikan Pentingnya Kemampuan Berbahasa Inggris di Dunia Profesional
Pengaplikasian teknologi AI dalam format pendidikan, menurut Rouf, dapat menghasilkan inovasi, seperti komputer, mesin, dan hal lainnya yang memiliki kemampuan kognitif manusia, beradaptasi, dan pengambilan keputusan.
”Manfaat dari AI dapat diaplikasikan ke dalam bidang pendidikan. AI, yang awalnya berbentuk komputer dan teknologi terkait komputer, sekarang dapat beralih ke sistem pendidikan cerdas berbasis website dan online,” terang Rouf .
Rouf menambahkan, peran AI dalam dunia pendidikan telah mengubah lanskap pendidikan, memungkinkan pembelajaran yang lebih adaptif, personalisasi konten, dan efisien administrasi.
”Penerapan AI di sekolah dan universitas menciptakan peluang besar untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa,” imbuh Rouf di hadapan siswa yang mengikuti acara diskusi dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.
Baca juga : Indonesia Negara Pertama ASEAN yang Selesaikan Penilaian AI
Senada, dosen Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung (UIN SATU) Deny Yudiantoro mengatakan, penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran siswa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
”Kelebihannya, informasi tidak terbatas, lebih mudah, nyaman bagi generasi Z, efektif dan efisien. Kekurangannya, kemungkinan terjadinya pelanggaran HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), siswa mudah terdistraksi, kemungkinan penyalahgunaan teknologi,” jelas Deny.
Sementara, Ketua Program Studi S1 Kewirausahaan Universitas Maarif Hasyim Latif, Sidoarjo, M. Adhi Prasnowo mengingatkan siswa pengguna digital untuk waspada terhadap keamanan digital. Untuk itu, kompetensi keamanan digital perlu dikuasai.
”Waspadai phising atau pengelabuan untuk mendapatkan data informasi, dan scam atau penipuaan melalui telepon atau email. Contohnya, peretasan akun, impersonasi, penjual palsu, lowongan kerja palsu, maupun modus percintaan,” pungkas Adhi. (B-3)
