Wednesday, September 30

Hotspot High Confidence Naik, Kemenhut Perkuat Penanganan Karhutla


Karhutla.(Antara)

KEMENTERIAN Kehutanan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul peningkatan titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Hingga 29 September 2026 pukul 21.10 WIB, terdeteksi 893 hotspot secara nasional, naik dari 365 titik pada sehari sebelumnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan peningkatan hotspot menjadi perhatian, terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Perkembangan tersebut menjadi perhatian terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah yang mencatat jumlah hotspot terbesar di antara enam provinsi prioritas. Tim di lapangan terus melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan respons yang diperlukan,” kata Ristianto, Rabu (30/9).

Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, di Sumatra Selatan tercatat 266 hotspot, meningkat dari 96 titik. Sementara di Kalimantan Tengah terdapat 132 titik, naik dari 37 titik.

Pada empat provinsi prioritas lainnya, hotspot high confidence tercatat 75 titik di Jambi, 30 titik di Kalimantan Barat, dan 28 titik di Kalimantan Selatan. Adapun Riau masih nihil hotspot high confidence.

Ristianto menjelaskan, hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

“Hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan,” ujarnya.

Untuk memperkuat penanganan, operasi darat dan udara terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.

Sebanyak 61 unit armada udara disiagakan untuk mendukung pengendalian karhutla. Armada tersebut terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Sebanyak 55 unit armada ditempatkan untuk mendukung enam provinsi prioritas, sementara armada lainnya dikerahkan sesuai kebutuhan di wilayah terdampak.

Operasi udara berjalan bersamaan dengan patroli darat, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan. Penanganan di lahan gambut menjadi perhatian khusus karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di permukaan telah berkurang.

Di sisi lain, karhutla juga berdampak terhadap satwa liar dan habitatnya. Kementerian Kehutanan mencatat 254 individu satwa dalam keseluruhan data penanganan dampak bencana alam sepanjang 2026 hingga 29 September.

Penanganan tersebut mencakup rescue atau evakuasi, pemeriksaan dan perawatan, rehabilitasi, translokasi, pelepasliaran, hingga penggiringan satwa menuju habitat yang lebih aman.

Satwa yang tercatat mendapatkan penanganan antara lain orangutan Kalimantan, bekantan, trenggiling, kukang, kucing kuwuk, lutung kelabu, beruang madu, dan berbagai jenis satwa liar lainnya.

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan satwa liar terdampak kebakaran, terluka, terjebak, atau memasuki permukiman untuk tidak melakukan penanganan secara mandiri.

“Masyarakat diminta menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, serta segera melaporkannya kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat,” pungkas Ristianto. (Ata/P-3)



Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *