
MERESPONS tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina, sejumlah kelompok masyarakat di Indonesia melakukan gerakan boikot produk-produk yang dianggap terafiliasi Israel untuk memberikan tekanan agar Israel menghentikan aksi militernya.
Namun, alih-alih membuat Israel menghentikan serangannya, gerakan tersebut memberikan dampak langsung ke dalam negeri, yang membuat sejumlah merek yang dituduh terafiliasi mengalami kerugian. Akibatnya, kerugian yang dialami perusahaan karena aksi boikot juga mulai berdampak pada ekosistem rantai pasokan termasuk petani kecil.
Berbicara mengenai polemik tersebut, dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta, Ludiro Madu, menilai ada missing link dalam asumsi yang mengatakan penurunan penjualan produk bakal memengaruhi penghentian aksi militer Israel ke Palestina. “Gerakan ini tidak serta merta mampu menekan Israel untuk berhenti menyerang Gaza,” ujarnya.
Ludiro menjelaskan pemerintah Indonesia juga tidak pernah secara resmi memboikot produk tertentu. “Ini artinya Indonesia lebih memilih jalur diplomasi melalui Kementerian Luar Negeri untuk secara tegas tidak mengamini aksi militer Israel,” ungkap Ludiro.
Ludiro menambahkan jika memang gerakan ini berlangsung luas dan dalam jangka waktu lama, masyarakat Indonesia sendiri yang akan merasakan imbasnya terlebih dahulu.
“Misalnya gerakan anti terhadap produk terafiliasi Israel dilakukan pada merek tertentu restoran cepat saji atau sejumlah produk fast moving consumer goods (FMCG). Apakah, kemudian unit usaha ini harus sampai tutup hingga karyawannya terpaksa dirumahkan? Petani, peternak, nelayan harus merugi?” imbuh Ludiro.
Untuk menghindari dampak yang meluas ke sektor-sektor lain, Ludiro menilai perlu ada pemahaman komprehensif mengenai situasi yang terjadi di Palestina. “Hal ini tidak dipikirkan banyak orang yang menyuarakan gerakan itu. Seharusnya ada pengetahuan jelas dan komprehensif mengenai konflik Israel-Palestina,” pungkas Ludiro.
Suara pemboikotan
Saat ini, mahasiswa di berbagai daerah seperti Jakarta, Bogor, Banten, Bandung, Pekalongan dan lainnya kembali menyuarakan pemboikotan produk yang terafiliasi dengan Israel, bertepatan dengan satu tahun dikeluarkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No.83 tentang Dukungan Terhadap Palestina.
Koordinator Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat Palestina (SMURP), Andrian mengatakan pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat diberbagai daerah untuk melanjutkan boikot segala jenis bentuk produk yang terafiliasi ke Israel.
“Kami sengaja melakukan aksi pemasangan spanduk boikot produk terafiliasi Israel untuk mengingatkan masyarakat Indonesia. Tolong jangan lupakan Palestina karena genosida belum selesai. Aksi boikot produk menjadi salah satu tindakan yang dapat kita lakukan dan terbukti efektif untuk menekan ruang gerak perusahaan terafiliasi Israel,” kata Andrian dalam keterangan resminya, Jumat (15/11).
Dia menjelaskan bahwa para mahasiswa membentangkan spanduk yang berisi Lima Kriteria Produk Terafiliasi Israel berdasarkan panduan dari MUI serta menampilkan produk-produk terafiliasi Israel agar dihindari oleh masyarakat yang berlangsung di area kampus.
Produk terafiliasi Israel di antaranya Starbucks, Danone Aqua, Nestle, Zara, Kraft Heinz, Unilever, Coca Cola Group, McDonalds, Mondelez, Burger King dan lain sebagainya.
Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Muhammad Anis Matta menyerukan supaya komunitas internasional memutus segala bentuk hubungan ekonomi dengan Israel untuk menekan negara itu menghentikan
agresinya terhadap bangsa Palestina.
Hal tersebut disampaikan Anis sebagai usulan aksi bersama menghentikan genosida di Palestina dalam KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI)-Liga Arab di Riyadh, Arab Saudi, Senin (11/11), sebagaimana dipantau melalui kanal YouTube KBRI di Riyadh.
“Kami menyerukan untuk melanjutkan pemutusan hubungan ekonomi, perdagangan, dan investasi dengan Israel serta perusahaan-perusahaan yang terkait dengan Zionisme global,” ucap Anis. (Ant/N-2)
