
KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang semakin cepat. Teknologi ini sudah masuk ke berbagai aktivitas manusia. Mulai dari pendidikan, bisnis, hingga dunia kerja.
Bagi generasi Z, perkembangan tersebut bukan sesuatu yang asing. Mereka tumbuh bersama internet, smartphone, dan media sosial. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ada satu pertanyaan penting. Apakah terbiasa menggunakan teknologi berarti generasi Z sudah siap menghadapi perubahan dunia kerja? Jawabannya belum tentu.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Angka ini menunjukkan bahwa teknologi digital semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang paling akrab dengan perkembangan tersebut. Internet digunakan untuk belajar, mencari informasi, berkomunikasi, hingga mencari pekerjaan. Masalahnya, kemampuan menggunakan teknologi sehari-hari berbeda dengan kemampuan memanfaatkannya secara produktif.
AI mengubah dunia kerja
AI mampu membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan dengan lebih cepat. Membuat tulisan, merangkum dokumen, mengolah data, menerjemahkan bahasa, hingga membuat ide konten dapat dilakukan dengan bantuan AI. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran. Banyak orang bertanya apakah AI akan menggantikan pekerja manusia.
International Labour Organization (ILO) memberikan gambaran yang lebih kompleks. Menurut ILO, AI generatif lebih mungkin mengubah pekerjaan dari pada menghilangkan seluruh pekerjaan. Artinya, bukan selalu profesinya yang hilang. Sebagian tugas dalam pekerjaan tersebut yang dapat berubah atau diotomatisasi.
Melek teknologi saja tidak cukup
Kemampuan berpikir analitis tetap menjadi salah satu keterampilan penting. Sementara itu, AI dan big data serta literasi teknologi termasuk keterampilan yang kebutuhannya berkembang cepat.
Hal ini menjadi tantangan bagi generasi Z. Menguasai AI memang penting. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan bersama kemampuan berpikir kritis. Manusia tetap harus memeriksa informasi. Sumber perlu diperiksa. Konteks juga harus dipahami. Karena itu, generasi Z tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka juga harus mampu menjadi pengguna teknologi yang kritis dan produktif.
Tantangan memasuki dunia kerja
Persaingan di dunia kerja sebenarnya sudah menjadi tantangan sebelum AI berkembang pesat. BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Agustus 2025 sebesar 4,85 persen. Pada kelompok usia 15-24 tahun, tingkat penganggurannya sekitar 16,69 persen.
Data tersebut tidak berarti seluruh persoalan disebabkan oleh kemampuan anak muda. Kondisi ekonomi dan terbatasnya lapangan kerja juga memiliki peran. Namun, perubahan kebutuhan industri membuat peningkatan keterampilan semakin penting. Generasi Z perlu memiliki lebih dari sekadar ijazah. Pengalaman, kemampuan komunikasi, portofolio, dan keterampilan digital dapat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyampaikan bahwa adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92 persen pada Februari 2026. Namun, pemerintah masih melihat kesiapan keterampilan AI sebagai tantangan.
Tidak semua harus jadi ahli AI
Menghadapi AI tidak berarti semua orang harus menjadi programmer. Kuncinya adalah memahami bagaimana teknologi dapat membantu bidang yang ditekuni. Generasi Z perlu bergerak dari sekadar menggunakan teknologi menuju kemampuan menggabungkan teknologi dengan keahlian yang dimiliki. Kemampuan tersebut akan menjadi semakin penting ketika perusahaan mulai mengubah cara kerja mereka.
Jangan bergantung pada AI
Ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Kemudahan AI dapat membuat manusia terlalu bergantung pada teknologi. Mahasiswa dapat meminta AI mengerjakan tugas. Pekerja dapat meminta AI membuat laporan. Bahkan ide pun dapat diserahkan sepenuhnya kepada teknologi. Jika dilakukan terus-menerus, kemampuan berpikir mandiri dapat berkurang.
Karena itu, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu. Bukan sebagai pengganti proses berpikir. AI dapat membantu mencari ide. Manusia tetap harus memilih ide yang tepat. AI dapat membuat tulisan. Manusia tetap harus memeriksa isinya. AI dapat menganalisis data. Manusia tetap harus memahami hasilnya. Dengan cara tersebut, teknologi dapat meningkatkan kemampuan manusia tanpa menghilangkan peran manusia.
Penutup
Perkembangan AI tidak perlu selalu dipandang sebagai ancaman. Teknologi juga membuka peluang baru. Pekerjaan baru dapat muncul. Cara bekerja menjadi lebih fleksibel. Proses belajar menjadi lebih mudah.
Produktivitas juga dapat meningkat. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika generasi Z mau terus belajar. Tidak harus menguasai semua teknologi. Yang penting adalah memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika teknologi berubah. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kerja sama, dan pemecahan masalah tetap perlu dikembangkan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah generasi Z dapat mengalahkan AI. AI memang memiliki kemampuan yang sangat cepat. Tetapi manusia memiliki pengalaman, nilai, empati, dan tanggung jawab. Generasi Z tidak harus bersaing melawan AI. Mereka perlu belajar bekerja bersama AI.
