
PESTA seni bergengsi dunia, Venice Biennale, diguncang krisis besar setelah seluruh anggota jurinya memutuskan untuk mengundurkan diri secara massal. Keputusan dramatis ini diambil hanya sembilan hari sebelum peresmian acara, sebagai bentuk protes atas kembalinya Rusia dalam ajang tersebut sejak invasi skala penuh ke Ukraina dimulai.
Dalam pernyataan singkatnya, tim juri menegaskan langkah ini sejalan dengan keputusan mereka sebelumnya untuk tidak mempertimbangkan negara mana pun yang pemimpinnya tengah didakwa atas kejahatan terhadap kemanusiaan untuk mendapatkan penghargaan. Keputusan ini secara langsung merujuk pada keikutsertaan Rusia dan Israel dalam pameran tahun ini.
Penolakan dari Pemerintah Italia dan Uni Eropa
Kehadiran kembali Rusia memicu ketegangan politik yang luas. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap partisipasi Moskow.
“Mengizinkan Rusia untuk ikut serta adalah keputusan yang tidak didukung oleh pemerintah,” tegas Meloni. Meski demikian, ia menambahkan pihak Biennale bersifat otonom dalam mengambil kebijakan.
Tekanan juga datang dari Uni Eropa yang membatalkan dana hibah sebesar dua juta Euro sebagai bentuk protes. Uni Eropa menilai kembalinya Rusia adalah tindakan yang “salah secara moral”, mengingat upaya Moskow yang terus berusaha menghapus budaya Ukraina melalui invasi militer.
Sengketa Paviliun dan Boikot
Pihak penyelenggara Biennale membela diri dengan menyatakan mereka “menolak segala bentuk eksklusi atau sensor”. Mereka berargumen tidak memiliki dasar hukum untuk melarang Rusia, mengingat negara tersebut adalah pemilik sah paviliunnya sendiri.
Sebagai catatan, pada tahun 2022, paviliun Rusia dibiarkan kosong setelah kurator dan senimannya mengundurkan diri sebagai bentuk protes terhadap Vladimir Putin. Namun tahun ini, Rusia berencana menampilkan karya pertunjukan suara berjudul The Tree is Rooted in the Sky.
Kementerian Kebudayaan Italia saat ini dikabarkan tengah menginvestigasi apakah partisipasi Rusia tersebut melanggar sanksi internasional yang sedang berlaku.
Sorotan terhadap Israel
Selain Rusia, posisi Israel di ajang ini juga menuai kecaman juri. Sebagaimana diketahui, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi Perdana Menteri Israel atas dugaan tanggung jawab kriminal dalam kejahatan perang di tengah konflik dengan Hamas.
Kementerian Luar Negeri Israel menanggapi keputusan juri yang mengecualikan mereka dari daftar kandidat pemenang sebagai “kontaminasi terhadap dunia seni.”
Dampak terhadap Acara
Sedianya, para juri akan mengumumkan serangkaian pemenang penghargaan pada inaugurasi tanggal 9 Mei mendatang. Namun, akibat pengunduran diri massal ini, upacara penganugerahan resmi telah dibatalkan. Sebagai gantinya, pihak penyelenggara akan memberikan kesempatan kepada para pengunjung untuk memberikan suara secara langsung guna menentukan paviliun favorit mereka. (BBC/Z-2)
